Dailymailindonesia.com, Di tengah gemuruh dentuman senapan dan langkah kaki serdadu kolonial, Aceh melahirkan satu figur perempuan yang sulit ditaklukkan: Pocut Baren. Bangsawan perempuan dari Tungkop, Aceh Barat, ini memilih meninggalkan kenyamanan hidup feodal demi satu pilihan besar—melawan penjajah. Kisahnya bukan hanya catatan perang, tetapi perjalanan tentang keyakinan, keberanian, dan harga diri rakyat Aceh.
Lahir di Tengah Api Perang
Pocut Baren lahir sekitar tahun 1880 di Kemukiman Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat. Ayahnya, Teuku Cut Amat Tungkop, adalah seorang uleebalang berpengaruh. Sejak kecil, ia hidup bersama suara letusan senjata, jeritan rakyat, dan kobaran semangat perlawanan yang tertanam kuat di keluarganya.
Dibesarkan dengan pendidikan agama dan budaya kepahlawanan, Pocut Baren tumbuh menjadi perempuan dengan mental baja—teguh, tegas, dan tidak tunduk pada kekuatan siapa pun selain Tuhan.
Bangkit Menjadi Panglima Perang
Ketika tekanan Belanda makin kuat di Aceh Barat, banyak bangsawan memilih bertahan atau berkompromi. Namun Pocut Baren mengambil keputusan berbeda:
ia turun langsung ke medan perang, memimpin pasukan, dan mengatur strategi gerilya dari hutan ke hutan.
Setelah suaminya—seorang uleebalang dari Geume—gugur dalam pertempuran di Woyla, Pocut Baren tidak tenggelam dalam duka. Ia justru menggantikan posisi suaminya sebagai panglima, memimpin perlawanan gerilya di pedalaman Aceh Barat.
Ia mendirikan markas-markas tersembunyi, termasuk di Gua Gunong Mancang, wilayah yang sulit dijangkau Belanda. Dari sanalah serangan mendadak dilancarkan, membuat tentara kolonial kewalahan.
Taktik Gerilya yang Mengguncang Belanda
Salah satu strategi perlawanan yang terkenal adalah saat Pocut Baren memerintahkan pasukannya menggulingkan batu-batu besar ke arah tentara Belanda yang sedang menanjak bukit untuk mengepung markasnya.
Posisi hutan, tebing, dan medan curam ia manfaatkan sebagai senjata.
Belanda kemudian membalas dengan cara ekstrem:
mereka mengalirkan ribuan kaleng minyak tanah ke mulut gua, lalu membakarnya—tanda bahwa mereka menghadapi musuh yang tak mudah ditundukkan.
Dalam sebuah patroli di Kuala Bhee yang dipimpin Letnan Hoogers, persembunyian Pocut Baren terungkap. Ia terkena tembakan di kaki. Minimnya fasilitas medis membuat luka itu membusuk, hingga kakinya harus diamputasi.
Terdesak Namun Tak Pernah Menyerah
Meski kehilangan kaki, Pocut Baren tidak pernah “berhenti berperang”. Ia memang mundur dari garis depan, tetapi tidak dari perjuangan.
Ia tetap memimpin sebagai ulama, pemimpin adat, dan simbol perlawanan lewat syair dan pantun yang membakar semangat pasukannya.
Suara Pocut Baren menggema hingga ke pelosok Aceh Barat, membawa pesan bahwa perlawanan tidak dilumpuhkan oleh keterbatasan fisik.
Momok Kolonial pada 1903–1910
Pada puncak pertempuran di Aceh Barat antara 1903–1910, nama Pocut Baren begitu ditakuti Belanda. Sosok perempuan dengan kelewang bengkok di pinggangnya berdiri di garis depan bersama pasukan laki-laki.
Keberaniannya memberi pesan keras:
Aceh tidak akan tunduk hanya karena kekuatan senjata.
Warisan dan Jejak Perjuangan
Pocut Baren wafat pada 12 Maret 1928 di kampung halamannya, Tungkop.
Meski belum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, masyarakat Aceh telah memberikan kehormatan besar dengan menamai salah satu jalan utama di Banda Aceh sebagai Jalan Pocut Baren.
Warisan perjuangannya melampaui medan fisik:
Ia membuktikan perempuan mampu memimpin pasukan dan menjadi panglima.
Ia menggabungkan peran seorang ulama, pendidik, pemimpin adat, dan komandan perang.
Ia menjadikan hutan, gua, dan medan terpencil sebagai taktik perang yang efektif.
Ia mengobarkan semangat rakyat lewat syair dan pantun perjuangan.
Refleksi: Jejak Harimau Betina dari Tanah Rencong
Bayangkan Pocut Baren berjalan di gelapnya hutan Aceh Barat, kelewang di pinggang, pasukan kecil mengikutinya, dan suara belantara menjadi saksi keberaniannya. Ia bukan pahlawan yang lahir dari pasukan besar atau persenjataan lengkap. Ia tumbuh dari rakyat, tanah, dan keyakinan yang kokoh.
Kisahnya mengingatkan kita bahwa perang bukan sekadar peluru dan senapan, tetapi pertarungan tentang martabat, identitas, dan kemanusiaan. Di balik nama-nama besar dalam sejarah, selalu ada sosok luar biasa yang jarang disorot—dan Pocut Baren adalah salah satunya.
Jika satu perempuan dapat menjadi “harimau betina” di hutan Aceh,
maka setiap perempuan di zaman ini juga bisa melahirkan keberanian dalam bentuk baru:
melawan penindasan, diskriminasi, dan ketidakadilan.(**)





