{"id":17087,"date":"2024-10-09T11:32:40","date_gmt":"2024-10-09T04:32:40","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=17087"},"modified":"2024-10-09T11:32:40","modified_gmt":"2024-10-09T04:32:40","slug":"taman-nasional-gunung-leuser-tngl-sekundur-tenggulun-porak-poranda-apa-kita-buta-dan-diam-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2024\/10\/09\/taman-nasional-gunung-leuser-tngl-sekundur-tenggulun-porak-poranda-apa-kita-buta-dan-diam-saja\/","title":{"rendered":"Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Sekundur Tenggulun Porak Poranda &#8221; Apa Kita Buta Dan Diam Saja &#8220;"},"content":{"rendered":"<p>Aceh Tamiang, Dailymail Indonesia<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER (TNGL) begitu sebutannya, hadir di dua provinsi yang membelah wilayah Sumatera Utara dan Aceh [Tepatnya kabupaten Aceh Tamiang].<\/p>\n<p>Banyak cerita heroik tersaji di lahan yang penuh dengan keanekaragaman hayati berbiak di sana. Kini? Siklus itu terganggu akibat tangan jahil dan ulah manusia, mencabik dan di porak porandakan ekosistem habitatnya.<\/p>\n<p>Carut marut sengketa pun terjadi, karena kerakusan manusia, ingin menguasai lahan di wilayah TNGL secara ilegal dan serampangan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-17089 size-large\" src=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/IMG-20241009-WA0032-300x178.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"178\" \/><\/p>\n<p>Tak tanggung-tanggung, TNGL terus dicabik-cabik mencapai sebelas ribu hektar lebih lahan yang dieksploitasi dibuka dan dialih fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.<\/p>\n<p>\u2018Okupasi\u2019 lahan secara personal dan kelompok ilegal, memunculkan \u2018kohesi\u2019 dan \u2018prasmanan\u2019 cuan tak lazim terus saja menggerus areal TNGL itu, secara serampangan, membabi buta demi lembaran berharga.<\/p>\n<p>Mereka tak pernah hiraukan bencana \u2018menggelayut\u2019 menghantui masyarakat Aceh Tamiang. Apakah mereka berpikir tentang itu? Di benaknya hanya cuan haram hasil dari pembabatan hutan dan penguasaan lahan ilegal.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-17090 size-large\" src=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/IMG-20241009-WA0035-300x178.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"178\" \/><\/p>\n<p>Masyarakat hanya menerima prasmanan \u2018bancakan\u2019 bencana banjir bandang dan tahunan dari ulah mereka. Sangat tidak adil.<\/p>\n<p>Padahal sejak tahun 1997, kawasan kabel gajah [Pucuk Tenggulun] itu, merupakan bagian kawasan SM Sikundur, sebelum di tetapkan dalam kawasan TNGL Sikundur kurang lebih \u00b160.000 hektar, terletak antara Aceh Tamiang dengan Kabupaten Langkat Sumatera Utara.<\/p>\n<p>Dasar penetapan itu adalah SK Menhut RI nomor 276 \/ 1997, kawasan TNGL Sikundur yang merupakan bagian KEL, seluas 1.004.692 hektar dengan SK Menhut RI nomor 6589 tahun 2014 terjadi perubahan luasan tutupan lahan menjadi 838.872 hektar.<\/p>\n<p>Karena ada beberapa wilayah dalam TNGL mengalami kerusakan dan tidak bisa dipertahankan lagi, termasuk di wilayah kabel gajah (pucuk) Tenggulun sekitarnya yang berbatasan dengan kawasan Bukit Mas, Sekoci dan Sebetung Besitang Kabupaten Langkat.<\/p>\n<p>Termasuk pembukaan lahan TNGL Sikundur di Sibetung Besitang pada tahun 1998 yang mencapai 1.000 ha menjadi konflik dan sengketa antara HGU PT Putri Hijau dan PT Raya Padang Langkat menjadi perkebunan sawit.