Disdik Aceh Izinkan Sekolah Terapkan Belajar Jarak Jauh akibat Kabut Asap

Pendidikan14 Dilihat

BANDA ACEH – Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Aceh mengimbau seluruh satuan pendidikan, khususnya sekolah yang berada di wilayah terdampak parah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), untuk mempertimbangkan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan tersebut menjadi langkah antisipasi guna melindungi kesehatan dan keselamatan peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan di tengah memburuknya kondisi udara.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan satuan pendidikan perlu mengambil langkah cepat dan bijaksana dengan mempertimbangkan tingkat keparahan kabut asap di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal siswa dan guru.

Menurutnya, keselamatan warga sekolah harus menjadi perhatian utama. Apabila kondisi udara sudah berada pada tingkat berbahaya dan berisiko terhadap kesehatan, sekolah dapat memutuskan untuk menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan menggantinya dengan sistem belajar dari rumah.

“Sehubungan dengan makin parahnya dampak kabut asap kebakaran lahan dan kebakaran hutan, kami mengimbau kepada seluruh satuan pendidikan yang ada di Aceh untuk mempertimbangkan dan memutuskan proses pembelajaran jarak jauh,” kata Murthalamuddin di Banda Aceh.

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut bukan berarti kegiatan pendidikan dihentikan sepenuhnya. Sekolah tetap berkewajiban memastikan proses pembelajaran berlangsung agar siswa tidak kehilangan kesempatan belajar meskipun tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar secara langsung di ruang kelas.

Sekolah Diminta Menyesuaikan dengan Kondisi Udara

Murthalamuddin menegaskan, keputusan untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh harus didasarkan pada kondisi nyata di masing-masing wilayah. Sekolah yang berada di kawasan dengan paparan kabut asap cukup parah diminta lebih mengutamakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Sementara itu, apabila kondisi lingkungan masih memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, sekolah tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah memastikan siswa dan guru menggunakan masker selama beraktivitas.

“Jika pun dianggap masih layak untuk pendidikan tatap muka di sekolah, semua siswa dan guru memakai masker,” ujarnya.

Ia juga meminta pihak sekolah tidak memaksakan kegiatan belajar secara langsung apabila kualitas udara dinilai membahayakan kesehatan. Setiap satuan pendidikan diharapkan mampu menilai situasi secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kondisi lingkungan, tingkat paparan asap, serta keselamatan seluruh warga sekolah.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat kabut asap akibat karhutla dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan. Paparan asap juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Guru Dapat Mengajar dari Rumah

Untuk memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan, Disdik Aceh membuka ruang bagi guru dan tenaga kependidikan untuk melaksanakan pekerjaan dari rumah atau work from home (WFH), apabila sekolah memutuskan menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Pelaksanaan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan dan fasilitas yang tersedia di masing-masing satuan pendidikan. Guru dapat memanfaatkan layanan WhatsApp, pembelajaran daring, maupun metode pembelajaran jarak jauh lainnya yang memungkinkan siswa tetap menerima materi pelajaran.

Murthalamuddin meminta sekolah dan para guru mencari cara yang efektif agar kegiatan belajar tetap berlangsung meskipun siswa tidak hadir secara fisik di sekolah.

“Guru dan tenaga tendik boleh melakukan pekerjaan dari rumah atau WFH dengan mengirimkan melalui layanan WhatsApp pembelajaran atau pembelajaran online atau pembelajaran jarak jauh. Lakukan langkah-langkah yang memungkinkan anak-anak dapat belajar terus, jangan sampai mereka ketinggalan,” katanya.

Ia menekankan, penerapan pembelajaran jarak jauh perlu disertai pengaturan kegiatan belajar yang jelas. Guru diharapkan tetap memberikan materi, tugas, serta arahan kepada siswa sehingga proses pendidikan tidak terputus hanya karena kondisi lingkungan yang tidak mendukung.

Sekolah juga perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan ketersediaan perangkat komunikasi dan akses internet peserta didik. Bagi siswa yang memiliki keterbatasan fasilitas, pihak sekolah diharapkan mencari alternatif yang memungkinkan mereka tetap mengikuti pembelajaran.

