Banda Aceh – Museum Tsunami Aceh kini tampil semakin nyaman dan ramah bagi pengunjung. Tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah, museum yang menjadi ikon kebangkitan Aceh pascatsunami 2004 ini terus bertransformasi sebagai ruang edukasi kebencanaan bagi masyarakat dari berbagai kalangan.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan Museum Tsunami Aceh sebagai tempat belajar bersama, terutama dalam memahami risiko gempa bumi dan tsunami serta membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.
“Museum Tsunami Aceh bukan sekadar tempat mengenang duka masa lalu, tetapi juga ruang belajar yang sangat penting. Di sini kita bisa memahami bagaimana gempa dan tsunami terjadi, sekaligus belajar bagaimana cara bersiap dan menyelamatkan diri jika bencana datang,” ujar Illiza.
Menurut Illiza, keberadaan museum ini menjadi anugerah bagi Kota Banda Aceh yang berada di wilayah rawan bencana. Dengan fasilitas yang semakin tertata, nyaman, dan informatif, museum tersebut diharapkan mampu menarik minat lebih banyak pengunjung, khususnya generasi muda.
“Alhamdulillah, Banda Aceh memiliki ruang belajar kebencanaan seperti Museum Tsunami. Ini adalah aset edukasi yang sangat berharga, terutama bagi anak-anak dan generasi penerus agar mereka tumbuh dengan kesadaran dan pengetahuan tentang mitigasi bencana,” ungkapnya.
Illiza menekankan bahwa pendidikan kebencanaan harus dimulai sejak dini dan dilakukan secara berkelanjutan. Museum Tsunami Aceh, kata dia, menjadi salah satu sarana efektif untuk menyampaikan edukasi tersebut secara visual, emosional, dan mudah dipahami.
Ia juga mengajak masyarakat untuk datang bersama keluarga, anak-anak, serta sahabat, sehingga kunjungan ke museum tidak hanya menjadi kegiatan rekreasi, tetapi juga sarana pembelajaran yang bermakna.
“Yuk datang ke Museum Tsunami Aceh. Ajak keluarga, anak-anak, dan sahabat. Semoga dari sini kita semua menjadi warga kota yang tangguh bencana,” ajak Illiza.
Selain sebagai pusat edukasi, Museum Tsunami Aceh juga terus dikembangkan sebagai destinasi wisata edukatif unggulan. Berbagai ruang pameran, instalasi, dan narasi sejarah disajikan untuk mengingatkan pengunjung tentang dahsyatnya bencana tsunami sekaligus menanamkan semangat bangkit, solidaritas, dan kesiapsiagaan.
Pemerintah Kota Banda Aceh, lanjut Illiza, berkomitmen mendukung penguatan fungsi museum sebagai bagian dari upaya membangun kota yang tangguh terhadap bencana. Sinergi antara pemerintah, pengelola museum, dan masyarakat menjadi kunci agar nilai-nilai pembelajaran dari Museum Tsunami Aceh terus hidup dan relevan.
“Semoga dari tempat ini lahir kesadaran kolektif bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Amin,” tutup Illiza.
Dengan wajah baru yang semakin nyaman dan pesan edukasi yang kuat, Museum Tsunami Aceh diharapkan terus menjadi simbol ketangguhan, pembelajaran, dan harapan bagi Banda Aceh dan dunia.(**)






