{"id":56046,"date":"2026-04-15T22:26:56","date_gmt":"2026-04-15T15:26:56","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=56046"},"modified":"2026-04-15T22:28:26","modified_gmt":"2026-04-15T15:28:26","slug":"bareskrim-bongkar-sindikat-phishing-internasional-raup-rp25-miliar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/04\/15\/bareskrim-bongkar-sindikat-phishing-internasional-raup-rp25-miliar\/","title":{"rendered":"Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing Internasional, Raup Rp25 Miliar"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Jakarta<\/strong> \u2013 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil membongkar sindikat penjualan phishing tools yang beroperasi lintas negara dengan total keuntungan mencapai Rp25 miliar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dua tersangka berinisial GWL dan FYTP ditangkap di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Kamis (9\/4\/2026). Pengungkapan kasus ini bermula dari patroli siber yang menemukan situs mencurigakan yang menjual script phishing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil penelusuran mengarah pada platform <a href=\"http:\/\/w3llstore.com\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer nofollow\">w3llstore.com<\/a> yang digunakan untuk mendistribusikan tools melalui bot di aplikasi Telegram. Tools tersebut diketahui dapat digunakan untuk mencuri data sensitif korban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kadivhumas Polri, Johnny Eddizon Isir, menjelaskan bahwa perangkat phishing itu mampu menyedot kredensial seperti username dan password, bahkan mengambil session login pengguna.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTools ini memungkinkan pelaku mengakses akun korban tanpa perlu kode OTP, sehingga sangat berbahaya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengungkapan kasus ini juga melibatkan kerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) guna mengidentifikasi korban di Amerika Serikat sekaligus menelusuri jaringan pelaku.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam aksinya, GWL berperan sebagai pembuat sekaligus pengelola tools serta sistem distribusi, sedangkan FYTP mengatur aliran dana hasil kejahatan melalui mata uang kripto dan rekening bank.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Modus transaksi pun berkembang dari penggunaan situs web menjadi melalui Telegram dengan sistem pembayaran berbasis kripto, sehingga lebih sulit dilacak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari hasil penyidikan, korban tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari berbagai negara lain, menegaskan bahwa kejahatan ini merupakan bagian dari kejahatan siber transnasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Polisi turut mengamankan aset senilai Rp4,5 miliar berupa rumah, kendaraan, dan barang elektronik. Sementara dari penelusuran transaksi sejak 2021 hingga 2026, kedua tersangka diperkirakan telah meraup keuntungan hingga Rp25 miliar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Johnny menegaskan, pengungkapan ini menjadi bukti komitmen Polri dalam menjaga keamanan ruang digital serta memperkuat kerja sama internasional dalam memberantas kejahatan siber.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIni menunjukkan bahwa Indonesia bukan tempat aman bagi pelaku kejahatan siber. Kami akan terus menindak tegas dan mengembangkan kasus ini,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini, penyidik masih melakukan pengembangan untuk mengungkap pihak lain yang terlibat, termasuk para pembeli dan pengguna tools phishing tersebut.(**)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri berhasil membongkar sindikat penjualan <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/04\/15\/bareskrim-bongkar-sindikat-phishing-internasional-raup-rp25-miliar\/\" title=\"Bareskrim Bongkar Sindikat Phishing Internasional, Raup Rp25 Miliar\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":56048,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[55],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-56046","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-polda-aceh"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56046","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=56046"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56046\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":56051,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/56046\/revisions\/56051"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/56048"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=56046"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=56046"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=56046"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=56046"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}