<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: left;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-17091 size-large\" src=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/IMG-20241009-WA0037-300x178.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"178\" \/><\/li>\n<\/ol>\n<p>\u201cApakah para pembalak itu mengerti arahan pungsi hutan dan cakupannya? Seyogianya, semua pihak harus memahami hal tersebut, untuk tidak mengubah tata guna hutan. Malah yang terjadi sebaliknya, pembabatan dan penguasaan lahan secara membabi buta,\u201d tegas Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari). Sayed Zainal M, SH. Pada mediaaceh.co.id. Selasa, 8 Oktober 2024 di Kualasimpang.<\/p>\n<p>Apalagi, Kawasan kabel gajah (pucuk) TNGL Sikundur, dulu sekitar tahun 1985, melintas lokasi 1,9 dab 1,10 diberikan izin jalan koridor (sebutan pasar batu) yang melintas ke arah Bukit Mas Besitang oleh Menteri Kehutanan untuk HPH PT RGM dan PT Cipta Rimba Djaya (TRD).<\/p>\n<p>Jalan Koridor yang digunakan untuk mengangkat kayu bulat ke Besitang dan ke Medan dengan membangun jembatan di sungai besi Besitang, daerah Bukit Mas.<\/p>\n<p>Sayed beberkan bahwa; Kawasan TNGL Sikundur di Tenggulun beberapa lokasi dengan sebutan daerah 1.2 \u2013 1.5 \u2013 1,6 \u2013 1.8, 1.9 \u2013 1.10 dan daerah kabel gajah (pucuk), kawasan TNGL Sikundur terutama daerah 1.0 dan 1.8 telah dijarah dan dibabat dan di beberapa titik dialihkan fungsi menjadi perkebunan sawit secara ilegal sampai saat ini sejak tahun 2000.<\/p>\n<p>Diketahui bersama bhawa; kawasan kabel gajah pernah dibuat pos TNGL dan dipindahkan pos tersebut di daerah kampung lama Tenggulun, dibangun secara permanen sekarang sudah ditutup dan tidak difungsikan lagi.<\/p>\n<p># Lahirnya Permendagri Nomor 28 Tahun 2020.<\/p>\n<p>Ringkasan lahirnya Permendagri nomor 28 tahun 2020, 19 Mei 2020<\/p>\n<p>Bupati Aceh Tamiang, 22 Agustus 2008 melalui Surat Keputusan (SK) nomor 389 \/ 2008 menetapkan pembentukan panitia Tapal batas TNGL di Kabupaten Aceh Tamiang, bekerja sama anggaran BPKHI Medan dengan persetujuan Bapak H. Abdul Latif [Kala itu].<\/p>\n<p>Lalu di medio 2 Agustus 2010, H. Abdul Latif, menerbitkan SK nomor 542\/2010 tentang pembentukan tim pengarah tim teknis penegasan batas daerah<\/p>\n<p>Dan tanggal, 14 Agustus 2010 diadakan rapat persiapan lanjutan pemasangan pilar batas (PBA) Aceh Sumut, berkaitan kawasan TNGL Sikundur Tenggulun, segmen batas dengan Bukit Mas Besitang.<\/p>\n<p>Konsultannya saat itu PT. Triple C dan Datok Penghulu Tenggulun DT. Ahmad Siddiq [dulu]. Yang sebelumnya DT. Ahmad Siddiq pada bulan Oktober 2009, membuat keterangan sejarah dan asal usul keberadaan kawasan Sikundur bersama Camat Besitang 22 Oktober 2009 dan tim Tapem Pemerintah Kabupaten Langkat memberi dukungan pemasangan pilar Tapal batas.<\/p>\n<p>Pada beberapa kali pertemuan antara Pemerintah Aceh, Pemda Langkat dan Sumut dalam rangka padu serasi sekitar tahun 2017 \u2013 2019 berkaitan Tapal batas. Selanjutnya pada 26 Maret 2014 Gubernur Aceh Zaini Abdullah melalui SK Gubernur nomor 522 \/ 2009 \/ 2014 meneribitkan panitia tapal batas kawasan hutan Kabupaten Aceh Tamiang \/ Kota di wilayah Aceh<\/p>\n<p>Dengan disahkan Permendagri nomor 28 \/ 2020 19 Mei 2020 oleh Mendagri RI Muhammad Tito Karnavian tentang Persetujuan batas daerah Kabupaten Aceh Tamiang Aceh dengan Kabupaten Langkat Sumatera Utara.<\/p>\n<p>Rujukannya, SK dalam Permendagri tersebut terutama dari titik koordinat 47 arah Tenggara sampai koordinat<\/p>\n<p>48 LU 04 \u00b0 00\u2019 27.228\u2019 BT 98 \u00b0 04\u2019 37, 159\u201d dan koordinat LU 03 \u00b0 59\u2019 58, 27\u201d BT 98 sampai dengan 75, ke arah Barat Daya sampai pada titik Kartometrik adalah kordinat yang ditentukan berdasarkan pengukuran dan perhitungan posisi dengan menggunakan peta dasar dan peta lainnya.