Gayo Lues — Jumlah warga yang mengungsi akibat banjir besar yang melanda Kabupaten Gayo Lues terus bertambah. Hingga Sabtu (29/11), total pengungsi telah menembus 10.000 jiwa dan tersebar di berbagai pos penampungan darurat. Kondisi ini menempatkan Gayo Lues dalam status darurat logistik, sebab persediaan kebutuhan dasar di lapangan kian menipis.
Banjir yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini merupakan salah satu yang terparah dalam satu dekade terakhir. Debit air yang terus naik membuat ribuan rumah warga terendam, sementara sejumlah jembatan dan akses jalan terputus. Proses evakuasi masih berlangsung dan sebagian wilayah hanya bisa diakses menggunakan perahu karet.
Posko Kewalahan, Logistik Mulai Habis
Banyak pengungsi kini hanya bergantung pada bantuan yang datang dari relawan serta stok terbatas di posko kecamatan. Sejumlah kepala desa melaporkan bahwa warga mulai kekurangan makanan siap saji, air bersih, selimut, tikar, susu bayi, dan obat-obatan. Di beberapa titik, makanan harus dibagi dalam porsi kecil karena jumlah pengungsi yang terus bertambah.
“Kami tidak bisa menunggu lebih lama. Banyak anak-anak dan lansia yang mulai sakit karena cuaca dingin dan sanitasi buruk,” ujar salah satu relawan di Blangkejeren.
Di sisi lain, jaringan komunikasi juga sempat terganggu akibat longsor yang memutus aliran listrik dan sinyal. Kondisi ini menyulitkan koordinasi bantuan antarwilayah.
Seruan Mendesak kepada Pemerintah Provinsi dan Pusat
Melihat cepatnya eskalasi jumlah pengungsi, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues mendesak Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat untuk segera mengirimkan dukungan logistik dalam skala besar. Bupati setempat menegaskan bahwa kapasitas daerah tidak lagi mampu menutupi kebutuhan ribuan warga yang tengah terdampak.
“Kami sangat membutuhkan tambahan tenaga dan suplai logistik. Ini bukan lagi situasi yang bisa ditangani kabupaten sendirian,” tegasnya.
Permintaan bantuan juga disampaikan karena beberapa wilayah terisolasi akibat putusnya jalan. Bantuan udara menggunakan helikopter dianggap menjadi solusi darurat jika kondisi tidak membaik.
Anak dan Lansia Paling Rentan
Di antara ribuan pengungsi, kelompok paling rentan adalah anak-anak, balita, ibu hamil, dan lansia. Banyak dari mereka harus tinggal dalam tenda darurat dengan kondisi seadanya. Beberapa orang mulai terserang demam, batuk, dan diare akibat minimnya fasilitas kesehatan.
Petugas medis di pos pengungsian memperingatkan potensi munculnya penyakit berbasis lingkungan seperti infeksi kulit, ISPA, hingga diare akut apabila pasokan obat dan air bersih tidak segera diperkuat.
Warga Khawatir Banjir Susulan
Cuaca di wilayah Gayo Lues masih tidak menentu. Hujan deras diperkirakan masih akan turun dalam beberapa hari mendatang. Warga yang mengungsi pun diliputi kecemasan akan kemungkinan banjir susulan, mengingat sungai di wilayah hulu masih dalam kondisi meluap.
Sebagian pengungsi bahkan mengaku tidak sempat menyelamatkan harta benda. Mereka hanya membawa pakaian seadanya karena air naik sangat cepat.
Harapan di Tengah Krisis
Di tengah situasi darurat ini, sejumlah komunitas, relawan lokal, dan organisasi kemanusiaan telah bergerak menggalang bantuan. Namun upaya itu belum sebanding dengan tingginya kebutuhan ribuan pengungsi.
Masyarakat Gayo Lues berharap pemerintah bergerak cepat dan sigap, mengingat bencana kali ini telah memberikan dampak sosial yang luas serta mengancam stabilitas kehidupan warga dalam jangka panjang.(**)






