ACEH – Upaya pencarian korban banjir bandang dan longsor di Aceh memasuki fase yang semakin genting. Setelah hampir dua minggu bencana memporak-porandakan sejumlah kabupaten, pemerintah Aceh akhirnya mendatangkan tim spesialis dari China untuk membantu menelusuri jenazah yang diduga masih terkubur di bawah lapisan lumpur tebal.
Tim beranggotakan lima orang itu telah mendarat di Aceh pada Sabtu (6/12). Mereka bukan tim biasa: mereka dibekali peralatan khusus yang mampu mendeteksi keberadaan mayat di bawah tanah bercampur lumpur—peralatan yang selama ini sangat dibutuhkan mengingat medan di lokasi bencana hampir mustahil diterobos secara manual.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, membenarkan kedatangan tim tersebut dan menegaskan bahwa langkah ini diambil karena situasi sudah berada pada titik kritis.
“Hari ini ada datang tim dari China, lima orang, untuk mendeteksi mayat yang ada di dalam lumpur. Mereka membawa alat-alat khusus untuk mengambil mayat-mayat itu,” ujar Mualem.
Lumpur Setinggi Pinggang, Banyak Korban Masih Terkubur
Menurut Mualem, sejumlah wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang menjadi zona paling mematikan akibat kombinasi banjir dan longsor besar. Di kawasan tertentu, lumpur bahkan mencapai tinggi sepinggang orang dewasa, membuat proses evakuasi manual hampir tidak mungkin dilakukan.
Tim SAR yang bekerja sejak hari pertama bencana terus menghadapi kesulitan: lumpur sangat kental, medan hancur, pepohonan tumbang, dan reruntuhan bangunan bercampur menjadi satu. Banyak lokasi yang diperkirakan menyimpan jenazah tak bisa diakses tanpa alat pendeteksi khusus.
“Kita menduga masih banyak korban yang tertimbun, tapi kita tidak tahu pasti di mana mereka,” kata Mualem. “Karena itu kita butuh bantuan teknologi.”
Harapan Baru di Tengah Pencarian yang Melelahkan
Kehadiran tim China disambut dengan harapan baru. Sudah beberapa hari warga dan relawan hanya bisa mengandalkan penciuman aroma tidak sedap dan pengamatan kasar untuk memperkirakan lokasi korban. Namun bau bangkai yang menyebar di banyak area membuat proses pencarian menjadi semakin rumit.
Peralatan yang dibawa tim China kabarnya mampu mendeteksi perubahan suhu tanah, pergerakan gas dari tubuh yang sudah tak bernyawa, hingga getaran khusus yang menunjukkan keberadaan objek organik di bawah permukaan. Teknologi ini diharapkan dapat mempercepat pencarian sebelum jenazah semakin sulit diidentifikasi.
Skala Bencana yang Masih Belum Terpetakan
Hingga saat ini, pemerintah belum dapat memastikan jumlah korban secara pasti. Banyak daerah masih terisolasi dan minim komunikasi. Sinyal telepon, listrik, hingga jalan penghubung rusak parah. Tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, relawan Aceh, dan masyarakat terus bergerak, namun tantangan di lapangan sangat besar.
Di tengah kondisi ini, bantuan internasional seperti dari China menjadi penopang penting. Selain membantu mempercepat identifikasi korban, kehadiran mereka menunjukkan bahwa perhatian dunia tertuju pada bencana besar yang melanda Aceh.
Perlombaan dengan Waktu
Pencarian korban kini menjadi perlombaan dengan waktu. Semakin lama jenazah terkubur lumpur, semakin sulit proses identifikasi dan evakuasinya. Risiko penyebaran penyakit pun mengancam karena bangkai hewan dan potensi jenazah manusia mulai membusuk di berbagai lokasi.
Dengan peralatan baru dan tenaga ahli dari luar negeri, pemerintah Aceh berharap proses pencarian dapat berjalan lebih efektif dan memberikan kepastian bagi keluarga korban yang masih menunggu kabar.
“Semoga kehadiran mereka mempercepat proses ini,” kata Mualem. “Kita ingin semua korban ditemukan dan bisa dimakamkan dengan layak.”(**)