<\/p>\n<p>Kawasan inilah yang merupakan bagian kawasan TNGL Sikundur yang sebelum ada Permendagri RI nomor 28 tahun 2020 berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Langkat Sumatera Utara.<\/p>\n<p>Dengan pengesahan Tapal batas oleh Mendagri RI 19 Mei 2020, perkiraan dari titik kordinat 47 sampai dengan 75 kawasan TNGL Sikundur di Tenggulun masuk ke wilayah administrasi Kabupaten Aceh Tamiang mencapai \u00b17000 ha.<\/p>\n<p>Kawasan inilah yang terus dibabat, dijarah. Kegiatan ilegal Loging dengan pembukaan akses jalan dengan menggunakan alat berat (beko \u2013 buldozer) serta mengalihkan fungsi menjadi perkebunan sawit secara ilegal dengan modus atas nama masyarakat Tenggulun tanpa ada bisa menghentikan termasuk BB \u2013 TNGL.<\/p>\n<p># Upaya Penguasaan Lahan Di Kawasan Kabel Gajah [Pucuk] TNGL Sikundur.<\/p>\n<p>Bulan Februari 2021, Kelompok Tani (Poktan) Swakarsa Mandiri domisili Tenggulun digugat di PN Stabat oleh Bukhori, warga Medan Aplas sebagai penggugat dan akhirnya para pihak melakukan perdamaian, dan Poktan Swakarsa Mandiri menguasai lahan di kawasan kabel gajah (Pucuk) TNGL Sikundur kurang lebih seluas 1.100 hektar.<\/p>\n<p>Penguasaan lahan tersebut untuk melakukan eksekusi berdasarkan keputusan PN Stabat nomor 7 \/ Pen Eks \/ akta perdamaian \/ 2020 \/ PN Stabat.<\/p>\n<p>Objek lokasinya berada dalam kawasan TNGL Sikundur Tenggulun [berdasarkan Permendagri RI nomor 28\/2020], berada dalam administrasi Kabupaten Aceh Tamiang yang lokasi kabel gajah telah dikuasai oleh kelompok Jumadi Cs<\/p>\n<p>\u201dKemudian di bulan Mei 2021 Bupati Aceh Tamiang Mursil, SH [dulu] membuat telaah kepada Gubernur Aceh, bunyinya agar Gubernur memberikan pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri, Gubernur Sumatera Utara dan Mahkamah Agung RI, bahwa objek lokasi sengketa yang dimaksud dalam gugatan lokasi kabel gajah [pucuk] adalah wilayah administrasi Kabupaten Aceh Tamiang,\u201d Sebutnya.<\/p>\n<p>Merujuk pada Permendagri RI tersebut dan surat Gubernur Aceh yang disampaikan tanggal 8 April 2021. Sehingga sejak April 2021, kurang lebih seluas 1.100 hektar tidak dikuasai oleh Poktan Swakarsa Mandiri dan Bukhori, namun lokasi yang terletak di kabel gajah itu, dilakukan alih fungsi menjadi kebun sawitan oleh Jumadi CS dengan modus jual beli lahan padahal garapan itu adalah milik warga Tenggulun \u00b1 luas 400 hektar pada titik kordnat<\/p>\n<p>LU 03 \u00b0 57\u2019 48,1 \u201c BT 98\u00b0 00\u2019 44,01\u201d<\/p>\n<p>LU 03 \u00b0 57\u2019 34,7 \u201c BT 98\u00b0 00\u2019 40,07\u201d<\/p>\n<p>LU 03 \u00b0 57\u2019 24,3\u201d BT 98\u00b0 00\u2019 41,2\u201d.<\/p>\n<p># Temuan LembAHtari<\/p>\n<p>Lalu pada bulan Juli 2018, kawasan lokasi 1,8, berbatasan dengan lokasi 1,9 TNGL Sikundur hampir \u00b1 400 ha telah dialihkan fungsi menjadi perkebunan sawit.<\/p>\n<p>Aktivitasnya dimulai perambahan sekitar tahun 2000 \u2013 2001, dan pada tahun 2018 pemilik lahan melakukan replanting tahap 1 dan lokasi sejak tahun 2022 dialihkan menjadi pemilik lahan Edi Limin, pengusaha perkebunan sawit asal dari Sumatera Utara.<\/p>\n<p>Indikasi dan modus mendapatkan lahan itu sejak awal, berdasarkan jual beli lahan berlabel surat keterangan garap yang di terbitkan mantan Datok Tenggulun A. Sidik [telah Almarhum]. Sedangkan kawasan ini termasuk dalam kawasan wilayah Aceh Tamiang yang di tetapkan dalam Permendagri RI nomor 28 tahun 2020.