{"id":38448,"date":"2025-09-01T17:52:01","date_gmt":"2025-09-01T10:52:01","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=38448"},"modified":"2025-09-30T02:55:37","modified_gmt":"2025-09-29T19:55:37","slug":"ketua-dpr-aceh-tantang-massa-tambah-tuntutan-pisahkan-aceh-dari-pusat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/09\/01\/ketua-dpr-aceh-tantang-massa-tambah-tuntutan-pisahkan-aceh-dari-pusat\/","title":{"rendered":"Ketua DPR Aceh Tantang Massa Tambah Tuntutan: \u201cPisahkan Aceh dari Pusat\u201d"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Banda Aceh \u2013<\/strong> Aksi unjuk rasa yang digelar berbagai elemen masyarakat di halaman gedung DPR Aceh (DPRA), Senin (1\/9\/2025) sore, berlangsung panas setelah Ketua DPR Aceh, Zulfadli, melempar pernyataan mengejutkan. Di hadapan massa, Zulfadli menantang agar tuntutan ditambah dengan poin pemisahan Aceh dari pemerintah pusat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Zulfadli, yang akrab disapa Abang Samalanga, didampingi sejumlah anggota DPRA serta Kapolda Aceh Brigjen Marzuki Ali Basyah, menemui massa yang membawa tujuh poin tuntutan. Ia membacakan seluruh isi tuntutan tersebut, termasuk penolakan terhadap rencana pembangunan lima Batalyon di Aceh.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Namun, sebelum menandatangani pernyataan sikap, Zulfadli meminta agar massa menambahkan satu poin lagi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cAtaupun minta poin satu lagi, pisah aja Aceh dengan pusat. Kau tulis biar aku teken,\u201d kata Zulfadli di depan ribuan pendemo.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pernyataan itu disambut riuh, namun massa tidak menambahkan poin tersebut. Akhirnya, Zulfadli menandatangani tujuh tuntutan yang sudah disodorkan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cKami atas nama DPR Aceh bersama rakyat Aceh menolak lima batalion,\u201d tegasnya sebelum meninggalkan lokasi aksi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><strong>Tujuh Tuntutan Massa<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Koordinator Lapangan, Misbah, menjelaskan bahwa aksi ini menuntut reformasi menyeluruh, baik terhadap DPR Aceh, DPR RI, maupun Polri.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cKami menuntut reformasi total DPR RI dan DPR Aceh. Hapus budaya korup, perbaiki fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Tolak wakil rakyat yang anti-demokrasi dan pro-oligarki,\u201d ujar Misbah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Selain itu, massa juga mendesak reformasi Polri, penghentian tindakan represif terhadap demonstran, serta penegakan hukum yang adil dan profesional. Mereka meminta aparat yang terlibat pelanggaran HAM segera dicopot dan seluruh kasus pelanggaran HAM di Indonesia, khususnya di Aceh, dituntaskan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Poin penting lainnya adalah penolakan terhadap rencana pembangunan batalyon baru di Aceh.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cPembangunan batalyon teritorial bukan solusi atas segala persoalan Aceh, terlebih Aceh masih menyimpan trauma masa lalu yang belum sepenuhnya pulih. Stop militerisasi, hormati semangat perdamaian MoU Helsinki, dan hormati supremasi sipil,\u201d tegas Misbah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dalam aksi tersebut, massa membawa bendera bulan bintang sebagai simbol perlawanan sekaligus penegasan identitas politik Aceh.(**)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh \u2013 Aksi unjuk rasa yang digelar berbagai elemen masyarakat di <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/09\/01\/ketua-dpr-aceh-tantang-massa-tambah-tuntutan-pisahkan-aceh-dari-pusat\/\" title=\"Ketua DPR Aceh Tantang Massa Tambah Tuntutan: \u201cPisahkan Aceh dari Pusat\u201d\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":38449,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[63],"tags":[11590],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-38448","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-parlementaria","8":"tag-ketua-dpr-aceh-tantang-massa-tambah-tuntutan-pisahkan-aceh-dari-pusat"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38448","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38448"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38448\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":38450,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38448\/revisions\/38450"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/38449"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38448"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38448"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38448"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=38448"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}