{"id":68098,"date":"2026-11-07T21:50:09","date_gmt":"2026-11-07T14:50:09","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=68098"},"modified":"2026-11-07T21:50:09","modified_gmt":"2026-11-07T14:50:09","slug":"kepala-bnnp-aceh-tinjau-transformasi-eks-petani-ganja-menjadi-petani-kopi-di-gayo-lues","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/11\/07\/kepala-bnnp-aceh-tinjau-transformasi-eks-petani-ganja-menjadi-petani-kopi-di-gayo-lues\/","title":{"rendered":"Kepala BNNP Aceh Tinjau Transformasi Eks Petani Ganja Menjadi Petani Kopi di Gayo Lues"},"content":{"rendered":"<p><strong>GAYO LUES \u2013<\/strong> Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si., melaksanakan kunjungan kerja lapangan dengan meninjau langsung sentra perkebunan dan pengolahan dgn sistem permentasi buah merah kopi program Grand Design Alternative Development (GDAD) di Gampong Agusen, dan Pabrik Kopi kedua di desa Porang Kabupaten Gayo Lues yang merupakan cabang koperasi kopi Gayo Lues Bersinar Binaan BNN, Sabtu (7\/11\/2026).<\/p>\n<p>Kunjungan tersebut bertujuan memastikan perkembangan dan keberlanjutan program GDAD sekaligus melihat secara langsung keberhasilan transformasi ekonomi masyarakat yang sebelumnya menggantungkan mata pencaharian dari penanaman ganja ilegal, kini beralih menjadi petani kopi yang produktif dan berdaya saing.<\/p>\n<p>Didampingi Kepala BNNK Gayo Lues beserta jajaran dan Keuchik Gampong Agusen, Brigjen Dedy Tabrani menyusuri perkebunan kopi binaan BNN dan berdialog langsung dengan para petani kopi. Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan apresiasi atas perubahan pola pikir dan komitmen masyarakat yang telah meninggalkan kultivasi ganja serta memilih perkebunan kopi sebagai sumber penghidupan yang legal dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>\u201cPerubahan yang kita saksikan di Gampong Agusen merupakan bukti bahwa pendekatan Alternative Development mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. BNN tidak hanya mengajak masyarakat meninggalkan penanaman ganja, tetapi juga memberikan alternatif ekonomi, melakukan pendampingan, dan membantu membuka akses pasar agar hasil perkebunan mereka memiliki nilai jual yang menjanjikan,\u201d ujar Brigjen Dedy Tabrani.<\/p>\n<p>*BNN Menginisiasi Perubahan, Mendampingi Petani hingga Membuka Akses Pasar internasional*<\/p>\n<p>Keberhasilan program GDAD di Gayo Lues merupakan hasil proses panjang yang diawali dengan pendekatan langsung (Trusbuilding) kepada masyarakat. BNNP Aceh melalui BNNK Gayo Lues menjadi pihak yang pertama kali menginisiasi dan menawarkan program GDAD kepada para petani yang sebelumnya menggantungkan mata pencaharian dari penanaman ganja ilegal.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan persuasif dan dialog bersama masyarakat, BNN mengajak para petani untuk meninggalkan kultivasi ganja dan beralih mengembangkan perkebunan kopi sebagai komoditas unggulan yang memiliki prospek ekonomi lebih baik.<\/p>\n<p>Namun, upaya tersebut tidak berhenti pada ajakan untuk mengganti tanaman. BNNP Aceh melalui BNNK Gayo Lues secara berkelanjutan memberikan bimbingan, pembinaan, dan pendampingan kepada petani, mulai dari pengembangan perkebunan, peningkatan kualitas tanaman, pengelolaan hasil panen hingga membantu mencarikan solusi pemasaran.<\/p>\n<p>BNN memahami bahwa keberhasilan mengubah pola mata pencaharian masyarakat harus disertai kepastian ekonomi. Petani membutuhkan jaminan bahwa tanaman pengganti yang mereka budidayakan mampu memberikan pendapatan yang layak dan masa depan yang lebih baik bagi keluarga mereka.<\/p>\n<p>BNN juga mengambil peran dalam membuka akses pasar bagi hasil produksi kopi masyarakat. Jika sebelumnya para petani mengalami kesulitan memasarkan hasil panen dan belum mengetahui ke mana kopi mereka harus dijual, kini kondisi tersebut mulai berubah.<\/p>\n<p>BNN telah membentuk koperasi Kopi Gayo Lues Bersinar dan menjalin kerja sama dengan PT Ujang Jaya International juga Starbucks sebagai mitra penerima hasil produksi kopi petani. Kemitraan ini menjadi langkah strategis dalam membangun rantai pemasaran yang lebih jelas, memperluas akses pasar, serta memberikan peluang kepada petani untuk memperoleh harga jual yang lebih tinggi.<\/p>\n<p>Dengan demikian, masyarakat tidak lagi berjalan sendiri dalam mencari pembeli. Hasil perkebunan kopi mereka kini memiliki akses pemasaran yang lebih terbuka dan prospek ekonomi yang semakin menjanjikan.