Dengan demikian, kebijakan belajar dari rumah tidak hanya berfungsi sebagai langkah perlindungan kesehatan, tetapi juga sebagai upaya menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah kondisi darurat kabut asap.

Orang Tua Diminta Turut Mengawasi Anak

Disdik Aceh turut menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Apabila sekolah memutuskan meliburkan kegiatan tatap muka, pihak sekolah diminta segera menyampaikan informasi resmi kepada orang tua atau wali murid.

Pemberitahuan tersebut diperlukan agar orang tua mengetahui bahwa anak-anak tetap memiliki kewajiban mengikuti pembelajaran meskipun kegiatan sekolah berlangsung dari rumah.

Menurut Murthalamuddin, komunikasi antara sekolah dan keluarga menjadi bagian penting untuk memastikan siswa tetap belajar sesuai arahan guru. Orang tua juga diharapkan dapat membantu mengawasi aktivitas anak selama jam belajar serta menyediakan fasilitas pembelajaran sesuai kemampuan masing-masing.

“Langkah ini dilakukan agar anak-anak tidak berkeliaran atau dianggap melakukan hal-hal lain di luar jam sekolah atau tidak memberitahukan kepada orang tuanya bahwa dia sebenarnya diliburkan,” katanya.

Karena itu, sekolah diminta tidak hanya mengumumkan penghentian sementara pembelajaran tatap muka, tetapi juga menjelaskan mekanisme belajar dari rumah, jadwal kegiatan, serta tugas yang harus diselesaikan siswa.

Koordinasi dengan orang tua dinilai penting agar kebijakan tersebut tidak disalahartikan sebagai libur sekolah tanpa kegiatan belajar. Sebaliknya, siswa tetap harus menjalankan aktivitas pendidikan dengan pengawasan guru dan keluarga.

Menunggu Surat Edaran Gubernur Aceh

Murthalamuddin mengatakan, Disdik Aceh saat ini menunggu sekaligus mempersiapkan tindak lanjut berupa surat edaran Gubernur Aceh terkait dampak kabut asap karhutla terhadap pelaksanaan pendidikan di daerah tersebut.

Sebelum surat edaran itu diterbitkan, satuan pendidikan diminta mengambil langkah sesuai kondisi di wilayah masing-masing dengan tetap memperhatikan keselamatan dan keberlangsungan proses belajar mengajar.

Ia meminta seluruh sekolah bertindak secara bertanggung jawab dalam menentukan apakah pembelajaran tatap muka masih dapat dilaksanakan atau perlu dialihkan sementara ke sistem jarak jauh.

“Surat edaran gubernur akan kita buat dalam waktu dekat. Kami minta seluruh satuan pendidikan dapat secara bertanggung jawab dengan memperhatikan keadaan, termasuk mengenai kapan kegiatan belajar tatap muka kembali normal,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan pembelajaran tatap muka nantinya perlu disesuaikan kembali dengan perkembangan kondisi udara. Sekolah diharapkan terus memantau situasi dan tidak terburu-buru kembali ke kegiatan normal apabila kabut asap masih berpotensi mengganggu kesehatan.

Keselamatan dan Pendidikan Harus Tetap Berjalan

Imbauan Disdik Aceh tersebut menjadi langkah antisipasi menghadapi dampak kabut asap karhutla yang mulai mengganggu berbagai aktivitas masyarakat. Dalam situasi seperti ini, perlindungan kesehatan siswa dan tenaga pendidik harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga hak anak untuk memperoleh pendidikan.

Pembelajaran jarak jauh menjadi salah satu alternatif yang dapat diterapkan ketika kondisi lingkungan tidak memungkinkan kegiatan tatap muka berlangsung secara aman. Namun, penerapannya memerlukan koordinasi antara sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik agar proses belajar tetap efektif.

Disdik Aceh berharap seluruh satuan pendidikan dapat merespons kondisi tersebut dengan cepat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan maupun kewajiban menyelenggarakan pembelajaran.

Dengan langkah yang terkoordinasi dan komunikasi yang baik, kegiatan pendidikan di Aceh diharapkan tetap berjalan di tengah ancaman kabut asap, sembari menunggu kondisi udara kembali aman dan aktivitas belajar tatap muka dapat dilaksanakan secara normal.j