{"id":44178,"date":"2025-12-22T14:15:52","date_gmt":"2025-12-22T07:15:52","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=44178"},"modified":"2025-12-22T14:15:52","modified_gmt":"2025-12-22T07:15:52","slug":"trauma-korban-banjir-dan-longsor-aceh-dinilai-lebih-berat-dari-tsunami-2004-psikolog-ungkap-penyebabnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/12\/22\/trauma-korban-banjir-dan-longsor-aceh-dinilai-lebih-berat-dari-tsunami-2004-psikolog-ungkap-penyebabnya\/","title":{"rendered":"Trauma Korban Banjir dan Longsor Aceh Dinilai Lebih Berat dari Tsunami 2004, Psikolog Ungkap Penyebabnya"},"content":{"rendered":"<p><strong>Aceh<\/strong> \u2014 Lebih dari dua dekade setelah tsunami dahsyat 2004, Aceh kembali menghadapi krisis kemanusiaan. Namun kali ini, luka yang ditinggalkan tidak hanya soal kerusakan fisik, melainkan trauma psikologis yang dinilai lebih berat dari bencana terbesar dalam sejarah Indonesia tersebut.<\/p>\n<p>Psikolog klinis Yulia Direzkia, yang pernah terjun langsung sebagai relawan saat tsunami Aceh 2004, menilai bahwa dampak psikologis banjir dan longsor yang saat ini melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara jauh lebih mengkhawatirkan.<\/p>\n<p>Menurut Yulia, akar masalahnya bukan semata pada besarnya bencana, melainkan pada lambannya pemenuhan kebutuhan dasar penyintas hingga berminggu-minggu setelah bencana terjadi.<\/p>\n<p>Kebutuhan Dasar Tak Terpenuhi, Trauma Kian Mengendap<\/p>\n<p>Dalam fase tanggap darurat bencana, penyintas seharusnya segera mendapatkan kebutuhan paling mendasar, seperti:<\/p>\n<p>pangan dan air bersih<\/p>\n<p>tempat tinggal sementara<\/p>\n<p>keamanan<\/p>\n<p>pakaian layak<\/p>\n<p>layanan medis<\/p>\n<p>sanitasi dan kebersihan<\/p>\n<p>akses informasi dan komunikasi<\/p>\n<p>Namun di banyak wilayah terdampak bencana saat ini, kebutuhan tersebut belum sepenuhnya terpenuhi meski bencana telah berlalu lebih dari 20 hari.<\/p>\n<p>\u201cSeharusnya pada fase ini kita sudah masuk ke PFA (Psychological First Aid), dukungan psikologis awal. Tapi kenyataannya, kebutuhan fisik saja belum terpenuhi. Basic need-nya belum ada, bagaimana mau bicara pemulihan mental?\u201d ujar Yulia.<\/p>\n<p><strong>PFA Mandek Karena Sistem Bantuan Tak Siap<\/strong><\/p>\n<p>PFA atau Psychological First Aid merupakan bentuk pertolongan psikologis awal tanpa terapi dan tanpa diagnosis. Tujuannya sederhana namun krusial: menenangkan penyintas, menguatkan mereka, dan mengembalikan rasa aman.<\/p>\n<p><strong>PFA memiliki tiga tahapan utama:<\/strong><\/p>\n<p>Look (mengamati) kondisi dan kebutuhan penyintas<\/p>\n<p>Listen (mendengarkan) keluhan dan emosi mereka<\/p>\n<p>Link (menghubungkan) dengan layanan bantuan, keluarga, dan informasi resmi<\/p>\n<p>Namun justru tahap ketiga inilah yang saat ini hampir mustahil dilakukan.<\/p>\n<p>\u201cMau menghubungkan ke siapa? Dapur umum di mana? Posko kesehatan di mana? Itu masalah besarnya,\u201d kata Yulia.<\/p>\n<p>Tanpa sistem bantuan yang jelas, penyintas terjebak dalam ketidakpastian yang berkepanjangan.<\/p>\n<p><strong>Dibanding Tsunami 2004, Bantuan Saat Ini Jauh Tertinggal<\/strong><\/p>\n<p>Yulia membandingkan situasi ini dengan pengalamannya saat tsunami Aceh 2004. Kala itu, meski kerusakan jauh lebih masif, pemenuhan kebutuhan dasar berlangsung relatif cepat.<\/p>\n<p>\u201cSaya ingat, hari ketiga atau kelima bantuan besar sudah datang. Ada rumah sakit terapung di kapal, tentara dari luar negeri membantu membersihkan kota dan rumah sakit,\u201d kenangnya.