Takbir di Tengah Luka, Warga Linge Tetap Khidmat Rayakan Idulfitri

Aceh Tengah26 Dilihat

Takengon – Gema takbir menggema syahdu di kawasan Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (21/3/2026) pagi. Suara takbir yang biasanya menjadi penanda kemenangan umat Islam usai sebulan berpuasa kali ini terasa berbeda—lebih dalam, lebih haru, dan sarat makna.

Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih akibat bencana yang melanda wilayah tersebut, masyarakat tetap berbondong-bondong menuju lokasi pelaksanaan Sholat Idulfitri 1447 Hijriah. Dengan langkah yang tenang dan wajah yang penuh harap, warga menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan keimanan tidak pernah surut, bahkan dalam situasi sulit sekalipun.

Hamparan alam Linge yang masih menyisakan jejak bencana menjadi saksi bisu keteguhan hati masyarakat. Sejumlah warga terlihat mengenakan pakaian sederhana, sebagian lainnya masih dalam kondisi terbatas akibat dampak musibah. Namun, semua perbedaan itu melebur dalam satu tujuan: menunaikan ibadah dan merayakan hari kemenangan dengan penuh keikhlasan.

Pelaksanaan Sholat Idulfitri berlangsung khidmat. Barisan jamaah tersusun rapi, diiringi lantunan takbir yang menggema dari berbagai penjuru. Di sela-sela ibadah, suasana haru tak terbendung saat doa bersama dipanjatkan. Banyak jamaah menitikkan air mata, memohon kekuatan, ketabahan, dan pemulihan bagi kampung halaman mereka yang masih berjuang bangkit.

Momentum Idulfitri tahun ini bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi simbol keteguhan dan harapan baru bagi masyarakat Linge. Di tengah keterbatasan, mereka menunjukkan bahwa semangat untuk bangkit tetap menyala. Kebersamaan yang terjalin erat di antara warga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi masa pemulihan.

Tokoh masyarakat setempat menyampaikan bahwa perayaan Idulfitri kali ini menjadi pengingat akan pentingnya solidaritas dan saling membantu. Ia berharap, melalui doa dan kebersamaan, masyarakat dapat segera bangkit dari keterpurukan dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Bagi warga Linge, gema takbir di pagi Idulfitri ini bukan hanya ungkapan kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga menjadi doa yang terangkat ke langit—doa agar duka segera berlalu dan harapan kembali tumbuh di tanah Gayo yang mereka cintai.(**)