{"id":23433,"date":"2025-01-29T16:34:56","date_gmt":"2025-01-29T09:34:56","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=23433"},"modified":"2025-01-29T16:41:37","modified_gmt":"2025-01-29T09:41:37","slug":"obat-mata-yusra-yunita-hanya-untuk-tiga-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/01\/29\/obat-mata-yusra-yunita-hanya-untuk-tiga-hari\/","title":{"rendered":"Obat Mata Yusra Yunita Hanya untuk Tiga Hari"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Obat Tetes itu Baru Sekali Pakai<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong>KOTA JANTHO &#8211;<\/strong> Laporan obat mata kedaluarsa yang diakui menjadi penyebab parahnya infeksi mata oleh pasien Yusra Yunita seorang ibu rumah tangga di Gampong Rikieh Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, secara terbuka diklarifikasi oleh Plt Direktur RSUD Aceh Besar dr Susi Mahdalena MKM.<\/p>\n<p>\u201cObat mata itu kami berikan tanggal 27 Desember 2024, dan layaknya protap untuk obat mata, masa pakai hanya diresep untuk tiga hari, hingga tanggal 29,\u201d kata dr Susi, di Aceh Besar, Selasa (28\/1\/2025).<\/p>\n<p>Menurutnya, masa pakai obat mata tersebut hingga tanggal 31 Desember, adalah sesuai regulasi, karena saat memasuki tahun baru maka akan dikeluarkan obat yang sesuai dengan tanggalnya.<\/p>\n<p>\u201cJika pun, obat mata itu layaknya obat lain tidak diberikan , maka itu juga menjadi temuan pihak pengawas. Karena obat itu masih layak pakai, dan tanggalnya belum kedaluarsa. Intinya, obat mata yang kami berikan masih dalam tanggal pemakaian, bukan expired,\u201d tutur Susi.<\/p>\n<p>Pada sisi lain Plt Direktur RSUD Aceh Besar itu menambahkan, dari penelusuran tim dari RSUD ke rumah pasien, ternyata obat itu hanya baru digunakan sekali dari dua tetes per dua jam. Sesuai rekomendasi dari klinik spesialis. Penglihatan pasien memburuk bukan karena obat, namun karena infeksi akibat telah empat hari terkena gangguan baru dibawa ke rumah sakit.<\/p>\n<p>Menurut dr Susi, pasien awalnya datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Aceh Besar pada 27 Desember 2024 karena mengeluhkan nyeri mata akibat percikan lumpur. Pasien diarahkan ke poli spesialis mata, di mana dokter spesialis memberikan resep obat Natacen yang kemudian diambil dari depo IGD. &#8220;Mata merah akibat masuk lumpur ke dalam mata sudah empat hari,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Namun, pasien kembali datang ke IGD pada 28 Desember dengan keluhan kondisi mata memburuk setelah menggunakan obat tersebut. \u201cSaat itu, kami sudah menyarankan pasien untuk dirawat atau dirujuk ke rumah sakit lain, tetapi pasien menolak. Akhirnya, pasien secara mandiri pergi ke RS Meuraxa untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut,\u201d ujar dr. Susi.<\/p>\n<p>Pasien dirawat di RS Meuraksa hingga 1 Januari 2025, lalu melanjutkan pengobatan ke RS Harapan Bunda melalui rujukan dari Puskesmas Indrapuri.<\/p>\n<p>Pada 10 Januari 2025, pasien mengajukan komplain ke RSUD Aceh Besar dengan tuduhan bahwa obat yang diberikan sudah kedaluwarsa.<\/p>\n<p>Setelah menerima laporan, tim farmasi RSUD Aceh Besar melakukan investigasi langsung ke rumah pasien. \u201cKami memastikan bahwa obat Natacen tersebut diberikan sesuai prosedur dan masa pakai. Edukasi penggunaan obat juga telah disampaikan kepada pasien, yakni bahwa obat harus digunakan dalam bulan Desember dan tidak boleh digunakan setelah masa kedaluwarsa,\u201d tegas dr. Susi.<\/p>\n<p>Ia juga menjelaskan bahwa efek samping obat Natacen, seperti mata merah, gatal, atau perih, adalah reaksi umum yang wajar terjadi. \u201cKondisi pasien yang memburuk lebih disebabkan oleh infeksi dan jamur yang sudah parah pada mata saat pertama kali datang, bukan karena obat yang diberikan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>RSUD Aceh Besar menegaskan bahwa mereka tidak menelantarkan pasien dan telah menawarkan berbagai opsi perawatan, termasuk rawat inap dan rujukan. \u201cKami bertindak sesuai prosedur medis.<\/p>\n<p>Tuduhan penggunaan obat kedaluwarsa tidak berdasar karena obat yang diberikan masih dalam masa layak pakai,\u201d kata dr. Susi seraya menambahkan insiden itu juga telah dibahas dan ditelusuri oleh Komite Medik (Komdik) dan sejauh ini semua perlakuan telah on the track.<\/p>\n<p>Susi berharap kasus ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk memahami prosedur medis dan pentingnya edukasi terkait penggunaan obat. RSUD Aceh Besar juga mengimbau masyarakat untuk melaporkan keluhan atau masalah langsung ke unit komplain rumah sakit agar dapat ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Obat Tetes itu Baru Sekali Pakai KOTA JANTHO &#8211; Laporan obat mata <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2025\/01\/29\/obat-mata-yusra-yunita-hanya-untuk-tiga-hari\/\" title=\"Obat Mata Yusra Yunita Hanya untuk Tiga Hari\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":23435,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[58],"tags":[6413],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-23433","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-aceh-besar","8":"tag-obat-mata-yusra-yunita-hanya-untuk-tiga-hari"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23433","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=23433"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23433\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":23437,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/23433\/revisions\/23437"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23435"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=23433"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=23433"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=23433"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=23433"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}