Revitalisasi Perpustakaan Sekolah Diperkuat, Disdik Aceh Gandeng UIN Ar-Raniry dan USK

Pendidikan139 Dilihat

BANDA ACEH – Dinas Pendidikan Aceh terus mendorong penguatan budaya literasi di lingkungan satuan pendidikan melalui revitalisasi perpustakaan sekolah. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, agar perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, tetapi berkembang menjadi ruang belajar yang menarik, inspiratif, dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd,. M.SP, saat memberikan arahan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Revitalisasi Perpustakaan dan Sosialisasi bersama guru serta pengelola perpustakaan SMA, SMK, dan SLB di Aceh, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pengelolaan perpustakaan sekolah sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang semakin mendukung kebiasaan membaca, mencari informasi, berdiskusi, dan mengembangkan pengetahuan peserta didik.

Dalam arahannya, Murthalamuddin menekankan pentingnya keberadaan perpustakaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran di sekolah. Perpustakaan diharapkan mampu bertransformasi mengikuti kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman, sehingga keberadaannya benar-benar memberikan manfaat dalam mendukung kegiatan belajar mengajar.

Revitalisasi perpustakaan juga tidak hanya menyangkut pembenahan sarana dan prasarana. Lebih dari itu, penguatan pengelolaan, peningkatan kapasitas tenaga pengelola, ketersediaan bahan bacaan yang relevan, serta penciptaan suasana perpustakaan yang nyaman menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi di sekolah.

Melalui FGD tersebut, guru dan pengelola perpustakaan diberikan ruang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, sekaligus mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan sekolah.

Kolaborasi dengan UIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala (USK) turut menjadi bagian penting dalam agenda tersebut. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, guru, dan pengelola perpustakaan diharapkan dapat melahirkan berbagai gagasan dan pendekatan baru dalam mengembangkan perpustakaan sekolah di Aceh.

Keterlibatan perguruan tinggi juga membuka peluang bagi sekolah untuk mendapatkan dukungan pengetahuan dan pengalaman akademik dalam mengembangkan program literasi. Dengan demikian, revitalisasi perpustakaan diharapkan tidak berhenti pada aspek fisik, tetapi berlanjut pada penguatan program dan aktivitas yang mampu menumbuhkan minat baca serta kemampuan literasi peserta didik.

Bagi sekolah jenjang SMA, SMK, maupun SLB, perpustakaan memiliki peran strategis dalam menyediakan sumber belajar yang dapat melengkapi pembelajaran di ruang kelas. Karena itu, pengelola perpustakaan dituntut semakin kreatif menghadirkan berbagai kegiatan yang membuat peserta didik merasa nyaman dan tertarik memanfaatkan perpustakaan.

Penguatan budaya literasi juga dinilai penting dalam menghadapi perkembangan informasi yang semakin cepat. Peserta didik tidak hanya perlu memiliki kemampuan membaca, tetapi juga harus mampu menemukan, memahami, memilah, dan memanfaatkan informasi secara tepat.

Dalam konteks tersebut, perpustakaan sekolah dapat menjadi salah satu ruang penting untuk membangun kebiasaan belajar secara mandiri. Kehadiran koleksi bacaan yang berkualitas, ruang yang nyaman, serta pengelolaan yang inovatif dapat mendorong siswa menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari aktivitas belajar sehari-hari.

Dinas Pendidikan Aceh berharap revitalisasi perpustakaan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan budaya literasi di satuan pendidikan.

Melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, perpustakaan sekolah di Aceh diharapkan semakin adaptif terhadap perkembangan zaman dan mampu menjadi ruang yang hidup, terbuka, serta inspiratif bagi seluruh warga sekolah.

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen untuk membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mendorong peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dengan penguatan peran perpustakaan, budaya membaca dan literasi di sekolah diharapkan tumbuh secara berkelanjutan, sehingga pada akhirnya dapat ikut mendukung peningkatan mutu pendidikan Aceh.(**)