<\/p>\n<p>Sedangkan dilokasi 1,2 bersebelahan dengan 1,5 dan 1,6 bagian kawasan TNGL Sikundur pada Januari 2022, mencapai secara intensif dan pembukaan dengan menggunakan alat berat (eskavator \u2013 buldozer) indikasi atas nama Jumadi CS dan saat ini telah mulai panen. [Lokasi \u2013 lokasi ini berbatasan dengan kawasan Sibetung Bukit Mas Besiitang Kabupaten Langkat].<\/p>\n<p>Dan Badan Reintegrasi Aceh (BRA) satuan kerja Aceh Tamiang pada waktu itu, melalui surat Nomor 38\/X\/2022, tanggal 10 Oktober 2022 mengusulkan kepada Bupati Aceh Tamiang (Bapak Mursil, SH) merekomendasikan peruntukan lahan pertanian bagi mantan korban konflik, Napol\/Tapol seluas \u00b1 3.000 hektar.<\/p>\n<p>Lalu Mursil, SH menerbitkan SK nama \u2013 nama penerima manfaat sebanyak 1.222 orang dengan SK Nomor 47\/1207\/2022 Tanggal 30 Desember 2022, Mursil, SH melalui surat Nomor 590\/6043 mengajukan permohonan pelepasan kawasan \u00b1 seluas 3.000 ha, dalam kawasan TNGL Sikundur Tenggulun.<\/p>\n<p>Berdasarkan peta lokasi, Usulun berada di lokasi 1,9 yang bersebelahan dengan lokasi 1,5 \u2013 1,6 dan 1,8. Dari data yang ada, nama \u2013nama yang di usulkan hanya 1.222 orang [masing \u2013 masing 2 ha], sedangkan lokasi usulan seluas 3.000 ha<\/p>\n<p>\u201cYa, kita LembAHtari menemukan bahwa telah menjadi penguasaan lahan TNGL Sikundur Tenggulun yang masuk dalam wilayah administrasi Aceh Tamiang [Permendagri Nomor 28\/Tahun 2020], telah terjadi pembalakan liar dan alih fungsi lahan\/kawasan TNGL Sikundur secara masif, dan terencana, tanpa ada tindakan nyata dari BB \u2013 TNGL untuk menghentikan aktivitas perusakan TNGL Sikundur, ini tidak boleh dibiarkan, harus ada sikap dan tindakan,\u201d jelas Sayed, yang juga ketua Forum CSR Aceh Tamiang.<\/p>\n<p>Kata Dua diduga pelaku adalah mafia tanah\/kebun sawit secara ilegal dan pembiayaan dari pengusaha kebun sawit dari Medan bekerja sama dengan Jumadi CS, warga asal Tenggulun.<\/p>\n<p># Hasil Monitoring<\/p>\n<p>Sejak Februari 2023 \u2013 September 2024, di beberapa lokasi kawasan TNGL Sikundur, lokasi genting, Sibetung kecil. 1,9 Sungai Besitang Kecil, arah air panas (Batu Candi) dan kabel gajah, telah terjadi pembukaan jalan dengan menggunakan alat berat (eskavatir), pembalakan dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit.<\/p>\n<blockquote><p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-17092 size-large alignleft\" src=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/IMG-20241009-WA0040-300x178.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"178\" \/><\/p><\/blockquote>\n<p>Bukti itu lapangan tersebut diperkuat oleh titik koordinat, N 03\u00b0 59\u2019 22,04\u201d E 97\u00b0 57\u2019 57,68\u201d N 03\u00b0 59\u2019 42,17\u201d E 97\u00b0 56\u2019 31,84\u201d N 03\u00b0 57\u2019 12,86\u201d N 03\u00b0 55\u2019 17,92\u201d E 98\u00b0 03\u2019 7,49\u201d E 97\u00b0 56\u201931,84\u201d<\/p>\n<p>N 03\u00b0 58\u2019 0,65\u201d N 03\u00b0 58\u2019 09,5\u201d<\/p>\n<p>98\u00b0 02\u2019 59,2\u201d E 98\u00b0 03\u201911,7\u201d<\/p>\n<p>N 03\u00b0 57\u2019 59,3\u201d N 03\u00b0 57\u2019 57,7\u201d E 98\u00b0 02\u2019 30,3\u201d E 98\u00b0 03\u2019 11,7\u201d N 03\u00b0 57\u2019 45,4\u201d N 03\u00b0 58\u2019 00,58\u201d E 98\u00b0 02\u2019 25,1\u201d E 98\u00b0 02\u201911,5\u201d N 03\u00b0 58\u2019 58,1\u201d N 03\u00b0 03\u00b059\u2019 08,3\u201d E 98\u00b0 02\u2019 25,1\u201d E. 98\u00b0 02\u2019 46,3\u201d N 03\u00b0 57\u2019 49,2\u201d N 03\u00b0 57\u2019 47,2\u201d E 98\u00b0 02\u2019 44,7\u201d E 98\u00b0 02\u2019 45,8\u201d.