{"id":63239,"date":"2026-08-23T09:25:37","date_gmt":"2026-08-23T02:25:37","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=63239"},"modified":"2026-08-23T09:27:48","modified_gmt":"2026-08-23T02:27:48","slug":"gempa-m77-guncang-ntt-87-orang-meninggal-dan-150-576-warga-mengungsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/08\/23\/gempa-m77-guncang-ntt-87-orang-meninggal-dan-150-576-warga-mengungsi\/","title":{"rendered":"Gempa M7,7 Guncang NTT, 87 Orang Meninggal dan 150.576 Warga Mengungsi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>NTT<\/strong> \u2014 Penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan secara intensif. Pos Pendamping Nasional yang dikoordinasikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Sabtu (22\/8\/2026) terus memperbarui data korban, pengungsi, distribusi bantuan, serta dukungan personel dan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gempa utama yang terjadi di wilayah NTT tersebut diikuti ribuan gempa susulan. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Jumat (21\/8\/2026) pukul 05.00 WIB, tercatat sebanyak 5.012 kali gempa susulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari ribuan gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar mencapai M6,2, sedangkan yang terkecil tercatat M1,1. Sebanyak 124 gempa susulan dirasakan langsung oleh masyarakat, sehingga aktivitas penanganan dan evakuasi masih berlangsung dengan kewaspadaan tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">87 Orang Meninggal Dunia<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dampak gempa terhadap masyarakat tergolong sangat besar. Pos Pendamping Nasional mencatat hingga Sabtu (22\/8\/2026) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 87 orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Korban meninggal tersebar di sejumlah kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban jiwa terbanyak, yakni 31 orang, disusul Manggarai Timur sebanyak 30 orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selanjutnya, korban meninggal tercatat 13 orang di Nagekeo, 9 orang di Sikka, 4 orang di Ngada, 2 orang di Ende, serta 1 orang di Manggarai Barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain korban meninggal, gempa juga menyebabkan ribuan warga mengalami luka-luka dan membutuhkan penanganan medis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Total korban luka tercatat sebanyak 1.298 orang, terdiri atas 336 orang mengalami luka berat, 61 orang luka sedang, dan 895 orang luka ringan. Sementara enam korban lainnya masih dalam proses pendataan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan jumlah korban luka terbanyak, yakni 643 orang, sedangkan Kabupaten Manggarai mencatat 285 orang korban luka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Besarnya jumlah korban membuat dukungan layanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak dalam masa tanggap darurat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih dari 150 Ribu Warga Mengungsi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka, gempa juga memaksa ratusan ribu masyarakat meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data sementara Pos Pendamping Nasional mencatat jumlah pengungsi mencapai 150.576 jiwa yang tersebar di tujuh kabupaten terdampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni 41.427 jiwa. Kemudian Nagekeo sebanyak 34.256 jiwa, Manggarai Timur 31.372 jiwa, Manggarai Barat 19.954 jiwa, Sikka 17.587 jiwa, Ende 3.429 jiwa, dan Ngada sebanyak 2.551 jiwa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Angka pengungsian yang sangat besar tersebut membuat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah dan seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebutuhan seperti makanan, air bersih, obat-obatan, perlengkapan keluarga, tempat tinggal sementara, hingga layanan kesehatan terus didistribusikan ke wilayah terdampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">954 Ton Bantuan Logistik Dikirim<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upaya memenuhi kebutuhan warga terdampak juga dilakukan melalui penguatan jalur distribusi logistik dari pusat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pos Pendukung Logistik Nasional (Posduklognas) di Halim Perdanakusuma melaporkan bahwa hingga Sabtu (22\/8\/2026) pukul 13.00 WIB, sebanyak 147 ton bantuan logistik telah dikirim ke wilayah terdampak melalui 10 sorti penerbangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 ton bantuan dikirim ke Labuan Bajo, sementara 77 ton lainnya dikirim ke Maumere.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika dihitung secara kumulatif sejak 15 hingga 22 Agustus 2026, total bantuan logistik yang telah didistribusikan mencapai 954 ton melalui 68 sorti penerbangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bantuan tersebut terdiri atas 651 ton yang dikirim ke Labuan Bajo dan 303 ton ke Maumere.