{"id":27533,"date":"2025-03-25T11:05:26","date_gmt":"2025-03-25T04:05:26","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=27533"},"modified":"2025-03-25T11:05:26","modified_gmt":"2025-03-25T04:05:26","slug":"celana-pendek-di-bumi-syariat-ironi-yang-kian-nyata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/03\/25\/celana-pendek-di-bumi-syariat-ironi-yang-kian-nyata\/","title":{"rendered":"Celana Pendek di Bumi Syari\u2019at: Ironi yang Kian Nyata"},"content":{"rendered":"<p><strong>Banda Aceh \u2013<\/strong> Fenomena maraknya kaum lelaki mengenakan celana pendek di Banda Aceh semakin mencerminkan paradoks antara narasi dan realitas syari\u2019at Islam di Serambi Makkah. Sebagai kota yang menjadi barometer penerapan syari\u2019at Islam di Indonesia, pemandangan ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apakah nilai-nilai syari\u2019at mulai tergerus oleh tren?<\/p>\n<p>Tgk. Rusli Daud, S.H.I., M.Ag., anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, menyoroti fenomena ini sebagai bentuk pengabaian terhadap aturan yang telah lama ditetapkan. \u201cRegulasi tentang pakaian sesuai syari\u2019at Islam di Aceh masih berlaku dan harus dihormati. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak yang kurang peduli terhadap hal ini,\u201d tegasnya di Kantor MPU Banda Aceh, Selasa, 25 April 2025.<\/p>\n<p>Menurutnya, penerapan Islam secara kaffah tidak bisa terwujud tanpa keterlibatan semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, terutama di sektor fashion. \u201cKita tidak bisa hanya berharap pada regulasi tanpa ada kesadaran dari individu dan kolektif masyarakat. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>MPU Kota Banda Aceh bersama Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh sebagai bagian dari Muspida Plus telah berulang kali mengingatkan pentingnya berpakaian sesuai tuntunan syari\u2019at. Namun, kesadaran kolektif masih menjadi tantangan. \u201cMasyarakat harus memahami bahwa menjaga diri dan keluarga dari pakaian yang tidak sesuai dengan nilai Islam, seperti celana pendek dan pakaian ketat, adalah bagian dari komitmen terhadap syari\u2019at,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Tak hanya individu, para pelaku usaha juga memiliki peran strategis. \u201cSebagai pebisnis yang beroperasi di tanah syari\u2019at, seharusnya mereka tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga mempertimbangkan aspek moral dan nilai-nilai Islam,\u201d kata Tgk. Rusli. Keberadaan baliho yang menampilkan pria bercelana pendek di ruang publik, menurutnya, menjadi bukti bahwa masih ada pihak yang mengabaikan prinsip-prinsip syari\u2019at dan kearifan lokal.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menegakkan norma-norma syari\u2019at Islam. \u201cDukungan dari masyarakat, khususnya para pedagang dan pelaku usaha di Banda Aceh, sangat diperlukan agar kita bisa menjaga identitas kota ini sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, Tgk. Rusli Daud berharap agar masyarakat lebih sadar dan berperan aktif dalam menjaga syari\u2019at Islam di Aceh. \u201cSemoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk tetap beristiqamah dalam menegakkan syari\u2019at Islam secara kaffah di bumi Iskandar Muda,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Tgk. Rusli Daud, S.H.I., M.Ag<br \/>\nAnggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banda Aceh \u2013 Fenomena maraknya kaum lelaki mengenakan celana pendek di Banda <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/03\/25\/celana-pendek-di-bumi-syariat-ironi-yang-kian-nyata\/\" title=\"Celana Pendek di Bumi Syari\u2019at: Ironi yang Kian Nyata\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":27534,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[7657],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-27533","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita","8":"tag-celana-pendek-di-bumi-syariat-ironi-yang-kian-nyata"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27533","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27533"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27533\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27535,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27533\/revisions\/27535"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/27534"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27533"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27533"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27533"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=27533"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}