<\/p>\n<p>*Perkebunan Kopi Agusen Berkembang Pesat*<\/p>\n<p>Gampong Agusen merupakan salah satu contoh keberhasilan pelaksanaan program GDAD di Kabupaten Gayo Lues. Area perkebunan kopi binaan BNN yang pada 2016 hanya sekitar 70 hektare, kini telah berkembang menjadi 250 hektare di desa Agusen.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan di Kabupaten Gayo Lues, program GDAD yang diinisiasi dan dikembangkan BNNP Aceh telah merangkul 3.346 petani dengan total luas perkebunan kopi mencapai 3.554,6 hektare yang tersebar di 11 kecamatan.<\/p>\n<p>Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola mata pencaharian masyarakat bukan sekadar wacana, melainkan telah menjadi gerakan ekonomi produktif yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>*Harga Kopi Meningkat, Kesejahteraan Petani Menguat*<\/p>\n<p>Dampak ekonomi program GDAD juga terlihat dari peningkatan harga jual kopi di tingkat petani. Jika sebelumnya harga kopi berada pada kisaran Rp18.600 per kilogram, kini telah mencapai sekitar Rp68.000 per kilogram.<\/p>\n<p>Bahkan, untuk varian tertentu seperti kopi wine, harga jualnya dapat mencapai Rp185.000 per kilogram.<\/p>\n<p>Peningkatan nilai ekonomi tersebut semakin memotivasi masyarakat untuk merawat dan mengembangkan perkebunan kopi. Terlebih dengan terbukanya akses pemasaran melalui kemitraan, petani kini memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan harga yang menguntungkan dari hasil kerja mereka.<\/p>\n<p>Dalam dialog bersama Kepala BNNP Aceh, Keuchik Gampong Agusen menyampaikan bahwa masyarakat telah merasakan perubahan besar setelah beralih dari penanaman ganja ke perkebunan kopi.<\/p>\n<p>Kesadaran masyarakat untuk meninggalkan tanaman ganja semakin kuat karena manfaat ekonomi dari komoditas kopi telah dirasakan secara langsung. Perubahan tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga mengubah wajah dan citra Gampong Agusen menjadi kawasan perkebunan kopi yang produktif.<\/p>\n<p>*GDAD, Strategi Pemberantasan Narkoba Berbasis Kesejahteraan*<\/p>\n<p>Melalui peninjauan langsung di Gampong Agusen, Kepala BNNP Aceh kembali menegaskan bahwa perang melawan narkotika tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan penegakan hukum. Diperlukan strategi komprehensif yang menyentuh akar persoalan, termasuk faktor ekonomi yang selama ini mendorong sebagian masyarakat terlibat dalam kultivasi ganja.<\/p>\n<p>Program GDAD menjadi bukti bahwa pemberantasan narkotika dapat dilakukan melalui pendekatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. BNN hadir bukan sekadar melarang masyarakat menanam ganja, tetapi memberikan jalan keluar melalui alternatif usaha, pendampingan berkelanjutan, peningkatan kualitas produksi, hingga membuka akses pemasaran dengan mitra pembeli.<\/p>\n<p>Transformasi Gampong Agusen menjadi gambaran bahwa ketika masyarakat diberikan kesempatan, pendampingan, dan akses ekonomi yang memadai, perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dapat diwujudkan.<\/p>\n<p>Dari ladang ganja menuju kebun kopi, dari ketidakpastian pemasaran menuju kemitraan, dan dari ekonomi ilegal menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Inilah komitmen BNNP Aceh dalam menjadikan program GDAD sebagai instrumen strategis untuk memutus mata rantai kultivasi ganja sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat menuju Gayo Lues yang Sejahtera dan Bersih Narkoba (BERSINAR).<\/p>\n<p>*HUMAS BNNP ACEH*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>GAYO LUES \u2013 Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Brigjen Pol. <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/11\/07\/kepala-bnnp-aceh-tinjau-transformasi-eks-petani-ganja-menjadi-petani-kopi-di-gayo-lues\/\" title=\"Kepala BNNP Aceh Tinjau Transformasi Eks Petani Ganja Menjadi Petani Kopi di Gayo Lues\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":68099,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[2911],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-68098","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-news"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68098","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68098"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68098\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":68100,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68098\/revisions\/68100"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/68099"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68098"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68098"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68098"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=68098"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}