{"id":57433,"date":"2026-04-30T04:29:37","date_gmt":"2026-04-29T21:29:37","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=57433"},"modified":"2026-04-30T04:32:50","modified_gmt":"2026-04-29T21:32:50","slug":"dpra-kritik-sekda-absen-di-rdp-jka-dinilai-abaikan-tanggung-jawab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/04\/30\/dpra-kritik-sekda-absen-di-rdp-jka-dinilai-abaikan-tanggung-jawab\/","title":{"rendered":"DPRA Kritik Sekda Absen di RDP JKA, Dinilai Abaikan Tanggung Jawab"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Banda Aceh \u2013<\/strong> Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melontarkan kritik keras terhadap ketidakhadiran Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang membahas polemik Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), Selasa (28\/4\/2026), di Gedung DPRA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua DPRA, Zulfadhli atau yang akrab disapa Abang Samalanga, menilai absennya Sekda\u2014yang juga menjabat sebagai Ketua Tim JKA\u2014sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap fungsi pengawasan legislatif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSebagai Ketua Tim JKA, Sekda seharusnya hadir dan memberikan penjelasan secara terbuka, bukan justru menghindari tanggung jawab,\u201d tegas Abang Samalanga dalam forum RDP.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menyebut, sikap tersebut mencerminkan lemahnya koordinasi dalam pemerintahan serta berpotensi melanggar disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN). DPRA pun menegaskan tidak akan tinggal diam apabila pola ketidakpatuhan tersebut terus berulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTidak ada ruang bagi pejabat publik yang mengabaikan kepentingan rakyat. Jika tidak hadir saat rakyat membutuhkan, maka yang dipertanyakan bukan hanya kebijakannya, tetapi juga tanggung jawab jabatannya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai tindak lanjut, DPRA akan mempertimbangkan langkah konstitusional, termasuk mendorong evaluasi terhadap posisi Sekda Aceh apabila ketidakhadiran tersebut terus terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam RDP yang sama, Abang Samalanga juga menyoroti bahwa polemik JKA kini tidak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan telah memasuki ranah pelanggaran norma hukum dan tata kelola pemerintahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini berkaitan dengan terbitnya Peraturan Gubernur (Pergub) Aceh Nomor 2 Tahun 2026 yang dinilai justru membatasi akses layanan kesehatan bagi masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, Qanun Aceh Nomor 4 Tahun 2010 secara tegas menjamin JKA sebagai hak dasar masyarakat. Selain itu, arah kebijakan dalam Qanun RPJMA 2025\u20132029 juga mengamanatkan perluasan cakupan jaminan kesehatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cNamun, Pergub Aceh Nomor 2 Tahun 2026 justru membatasi. Ini merupakan bentuk penyimpangan norma dan ketidaksinkronan kebijakan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, regulasi yang berada di bawah Qanun tidak memiliki kewenangan untuk mengurangi atau membatasi hak yang telah dijamin dalam aturan yang lebih tinggi.(**)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh \u2013 Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) melontarkan kritik keras terhadap <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/04\/30\/dpra-kritik-sekda-absen-di-rdp-jka-dinilai-abaikan-tanggung-jawab\/\" title=\"DPRA Kritik Sekda Absen di RDP JKA, Dinilai Abaikan Tanggung Jawab\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":57434,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[15319],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-57433","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-pariwara"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=57433"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57433\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":57437,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/57433\/revisions\/57437"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/57434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=57433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=57433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=57433"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=57433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}