Antrean Panjang di Jembatan Bailey Teupin Reudeup–Awee Geutah, Usulan Sistem Jadwal Penyeberangan Dinilai Solusi Efektif

Breakingnews134 Dilihat

Bireuen – Antrean kendaraan yang mengular panjang di Jembatan Bailey Teupin Reudeup–Awee Geutah dalam beberapa waktu terakhir terus menjadi keluhan masyarakat. Kondisi ini terjadi seiring masih terbatasnya akses jalan pascabencana, ditambah kondisi jembatan sementara yang hanya memungkinkan arus lalu lintas berjalan secara terbatas dan bergantian.

Menanggapi persoalan tersebut, muncul sebuah gagasan yang dinilai cukup solutif dari Tgk Meuraksa T. Ia mengusulkan penerapan sistem pengaturan waktu atau jadwal penyeberangan harian untuk masing-masing arah lalu lintas di jembatan Bailey tersebut.

Menurut Tgk Meuraksa, pengaturan arus bisa dilakukan dengan skema pembagian waktu secara jelas dan terjadwal, baik dalam rentang satu hari penuh (1×24 jam) maupun per 12 jam untuk setiap arah. Dengan sistem ini, satu arah dibuka penuh sesuai jadwal yang telah ditentukan, kemudian bergantian dengan arah sebaliknya.

“Dengan adanya jadwal yang jelas, masyarakat yang hendak melintas bisa memantau dan menyesuaikan waktu perjalanan mereka. Ini jauh lebih efektif untuk menghindari kemacetan berjam-jam di sekitar jembatan,” ujarnya.

Ia menilai, kondisi jalan menuju dan di sekitar jembatan Bailey masih tergolong labil, dengan ruas jalan yang sempit dan rawan terganggu bila terjadi penumpukan kendaraan. Antrean panjang bukan hanya memperlambat mobilitas warga, tetapi juga berpotensi menghambat aktivitas ekonomi, distribusi logistik, serta pelayanan sosial lainnya.

Selain itu, kemacetan di titik jembatan kerap berdampak domino, mulai dari terganggunya kendaraan umum, aktivitas perdagangan, hingga meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas akibat kendaraan saling berebut ruang di akses sempit.

Tgk Meuraksa berharap, usulan ini dapat menjadi bahan pertimbangan teknis bagi Pemerintah Kabupaten Bireuen, khususnya Bupati Bireuen Mukhlis Takabeya dan Wakil Bupati Razuardi Essek, agar segera dirumuskan kebijakan pengaturan lalu lintas yang lebih tertib dan terencana di lokasi tersebut.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, termasuk peran aparat kepolisian melalui Polres Bireuen dan Satlantas Polres Bireuen, untuk memastikan penerapan jadwal berjalan efektif di lapangan serta dipatuhi oleh pengguna jalan.

“Yang terpenting, untuk kondisi darurat atau emergency, tetap harus menjadi prioritas utama. Ambulans, kendaraan evakuasi, dan layanan darurat lainnya tidak boleh terhambat oleh sistem apa pun,” tegasnya.

Masyarakat menilai, jika diterapkan dengan sosialisasi yang baik dan pengawasan yang konsisten, sistem jadwal penyeberangan ini berpotensi besar mengurai kemacetan, menciptakan ketertiban, serta memberikan kepastian waktu tempuh bagi pengguna jalan.

Hingga kini, antrean panjang di Jembatan Bailey Teupin Reudeup–Awee Geutah masih menjadi tantangan serius. Namun dengan adanya ide dan masukan dari masyarakat, diharapkan pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat segera mengambil langkah strategis demi kelancaran mobilitas dan keselamatan bersama.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *