{"id":34609,"date":"2025-08-03T16:54:36","date_gmt":"2025-08-03T09:54:36","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=34609"},"modified":"2025-08-03T16:54:36","modified_gmt":"2025-08-03T09:54:36","slug":"20-tahun-helsinki-berselang-cakrawala-muda-aceh-tuntut-keadilan-substantif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/08\/03\/20-tahun-helsinki-berselang-cakrawala-muda-aceh-tuntut-keadilan-substantif\/","title":{"rendered":"\u200e20 Tahun Helsinki Berselang, Cakrawala Muda Aceh Tuntut Keadilan Substantif"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh \u2013<\/strong> Dua dekade pascaperjanjian damai Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia, sejumlah pertanyaan mendasar tentang keadilan dan demokrasi di Aceh kembali mencuat.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eHal ini menjadi sorotan utama dalam kegiatan \u201cMimbar Bebas Refleksi 20 Tahun Perdamaian Aceh\u201d yang digelar oleh Cakrawala Muda Aceh, pada Sabtu, 2 Agustus 2025, bertempat di aula SMKN 3 Banda Aceh.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAcara ini mengangkat tema \u201cDamai untuk Keadilan, Demokrasi, dan Kesenjangan Aceh\u201d, dan menjadi forum terbuka untuk berdialektika secara kritis atas capaian dan tantangan perdamaian di Aceh.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKegiatan ini mempertemukan berbagai elemen, mulai dari akademisi, tokoh politik, praktisi hukum, hingga generasi muda Aceh, untuk menilai ulang apakah damai yang dibangun selama ini benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat di tingkat akar rumput.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eKetua Umum Cakrawala Muda Aceh, Muhammad Revalansyah, dalam sambutannya menyampaikan kritik tajam terhadap narasi perdamaian yang selama ini lebih banyak dikonstruksi oleh kalangan elite.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cJika damai hanya menjadi proyek birokratik dan komoditas kekuasaan, maka kita sedang memelihara perdamaian yang rapuh. Damai harusnya hadir sebagai instrumen transformasi struktural,\u201d tegas Reval.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eSelain Reval, hadir pula Husnul Jamil, M.I.Kom., M.I.P., pengamat kebijakan publik yang menyoroti praktik \u201cdemokrasi delegatif\u201d di Aceh, di mana partisipasi masyarakat dikebiri sementara elite lokal mendominasi proses politik dan ekonomi.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cPerdamaian yang tidak menyentuh keadilan distributif hanya akan menghasilkan stabilitas semu. Kita sedang menyaksikan damai yang dibungkus rapi tapi meninggalkan luka sosial yang belum pulih,\u201d ujar Husnul.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAcara ini juga menghadirkan dr. H. Nasir Djamil, M.Si. (Anggota DPR RI), Safaruddin, S.H., M.H. Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), dan Jamaludin Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) yang masing-masing menyoroti tantangan legislasi, implementasi kebijakan reintegrasi, serta stagnasi dalam pengelolaan dana otonomi khusus (otsus).<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eAcara ini berlangsung pada Sabtu, 2 Agustus 2025, di aula SMKN 3 Banda Aceh. Momentum ini bertepatan dengan peringatan 20 tahun perjanjian damai Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eMenurut panitia penyelenggara dan para narasumber, meski secara fisik konflik telah berakhir, namun ketimpangan ekonomi, lemahnya kontrol sipil, serta minimnya keadilan transisional masih menjadi pekerjaan rumah besar di Aceh.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200e\u201cIndikator keadilan dan demokrasi substantif belum sepenuhnya terpenuhi. Transparansi dana otsus pun masih menjadi persoalan besar yang belum terselesaikan,\u201d tambah Reval.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200ePara pembicara sepakat bahwa perlu adanya perombakan menyeluruh terhadap tata kelola daerah pascakonflik. Hal ini mencakup: Mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam pengambilan kebijakan, Penguatan institusi masyarakat sipil, Transparansi penggunaan dana publik, Dan keberanian politik untuk mengevaluasi implementasi UUPA serta butir-butir MoU Helsinki secara jujur dan menyeluruh.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eCakrawala Muda Aceh melalui forum ini menegaskan bahwa keadilan substantif adalah fondasi utama bagi perdamaian yang berkelanjutan.<br \/>\n\u200e<br \/>\n\u200eCakrawala Muda Aceh menyerukan agar peringatan 20 tahun damai tidak hanya menjadi seremoni, tetapi momentum koreksi dan perbaikan nyata untuk masa depan Aceh yang lebih adil dan demokratis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh \u2013 Dua dekade pascaperjanjian damai Helsinki antara Gerakan Aceh Merdeka <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/08\/03\/20-tahun-helsinki-berselang-cakrawala-muda-aceh-tuntut-keadilan-substantif\/\" title=\"\u200e20 Tahun Helsinki Berselang, Cakrawala Muda Aceh Tuntut Keadilan Substantif\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":34610,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[31,2911],"tags":[10177,10178],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-34609","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-nasional","8":"category-news","9":"tag-20-tahun-helsinki-berselang","10":"tag-cakrawala-muda-aceh-tuntut-keadilan-substantif"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34609","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34609"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34609\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34611,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34609\/revisions\/34611"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34610"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34609"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=34609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}