{"id":24309,"date":"2025-02-12T18:08:15","date_gmt":"2025-02-12T11:08:15","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=24309"},"modified":"2025-02-12T18:08:15","modified_gmt":"2025-02-12T11:08:15","slug":"anggota-dpra-kritik-asas-dominus-litis-dalam-rkuhap-berpotensi-timbulkan-ketidakpastian-dan-lemahkan-peran-polri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/anggota-dpra-kritik-asas-dominus-litis-dalam-rkuhap-berpotensi-timbulkan-ketidakpastian-dan-lemahkan-peran-polri\/","title":{"rendered":"Anggota DPRA Kritik Asas Dominus Litis dalam RKUHAP: &#8220;Berpotensi Timbulkan Ketidakpastian dan Lemahkan Peran Polri&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong>BANDA ACEH \u2013<\/strong> Muhammad Zakiruddin, anggota DPRA Komisi VI 2024-2029 dari Partai Aceh (PA), menyatakan sikap tegas menolak penerapan Asas Dominus Litis dalam revisi Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP). Menurutnya, asas ini berisiko melemahkan kepastian hukum serta menimbulkan ketidakjelasan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Asas ini berpotensi melemahkan kepastian hukum dan menciptakan ketidakjelasan dalam sistem peradilan pidana,&#8221; ujar Muhammad Zakiruddin, Rabu (12\/2\/2025).<\/p>\n<p>Ia menekankan bahwa revisi KUHAP seharusnya bertujuan memperkuat kepastian hukum, bukan malah membuka celah multitafsir yang dapat memicu tumpang tindih kewenangan di antara aparat penegak hukum.<\/p>\n<p>&#8220;Asas Dominus Litis memberikan kewenangan lebih besar kepada jaksa dalam menentukan arah suatu perkara. Ini dapat berimplikasi pada subjektivitas yang tidak terkontrol dan menghambat efektivitas sistem peradilan,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa regulasi yang ideal harus menjamin kepastian, transparansi, dan akuntabilitas dalam penegakan hukum, bukan memperumit proses penanganan perkara.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan penerapan Asas Dominus Litis, jaksa memiliki kewenangan penuh yang berpotensi melemahkan peran Polri sebagai penyidik. Ini bisa membuat penyidik Polri kehilangan independensinya karena keputusan akhir berada di tangan jaksa,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Atas dasar itu, Muhammad Zakiruddin menegaskan penolakannya terhadap penerapan Asas Dominus Litis dalam RKUHAP. Ia meminta para pembuat kebijakan untuk lebih memprioritaskan substansi yang dapat menjamin keadilan substantif bagi masyarakat.<\/p>\n<p>&#8220;Saya juga mendorong adanya kajian lebih mendalam dengan melibatkan akademisi, praktisi hukum, dan masyarakat sipil guna menghasilkan regulasi yang lebih komprehensif dan sesuai dengan prinsip due process of law,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p>Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa hukum harus menjadi instrumen yang memberikan kepastian dan keadilan bagi rakyat, bukan malah menciptakan ketidakpastian baru dalam sistem peradilan.<\/p>\n<p>&#8220;Hukum harus menjadi alat yang memberikan kepastian dan keadilan bagi rakyat, bukan justru menciptakan ketidakpastian baru dalam sistem peradilan kita,&#8221; pungkasnya. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BANDA ACEH \u2013 Muhammad Zakiruddin, anggota DPRA Komisi VI 2024-2029 dari Partai <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/anggota-dpra-kritik-asas-dominus-litis-dalam-rkuhap-berpotensi-timbulkan-ketidakpastian-dan-lemahkan-peran-polri\/\" title=\"Anggota DPRA Kritik Asas Dominus Litis dalam RKUHAP: &#8220;Berpotensi Timbulkan Ketidakpastian dan Lemahkan Peran Polri&#8221;\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":24310,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[6429],"tags":[6684],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-24309","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-polres-pijay","8":"tag-anggota-dpra-kritik-asas-dominus-litis-dalam-rkuhap-berpotensi-timbulkan-ketidakpastian-dan-lemahkan-peran-polri"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24309","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=24309"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24309\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24311,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/24309\/revisions\/24311"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24310"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=24309"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=24309"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=24309"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=24309"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}