{"id":39779,"date":"2025-10-20T20:51:32","date_gmt":"2025-10-20T13:51:32","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=39779"},"modified":"2025-10-20T20:51:32","modified_gmt":"2025-10-20T13:51:32","slug":"drs-isa-alima-prihatin-gagal-raih-emas-di-stqh-nasional-2025-aceh-harus-segera-introspeksi-diri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/20\/drs-isa-alima-prihatin-gagal-raih-emas-di-stqh-nasional-2025-aceh-harus-segera-introspeksi-diri\/","title":{"rendered":"Drs. Isa Alima Prihatin: Gagal Raih Emas di STQH Nasional 2025, Aceh Harus Segera Introspeksi Diri"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH \u2013<\/strong> Pemerhati sosial-keagamaan Aceh, Drs. Isa Alima, menyampaikan rasa prihatin mendalam atas hasil yang diraih kafilah Aceh pada ajang Seleksi Tilawatil Qur\u2019an dan Hadis (STQH) Nasional XXVIII Tahun 2025 di Kendari, Sulawesi Tenggara.<\/p>\n<p>Dalam ajang bergengsi tingkat nasional itu, Aceh gagal meraih satu pun medali emas dan hanya membawa pulang empat gelar juara harapan. Kondisi ini dinilai mencerminkan adanya masalah serius dalam sistem pembinaan dan kaderisasi qari serta hafiz di daerah berjuluk Serambi Mekkah tersebut.<\/p>\n<p>\u201cSebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, hasil ini sangat memalukan. Aceh seharusnya menjadi contoh dalam bidang tilawah, tahfizh, dan tafsir Al-Qur\u2019an, bukan justru tertinggal. Ini saatnya kita semua melakukan introspeksi diri,\u201d ujar Drs. Isa Alima, Senin (20\/10\/2025).<\/p>\n<p>Ia menilai, kegagalan Aceh meraih prestasi maksimal di ajang keagamaan nasional menunjukkan lemahnya pembinaan berkelanjutan bagi para generasi Qur\u2019ani. Menurutnya, selama ini perhatian pemerintah dan lembaga keagamaan masih bersifat musiman dan belum menyentuh akar masalah.<\/p>\n<p>\u201cBakat dan potensi anak-anak Aceh sebenarnya luar biasa. Tetapi kalau pembinaannya tidak terarah dan tidak disiapkan dengan baik sejak dini, hasilnya seperti sekarang ini \u2014 jauh dari harapan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Isa Alima menekankan bahwa penerapan syariat Islam di Aceh seharusnya tidak hanya sebatas simbol dan aturan formal, melainkan juga tercermin dalam prestasi keagamaan yang konkret di tingkat nasional.<\/p>\n<p>\u201cKita bangga dengan status daerah syariah, tapi apa gunanya jika tidak diiringi dengan prestasi di bidang Al-Qur\u2019an? Syariat harus dihidupkan melalui semangat belajar, pengamalan, dan prestasi umatnya,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia mendorong Pemerintah Aceh, Kantor Wilayah Kementerian Agama, dan Dinas Syariat Islam untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan STQH, termasuk peningkatan pelatih, fasilitas, dan anggaran pembinaan.<\/p>\n<p>\u201cIni momentum perbaikan. Jangan sampai hasil seperti ini terulang di masa depan. Jika kita serius, Aceh pasti bisa kembali bangkit dan mengharumkan nama \u2018Serambi Mekkah\u2019 di ajang nasional,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Sebagai informasi, Kalimantan Timur dinobatkan sebagai juara umum STQH Nasional 2025. Sementara Aceh belum berhasil masuk sepuluh besar dan hanya memperoleh empat gelar juara harapan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH \u2013 Pemerhati sosial-keagamaan Aceh, Drs. Isa Alima, menyampaikan rasa prihatin <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/20\/drs-isa-alima-prihatin-gagal-raih-emas-di-stqh-nasional-2025-aceh-harus-segera-introspeksi-diri\/\" title=\"Drs. Isa Alima Prihatin: Gagal Raih Emas di STQH Nasional 2025, Aceh Harus Segera Introspeksi Diri\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":39780,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-39779","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39779","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39779"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39779\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39781,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39779\/revisions\/39781"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39780"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39779"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39779"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39779"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=39779"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}