{"id":11475,"date":"2024-05-14T17:02:48","date_gmt":"2024-05-14T10:02:48","guid":{"rendered":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/?p=11475"},"modified":"2024-07-05T17:08:38","modified_gmt":"2024-07-05T10:08:38","slug":"dpr-aceh-rumuskan-qanun-rencana-induk-penerapan-syariat-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2024\/05\/14\/dpr-aceh-rumuskan-qanun-rencana-induk-penerapan-syariat-islam\/","title":{"rendered":"DPR Aceh rumuskan qanun rencana induk penerapan syariat Islam"},"content":{"rendered":"<p><strong>Dailymailindonesia.com, Banda Aceh &#8211;<\/strong> Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) mulai membahas dan merumuskan rancangan qanun (peraturan daerah) terkait rencana induk penerapan syariat Islam.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Rancangan qanun ini merumuskan strategi pelaksanaan syariat Islam dalam jangka waktu 20 tahun ke depan,&#8221; kata Ketua Badan Legislasi DPRA Mawardi, di Banda Aceh, Selasa.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pembahasan rancangan qanun tersebut melibatkan 10 satuan kerja perangkat Aceh (SKPA), majelis permusyawaratan ulama (MPU), akademisi, para guru dayah (pesantren) hingga perwakilan organisasi masyarakat (ormas).<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Mawardi menjelaskan rancangan qanun grand design penerapan syarat Islam itu memiliki lima target utama yang mencakup tata kelola pemerintahan, pendidikan, kepastian hukum dan ekonomi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Rancangan qanus ini diharapkan menjadi pedoman bagi pembangunan Aceh dalam berbagai sektor, termasuk lingkungan, keuangan, dan ekonomi, serta akan dievaluasi secara berkala untuk menetapkan target baru,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dia menuturkan proses pembahasan rancangan qanun itu juga dengan berbagai metode, termasuk diskusi internal antara pemerintah dan badan legislasi DPRA, serta roadshow ke kabupaten\/kota untuk mendapatkan masukan dari tokoh masyarakat, dan ahli bidang terkait.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ia menekankan dalam proses rumusan ini diharapkan adanya dukungan serta masukan dari seluruh masyarakat Aceh, sehingga peraturan tersebut nantinya lebih sempurna.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Apalagi, nantinya juga diperlukan pengaturan yang bijaksana terkait penerapan syariat Islam, termasuk aturan bagi non Muslim,&#8221; kata Mawardi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sementara itu, salah seorang ulama Aceh Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab (Tu Sop Jeunieb) menyampaikan bahwa perlu strategi untuk memperkuat wilayah syariah dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kemudian, kata dia, syariat Islam perlu diterapkan dengan kecerdasan yang dapat dipertanggungjawabkan, baik dunia maupun akhirat. Untuk itu, pemegang otoritas dan kewenangan harus bersinergi.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Kita harus punya strategi untuk memperkuat wilayah syariah, juga perlu mensyariatkan perpolitikan di Aceh dan qanun yang bermoral buat generasi di dunia pendidikan,&#8221; kata Tu Sop.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Di sisi lain, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Syahrizal menegaskan bahwa rancangan qanun itu merupakan arah kebijakan pembangunan syariat Islam di Aceh, dan akan menjadi panduan bagi semua lembaga pemerintah dalam menjalankan syariat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Selama ini sudah banyak qanun yang berkaitan dengan syariat Islam, tetapi masih bersifat parsial. Ini adalah arah kebijakan dan pembangunan syariat Islam yang harus dijalankan semua lembaga pemerintahan di Aceh,&#8221; demikian Syahrizal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dailymailindonesia.com, Banda Aceh &#8211; Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) mulai <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/2024\/05\/14\/dpr-aceh-rumuskan-qanun-rencana-induk-penerapan-syariat-islam\/\" title=\"DPR Aceh rumuskan qanun rencana induk penerapan syariat Islam\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":11476,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[63],"tags":[2789],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-11475","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-parlementaria","8":"tag-dpr-aceh-rumuskan-qanun-rencana-induk-penerapan-syariat-islam"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11475"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11475\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11480,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11475\/revisions\/11480"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11476"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11475"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailymailindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}