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Distribusi melalui jalur udara menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan dapat segera menjangkau masyarakat, terutama wilayah yang mengalami kendala akses akibat dampak gempa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ribuan Personel Dikerahkan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penanganan darurat juga melibatkan ribuan personel gabungan dari berbagai unsur. Pos Pendamping Nasional mencatat sedikitnya 5.832 personel TNI, 238 personel Polri, serta 903 relawan dari 104 organisasi telah terlibat dalam operasi penanganan bencana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jumlah tersebut belum termasuk berbagai tim dari kementerian dan lembaga, termasuk BNPB, yang turut diterjunkan untuk memperkuat penanganan di lapangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kehadiran personel gabungan tidak hanya difokuskan pada proses pencarian dan pertolongan, tetapi juga membantu evakuasi, pengamanan, distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pembangunan fasilitas darurat, serta pemulihan aktivitas masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">KRI dr. Suharso 990 Bangun RS Lapangan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dukungan kesehatan menjadi perhatian utama pada hari kedelapan penanganan darurat. Salah satu dukungan besar datang dari KRI dr. Suharso 990 yang bersandar di Pelabuhan Reo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Personel kapal rumah sakit milik TNI Angkatan Laut tersebut kemudian mendirikan rumah sakit lapangan di dua lokasi, yakni Lapangan Waso dan Wangkong, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai rumah sakit apung, KRI dr. Suharso 990 memiliki fasilitas medis yang memungkinkan dilakukannya berbagai tindakan medis, termasuk penanganan kasus yang membutuhkan tindakan lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kapal tersebut juga memiliki ruang rawat inap dengan kapasitas hingga 75 pasien, sehingga diharapkan mampu memperkuat pelayanan kesehatan bagi warga terdampak gempa, khususnya mereka yang membutuhkan perawatan lanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga Turut Dikerahkan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain KRI dr. Suharso 990, pelayanan kesehatan bagi korban gempa juga diperkuat oleh Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rumah sakit terapung yang dimiliki Ikatan Alumni Universitas Airlangga tersebut beroperasi di lokasi berbeda. Kapal ini bersandar di Teluk Nangalirang, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kehadiran dua rumah sakit terapung tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperluas jangkauan pelayanan medis di tengah kondisi darurat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan jumlah korban luka yang mencapai lebih dari seribu orang, dukungan fasilitas kesehatan bergerak menjadi sangat dibutuhkan untuk mengurangi beban rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang berada di wilayah terdampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penanganan Masih Terus Berlangsung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Besarnya dampak gempa M7,7 membuat penanganan darurat di NTT membutuhkan kerja bersama dan koordinasi lintas sektor. Ribuan personel, relawan, tenaga kesehatan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, serta berbagai organisasi kemanusiaan terus bergerak memenuhi kebutuhan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah masih terjadinya gempa susulan, pemerintah juga perlu memastikan keselamatan para pengungsi sekaligus mempercepat distribusi bantuan ke daerah-daerah yang paling membutuhkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data korban, pengungsi, kebutuhan logistik, dan kerusakan masih dapat berubah seiring proses pendataan dan verifikasi di lapangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hingga kini, fokus utama penanganan tetap diarahkan pada penyelamatan dan pelayanan masyarakat terdampak, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, distribusi bantuan, serta memastikan seluruh wilayah terdampak memperoleh dukungan yang memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bencana ini menjadi ujian besar bagi masyarakat NTT sekaligus memperlihatkan pentingnya solidaritas dan kolaborasi seluruh elemen dalam menghadapi situasi darurat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerintah bersama seluruh unsur penanganan bencana terus berupaya agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi dan proses pemulihan dapat segera dimulai setelah kondisi memungkinkan.(**)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>NTT \u2014 Penanganan darurat pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/08\/23\/gempa-m77-guncang-ntt-87-orang-meninggal-dan-150-576-warga-mengungsi\/\" title=\"Gempa M7,7 Guncang NTT, 87 Orang Meninggal dan 150.576 Warga Mengungsi\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":63240,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[31],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-63239","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-nasional"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63239","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63239"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63239\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63243,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63239\/revisions\/63243"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63240"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63239"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63239"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63239"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=63239"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}