<\/p>\n<p>Sedangkan saat terbangkan drone, tanggal 5 Juni 2024 di kabel gajah pada titik koordinat N 03\u00b0 57\u2019 36,6\u201d; N 03\u00b0 57\u2019 36,66\u201d E 98\u00b0 00\u2019 39,0\u201d; E 98\u00b0 00\u2019 39,0\u201d; N 03\u00b0 57\u2019 47,8\u201d E 98\u00b0 00\u2019 44,0\u201d<\/p>\n<p># Saran, Inventarisir Ulang<\/p>\n<p>Sebut Sayed menyarankan, agar ada tindakan pencegahan dan tindakan pemghentian pembukaan kebun sawit dan pembalakan liar di kawasan Sikundur Tenggulun berdasarkan lokasi Tapal batas Permendagri RI Nomor 28 Tahun 2020.<\/p>\n<p>Inventarisasi ulang siapa \u2013siapa kelompok atau masyrakat yang memiliki, menguasai lahan dalam kawasan TNGL Sikundur Tenggulun di lokasi \u00b1 7.000 ha berdasarkan Penetapan atau pengesahan Tapal Batas Aceh Tamiang Aceh dengan Kab. Langkat Sumut.<\/p>\n<p>Atur peruntukan dan perencanaan pemanfaatan dan penglolaan kawasan TNGL Sikundur Tenggulun sesuai dengan fungsi kawasan<\/p>\n<p>Mengingat, Kawasan TNGL Sikundur Tenggulun dasar Pemendagri RI Nomor 28 tahun 2020 \u00b1 7.000 ha telah dikuasai mafia tanah dan kebun sawit, oknum pelaku (mafia tanah) perlu ada penegakan hukum dan harus diingat, oknum \u2013 oknum ini dekat dengan Aparat Penegak Hukum<\/p>\n<p>\u201cSaya kira, Ada indikasi, lahan \u00b1 seluas 3.000 ha untuk peruntukan korban konflik yang diusulkan oleh BRA satuan Aceh Tamiang indikasi dengan rencana peruntukan dan dengan dukungan oleh oknum mafia tanah\/kebun sawit dari Medan, melalui Jumadi CS,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Apalagi, oknum dan kelompok \u2013 kelompok tersebut sengaja menyampaikan isu \u2013isu di tengah masyarakat Tenggulun, bahwa kawasan hutan TNGL Sikundur yang berdasarkan Permendagri No. 28 tahun 2020 merupakan kawasan yang sudah di lepaskan fungsinya menjadi APL.<\/p>\n<p>\u201cTerutama itu; ditemukan bukti dan data kawasan TNGL Sikundur Tenggulun, terutama di lokasi Pasar Batu atau mulai dari Kabel Gajah 1,9 dan sekitar lokasi 1,10 diusulkan masuk dalam program PSR [Program Peremajaan Sawit Rakyat] untuk tahun 2024 dan telah pemetaan dibuat oleh BPKH XVIII Banda Aceh,\u201d saranya.<\/p>\n<p>Kata Sayed lagi, segera hentikan dan cegah pembabatan kawasan TNGL Sikundur Tenggulun di lokasi berdasarkan Permendagri No. 28 Tahun 2020, dengan membuat tim terpadu dari Provinsi Aceh dan Kabupaten Aceh Tamiang, dengan melibat pihak \u2013 pihak yang terkait unsur APH Provinsi Aceh, Gubernur, Bupati Aceh Tamiang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aceh Tamiang, Dailymail Indonesia TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER (TNGL) begitu sebutannya, hadir <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2024\/10\/09\/taman-nasional-gunung-leuser-tngl-sekundur-tenggulun-porak-poranda-apa-kita-buta-dan-diam-saja\/\" title=\"Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Sekundur Tenggulun Porak Poranda &#8221; Apa Kita Buta Dan Diam Saja &#8220;\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":17088,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-17087","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17087"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17087\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17093,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17087\/revisions\/17093"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17088"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17087"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=17087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}