{"id":38676,"date":"2025-10-04T16:32:14","date_gmt":"2025-10-04T09:32:14","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=38676"},"modified":"2025-10-04T16:32:14","modified_gmt":"2025-10-04T09:32:14","slug":"kapolda-aceh-waktunya-membangun-disharmoni-no","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/04\/kapolda-aceh-waktunya-membangun-disharmoni-no\/","title":{"rendered":"Kapolda Aceh: Waktunya Membangun, Disharmoni No"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH \u2013<\/strong> Kepala Polda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, mengajak semua kalangan menyebarkan aura positif untuk Aceh. \u201cSudah bukan waktunya lagi membahas disharmoni ataupun disintegrasi, sekarang waktunya membangun,\u201d katanya di Banda Aceh, Sabtu (4 Oktober 2025).<\/p>\n<p>Tapatnya, kata Irjen Marzuki, kita rakyat Aceh perlu memperkuat harmonisasi. \u201cMenciptakan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dari berbagai elemen yang berbeda agar dapat berjalan Bersama,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Irjen Marzuki menjelaskan bahwa upaya menciptakan hubungan yang baik dan serasi dalam masyarakat yang beragam adalah untuk mencapai kehidupan masyarakat yang damai, sejahtera dan saling menghormati.<\/p>\n<p>Tentu saja Irjen Marzuki menekankan pentingnya kolaborasi Pentahelix di Aceh. \u201cModel kolaborasi inovatif yang melibatkan lima elemen utama, yaitu pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media\u2014untuk mencapai tujuan bersama, dalam konteks Aceh adalah untuk membangun kesejahteraan Aceh.\u201d<\/p>\n<p>\u201cRasulullah SAW sudah memberi teladan bagaimana membangun Madinah yang kemudian kita mengenalnya sebagain konsep kota Madani,\u201d kata Irjen Marzuki. \u201cItu adalah konsep yang sangat harmoni, dan membangun sebuah peradaban yang mulia.\u201d<\/p>\n<p>Di Aceh, harmonisasi diterapkan oleh Sultan Iskanda Muda yang memerintah dari tahun 1607-1636. \u201cDi bawah kepemimpinannya, Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya, menjadi kerajaan terluas dan terkaya di kawasan Selat Malaka dan sebagian besar wilayah barat Nusantara,\u201d kata Irjen Marzuki.<\/p>\n<p>Salah satu jejak peninggalan harmonisasi era Sultan Iskandar Muda adalah Peunayong (sekarang dikenal sebagai Pecinan Aceh). Peunayong inilah simbol aman dan nyaman bagi tamu luar negeri yang datang ke Aceh. Sultan menjamu tamu di Peunayong. \u201cAceh menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai,\u201d kata Kapolda.<\/p>\n<p>Sultan juga menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan berbagai bangsa asing, membuat Aceh dikenal sebagai negeri yang kaya raya. \u201cAceh menjadi pusat pembelajaran Islam, menetapkan qanun yang adil dan melaksanakannya dengan tegas,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Jadi, Irjen Marzuki menambahkan, penerapan harmonisasi yang pernah dilakukan Sultan membuktikan kejayaan Aceh. \u201cBahkan meusyuhu sampai sekarang,\u201d kata Irjen Marzuki.<\/p>\n<p>Arti penting harmonisasi ini, kata Irjen Marzuki, adalah untuk menciptakan persatuan, mengurangi konflik, membangun masyarakat yang inklusif, dan meningkatkan efesiensi. \u201cDengan demikian investasi akan masuk, pabrik-pabrik terbangun, dan ekonomi meningkat. Kemiskinan dan pengangguran berkurang,\u201d katanya.[]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH \u2013 Kepala Polda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, mengajak <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/04\/kapolda-aceh-waktunya-membangun-disharmoni-no\/\" title=\"Kapolda Aceh: Waktunya Membangun, Disharmoni No\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":38677,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[55],"tags":[11703,1673,11702],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-38676","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-polda-aceh","8":"tag-disharmoni-no","9":"tag-kapolda-aceh","10":"tag-waktunya-membangun"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38676"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38676\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38678,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38676\/revisions\/38678"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38677"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38676"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=38676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}