<\/p>\n<p>Berbeda dengan kondisi saat ini. Hingga lebih dari 20 hari pascabencana, masih ada wilayah yang:<\/p>\n<p>terisolasi<\/p>\n<p>sulit air bersih<\/p>\n<p>akses jalan tertutup lumpur<\/p>\n<p>listrik belum pulih penuh<\/p>\n<p>komunikasi terganggu<\/p>\n<p>layanan kesehatan jauh<\/p>\n<p>pengungsian tersebar tanpa pusat layanan<\/p>\n<p>Kondisi ini membuat penyintas kehilangan kemampuan pemulihan alami (self-healing).<\/p>\n<p><strong>Ancaman PTSD Mengintai Penyintas<\/strong><\/p>\n<p>Yulia menjelaskan bahwa trauma bencana dapat berkembang secara bertahap. Pada awalnya, penyintas mengalami acute stress disorder dalam rentang 1\u20133 bulan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, trauma bisa berkembang menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD) kronis setelah enam bulan.<\/p>\n<p>Gejala PTSD meliputi:<\/p>\n<p>menghindari pembicaraan tentang bencana<\/p>\n<p>kilas balik traumatis<\/p>\n<p>emosi mudah meledak<\/p>\n<p>gangguan tidur<\/p>\n<p>hingga keluhan fisik akibat tekanan psikologis (psikosomatis)<\/p>\n<p>\u201cKetika basic need tidak terpenuhi, mereka jadi tidak berdaya. Self protection mechanism tidak bisa aktif. Dan yang lebih parah, bantuan dari luar pun tidak kunjung hadir,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><strong>Bencana Tersebar, Penanganan Semakin Kompleks<\/strong><\/p>\n<p>Faktor lain yang memperberat situasi adalah pola bencana yang sporadis. Tidak seperti tsunami 2004 yang terfokus di kawasan pesisir seperti Banda Aceh dan Meulaboh, bencana kali ini menyebar di berbagai titik terpencil.<\/p>\n<p>\u201cWaktu tsunami, dampaknya terlokalisasi, sehingga penanganannya lebih cepat dan terpusat. Sekarang wilayah terdampak tersebar, sehingga jauh lebih kompleks,\u201d jelas Yulia.<\/p>\n<p><strong>Peringatan Keras bagi Negara<\/strong><\/p>\n<p>Yulia menegaskan, jika kondisi ini terus dibiarkan, Aceh dan wilayah terdampak lainnya berisiko menghadapi krisis kesehatan mental jangka panjang.<\/p>\n<p>\u201cTrauma berat bukan karena bencananya saja, tapi karena ketidakpastian, keterlambatan, dan rasa ditinggalkan,\u201d pungkasnya.(**)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aceh \u2014 Lebih dari dua dekade setelah tsunami dahsyat 2004, Aceh kembali <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/12\/22\/trauma-korban-banjir-dan-longsor-aceh-dinilai-lebih-berat-dari-tsunami-2004-psikolog-ungkap-penyebabnya\/\" title=\"Trauma Korban Banjir dan Longsor Aceh Dinilai Lebih Berat dari Tsunami 2004, Psikolog Ungkap Penyebabnya\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":44179,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[12455],"tags":[14243,14241,14242],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-44178","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-breakingnews","8":"tag-penyebabnya","9":"tag-psikolog","10":"tag-ungkap"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44178","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44178"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44178\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44180,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44178\/revisions\/44180"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44179"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44178"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44178"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44178"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=44178"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}