{"id":47103,"date":"2026-01-27T16:52:09","date_gmt":"2026-01-27T09:52:09","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=47103"},"modified":"2026-01-27T16:53:18","modified_gmt":"2026-01-27T09:53:18","slug":"plt-kadisdik-aceh-dorong-sekolah-bermental-bisnis-aset-negara-harus-produktif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/01\/27\/plt-kadisdik-aceh-dorong-sekolah-bermental-bisnis-aset-negara-harus-produktif\/","title":{"rendered":"Plt. Kadisdik Aceh Dorong Sekolah Bermental Bisnis: \u201cAset Negara Harus Produktif"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh \u2013<\/strong> Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.SP, mendorong kepala sekolah dan jajaran pendidikan untuk mengubah cara pandang dalam mengelola aset dan potensi sekolah.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, berbagai fasilitas yang dititipkan negara\u2014mulai dari gedung, listrik hingga peralatan\u2014bukan untuk dibiarkan stagnan, tetapi harus dikelola secara produktif dan berorientasi hasil.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Murthalamudin saat menghadiri penandatanganan MoU antara PT. Global Mandiri USK dengan BLUD SMKN 1, 2 dan 3 Banda Aceh di Aula SMKN 3 Banda Aceh. Selasa, 27 Januari 2026.<\/p>\n<p>Murthalamuddin menyinggung lemahnya mental kewirausahaan di kalangan aparatur pendidikan. Menurutnya, banyak sekolah memiliki peluang besar untuk berkembang, namun gagal karena tidak berani membaca pasar dan mengelola potensi secara profesional.<\/p>\n<p>\u201cKalau semua biaya dasar sudah ditanggung negara, seharusnya sekolah punya ruang besar untuk menciptakan keuntungan. Ini soal mental,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan peluang usaha berbasis kompetensi keahlian SMK yang selama ini belum dimaksimalkan. Mulai dari jasa produksi, bengkel, hingga pemanfaatan lahan dan limbah organik, semua bisa bernilai ekonomi jika dikelola dengan pendekatan bisnis yang tepat.<\/p>\n<p>\u201cBukan asal jalan, tapi harus untung. Kalau tidak, sama saja seperti lembu makan plastik\u2014masuk, keluar, tidak pernah gemuk,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Murthalamuddin juga membagikan pengalaman pribadinya yang pernah terpuruk secara ekonomi saat pandemi, hingga bangkit kembali melalui dunia sales dan kewirausahaan. Dari pengalaman itu, ia menilai kemampuan membaca peluang, menjual gagasan, dan mengelola jejaring menjadi kunci utama keberhasilan.<\/p>\n<p>Ia menekankan, keberhasilan bukan ditentukan oleh gelar akademik semata, melainkan kecakapan mengelola potensi. \u201cSekolah jangan takut berinovasi. Kalau tidak mampu menjalankan, beri ruang kepada yang mau dan mampu,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Menutup arahannya, Murthalamuddin mengajak seluruh kepala sekolah untuk membangun mental game uang\u2014cara berpikir realistis dan produktif dalam mengelola sumber daya. \u201cKalau orang tanpa modal bisa hidup, kenapa kita yang sudah dimodali negara tidak bisa?\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Marwan, menyampaikan komitmen USK untuk terus memperkuat kolaborasi dengan SMK, khususnya dalam pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).<\/p>\n<p>\u201cPengelolaan BLUD yang baik akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pendidikan, karena hasilnya dapat dikembalikan untuk pengembangan sekolah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Bisnis dan Dana Lestari USK, Dr. Syaifullah Muhammad, serta Direktur Utama PT Global Mandiri USK, Rizalsyah.[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh \u2013 Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2026\/01\/27\/plt-kadisdik-aceh-dorong-sekolah-bermental-bisnis-aset-negara-harus-produktif\/\" title=\"Plt. Kadisdik Aceh Dorong Sekolah Bermental Bisnis: \u201cAset Negara Harus Produktif\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":47104,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[3740],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-47103","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-pendidikan"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47103","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=47103"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47103\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":47105,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/47103\/revisions\/47105"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/47104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=47103"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=47103"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=47103"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=47103"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}