{"id":57500,"date":"2026-04-30T21:07:42","date_gmt":"2026-04-30T14:07:42","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=57500"},"modified":"2026-04-30T21:07:42","modified_gmt":"2026-04-30T14:07:42","slug":"pernyataan-rampok-dana-jka-jubir-pemerintah-aceh-terlalu-semena-mena","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/04\/30\/pernyataan-rampok-dana-jka-jubir-pemerintah-aceh-terlalu-semena-mena\/","title":{"rendered":"Pernyataan Rampok Dana JKA, Jubir Pemerintah Aceh: Terlalu Semena-mena"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH \u2013<\/strong>Pemerintah Aceh menanggapi pernyataan Ketua DPR Aceh Zulfadhli (Abang Samalanga) tentang dana Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) telah dirampok. \u201cTerlalu semena-mena dan berlebihan. Ini masalah adab dan etik dalam berbicara,\u201d kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Kamis (30 April 2026).<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut, kata Nurlis, berdampak langsung kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf. \u201cBeliau kini menjadi sasaran bully dari netizen di banyak akun media sosial,\u201d kata Nurlis. Serangan yang sama juga dialami Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah dan Sekretaris Daerah Aceh Nasir Syamaun.<\/p>\n<p>Nurlis mengatakan, pernyataan \u201cmerampok uang JKA\u2019 sebetulnya tidak pantas diucapkan seorang wakil rakyat di dalam kegiatan resmi DPR Aceh. \u201cApalagi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), terkesan menghukum para pelaksana undang-undang di lembaga Pemerintah Aceh,\u201d kata Nurlis.<\/p>\n<p>Menurut Nurlis, setiap tuduhan harus dibuktikan kebenarannya. \u201cMisalnya kapan perampokan itu terjadi, bagaimana bisa terjadi, siapa saja yang terlibat dalam perampokan dana JKA itu. Itu memiliki konsekuensi hukum. Jika tidak dapat dibuktikan maka itu menjadi fitnah,\u201d kata Nurlis.<\/p>\n<p>\u201cBahkan penegak hukum seperti polisi saja tidak pernah menjustifikasi seseorang, selalu saja penyebutannya adalah tersangka atau terduga. Prinsipnya adalah azas praduga tak bersalah.\u201d<\/p>\n<p>Bahwa pada diri anggota DPR Aceh melekat imunitas, Nurlis mengakuinya, tetapi memiliki batasan yang jelas. \u201cTidak boleh menghakimi, sebab bisa menjadi fitnah. Kekuasaan kehakiman itu bukan fungsi legislatif, artinya sudah melampaui batas kewenangannya,\u201d kata Nurlis.<\/p>\n<p>Nurlis menjelaskan bahwa pada anggota DPR hanya melekat tiga fungsi, yaitu fungsi legislasi, fungsi penganggaran, dan fungsi pengawasan. \u201cJadi tidak terdapat fungsi menghakimi, seperti menuduh orang lain perampok atau apapun namanya,\u201d kata Nurlis lagi.<\/p>\n<p>Bahkan, kata Nurlis, yudikatif sebagai penyelenggara kekuasaan kehakiman pun sangat berhati-hati dalam menjalankan fungsinya. \u201cMereka melakukan tahapan-tahapan, mulai dari memeriksa, mengadili, baru kemudian memutus perkara hukum,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sedangkan Pemerintah Aceh, kata Nurlis, berada dalam fungsi eksekutif yaitu kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang dan menyelenggarakan urusan pemerintahan. \u201cSangat jelas sebetulnya batas kewenangan masing-masing. Jadi jangan tumpang tindih,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Pemerintah Aceh, kata Nurlis, dalam prihal JKA sudah menjalankan seluruh prosedur. []<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH \u2013Pemerintah Aceh menanggapi pernyataan Ketua DPR Aceh Zulfadhli (Abang Samalanga) <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/04\/30\/pernyataan-rampok-dana-jka-jubir-pemerintah-aceh-terlalu-semena-mena\/\" title=\"Pernyataan Rampok Dana JKA, Jubir Pemerintah Aceh: Terlalu Semena-mena\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":57501,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[1320],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-57500","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-pemerintah-aceh"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57500","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57500"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57500\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57502,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57500\/revisions\/57502"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57501"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57500"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57500"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57500"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=57500"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}