{"id":26148,"date":"2025-03-09T13:34:40","date_gmt":"2025-03-09T06:34:40","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=26148"},"modified":"2025-03-09T13:34:40","modified_gmt":"2025-03-09T06:34:40","slug":"bupati-dan-wabup-aceh-tamiang-koordinasi-dengan-bnpb-dalam-percepatan-penanganan-banjir-sungai-tamiang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/03\/09\/bupati-dan-wabup-aceh-tamiang-koordinasi-dengan-bnpb-dalam-percepatan-penanganan-banjir-sungai-tamiang\/","title":{"rendered":"Bupati Dan Wabup Aceh Tamiang Koordinasi Dengan BNPB Dalam Percepatan Penanganan Banjir Sungai Tamiang"},"content":{"rendered":"<p>Dok Humas Sekdakab Aceh Tamiang<\/p>\n<p>Karang Baru, Dailymail Indonesia<\/p>\n<p>Pengerukan sungai Tamiang, termasuk wilayah muara, diminta menjadi prioritas dalam strategi penanganan banjir sungai Tamiang. Hal ini dipaparkan Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (P) Drs. Armia Pahmi, MH, dalam pertemuan koordinasi bersama Deputi bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jawansah, Jumat (7\/3\/25) hari ini, di Graha BNPB, Jakarta.<\/p>\n<p>\u201cPendangkalan sungai menjadi salah satu penyebab banjir. Simpulan ini kami dapatkan setelah melakukan penelitian oleh Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekontruksi BPBD bersama LSM di Aceh Tamiang,\u201d ucap Bupati Aceh Tamiang di hadapan Deputi bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB tersebut.<\/p>\n<p>Pada paparannya, Bupati Armia yang pada kunjungannya didampingi Wakil Bupati, Ismail, serta Kepala Pelaksana BPBD dan Plt. Kepala Dinas Damkar, menjelaskan setidaknya dalam lima tahun terakhir, banjir kerap melanda terutama saat intensitas serta curah hujan tinggi. Sedimentasi sungai yang telah terbentuk dari puluhan tahun mengakibatkan air sungai melimpah, masuk ke permukiman bila debit air sungai Tamiang meninggi.<\/p>\n<p>\u201cDalam setahun banjir sekurangnya tiga sampai empat kali masuk ke permukiman warga kami,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut Bupati Armia, memaparkan kondisi Pendangkalan muara sungai Tamiang. Disebutkannya, pada tahun 2009, area kawasan muara masih memiliki luas 336 hektare dengan kedalaman 4-7 meter. Namun pada tahun 2019 area kawasan muara mengecil dengan tersisa 194 hektare.<\/p>\n<p>\u201cAda yang menjadi daratan akibat sedimentasi seluas 146 hektare dengan kedalaman 3-5 meter. Pada tahun 2022, pendangkalan sendimentasi di wilayah muara sungai Tamiang semakin meluas dengan cakupan 813 hektare dengan pendangkalan mencapai 1,5-3 meter,\u201d urainya lugas.<\/p>\n<p>Dalam kesempatan yang sama, Wabup Ismail mengakui ketersediaan sarana, prasarana dan alat tanggap bencana Aceh Tamiang sekarang masih belum cukup memadai, sementara ketersediaan dana pada APBK tidak mencukupi untuk belanja tersebut.<\/p>\n<p>\u201cBesar harapan kami, permintaan tanggap darurat ini disetujui,\u201d tuturnya saat berkoordinasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dok Humas Sekdakab Aceh Tamiang Karang Baru, Dailymail Indonesia Pengerukan sungai Tamiang, <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/03\/09\/bupati-dan-wabup-aceh-tamiang-koordinasi-dengan-bnpb-dalam-percepatan-penanganan-banjir-sungai-tamiang\/\" title=\"Bupati Dan Wabup Aceh Tamiang Koordinasi Dengan BNPB Dalam Percepatan Penanganan Banjir Sungai Tamiang\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":26150,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-26148","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26148","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26148"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26148\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26152,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26148\/revisions\/26152"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26150"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26148"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26148"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26148"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=26148"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}