BIREUEN — Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang identik dengan kebersamaan keluarga, suasana berbeda justru dirasakan puluhan warga terdampak banjir dan tanah longsor di Gampong Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Di saat sebagian masyarakat mulai mempersiapkan kebutuhan menyambut hari besar keagamaan, para penyintas bencana masih harus bertahan hidup di bawah tenda pengungsian dengan segala keterbatasan.
Hampir enam bulan pascabencana yang meluluhlantakkan kawasan tersebut, sejumlah keluarga hingga kini belum dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. Rumah-rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung dan pusat kehidupan keluarga kini tinggal kenangan. Sebagian bahkan telah hilang sepenuhnya akibat abrasi derasnya aliran Krueng Peusangan yang menggerus permukiman warga.
Di kawasan pengungsian sederhana yang berdiri di sekitar meunasah gampong, warga berupaya bertahan dalam kondisi serba terbatas. Terpal yang menjadi atap pelindung mulai tampak kusam dan rapuh dimakan waktu. Ketika hujan turun, udara dingin menusuk masuk melalui sela-sela tenda, sementara panas matahari di siang hari membuat kondisi di dalam tenda terasa pengap dan menyengat.
Bagi warga, bertahan di pengungsian selama berbulan-bulan bukan sekadar persoalan kehilangan tempat tinggal, tetapi juga perjuangan menjaga kesehatan, psikologis keluarga, dan masa depan anak-anak mereka.
Salbiah, salah satu penyintas, mengenang rumah yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarganya kini telah berubah menjadi aliran sungai. Tidak ada lagi bangunan yang tersisa, tidak ada perabot, bahkan tidak ada jejak kehidupan yang pernah dibangun bertahun-tahun.
Dengan suara lirih, ia menggambarkan bagaimana bencana telah mengubah hidupnya secara drastis.
“Sekarang lokasi rumah saya sudah menjadi sungai. Saya tidak punya apa-apa lagi,” ujarnya penuh harap.
Di lokasi pengungsian yang sama, Salbiah tinggal bersama belasan keluarga lainnya. Mereka saling menguatkan di tengah situasi sulit yang belum menunjukkan kepastian kapan akan berakhir. Namun, kondisi tenda yang semakin memprihatinkan mulai menimbulkan persoalan baru, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Saat malam tiba dan hujan mengguyur, hawa dingin sering kali membuat anak-anak jatuh sakit. Batuk, demam, dan gangguan kesehatan ringan menjadi keluhan yang kerap muncul akibat lingkungan tempat tinggal yang tidak memadai.
“Kalau malam hujan kami kedinginan, kalau siang panas sekali. Anak-anak juga sering demam dan batuk,” ungkap seorang warga dengan nada cemas.
Di tengah perjuangan tersebut, para penyintas mengaku masih menunggu kepastian berbagai bentuk bantuan yang sebelumnya dijanjikan pemerintah. Mereka berharap adanya realisasi Dana Tunggu Hunian (DTH), Jatah Hidup (Jadup), hingga bantuan perabot rumah tangga yang dinilai sangat penting untuk membantu memulihkan kondisi ekonomi keluarga.
Tak hanya itu, warga juga mengaku belum memperoleh penjelasan yang jelas terkait rencana pembangunan Hunian Sementara (Huntara) maupun Hunian Tetap (Huntap). Minimnya informasi membuat sebagian masyarakat hidup dalam ketidakpastian, terutama mengenai kapan mereka dapat memiliki tempat tinggal yang layak kembali.
Bagi para korban, kebutuhan paling mendesak saat ini bukan sekadar bantuan sembako, melainkan tempat tinggal sementara yang aman, nyaman, dan manusiawi untuk melindungi keluarga dari cuaca ekstrem.
“Kami berharap ada kejelasan. Yang paling penting sekarang adalah tempat tinggal sementara yang layak supaya anak-anak bisa hidup lebih baik,” ujar salah satu warga pengungsian.
Situasi tersebut semakin terasa menyayat hati ketika Hari Raya Idul Adha kian dekat. Jika biasanya momen lebaran diisi dengan kebersamaan di rumah, memasak bersama keluarga, serta menerima sanak saudara yang datang bersilaturahmi, tahun ini suasana itu belum bisa dirasakan sebagian warga Salah Sirong.
Alih-alih menyambut hari raya dengan suka cita, mereka masih hidup dalam ketidakpastian di balik tenda darurat, sembari berharap adanya perhatian serius dari pemerintah agar proses pemulihan pascabencana dapat segera dipercepat.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Bireuen bersama Pemerintah Aceh segera mengambil langkah konkret untuk memastikan para penyintas memperoleh tempat tinggal yang layak dan kehidupan yang lebih manusiawi. Sebab bagi mereka, pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun rumah kembali, tetapi juga memulihkan harapan hidup yang sempat runtuh diterjang bencana.
Idul Adha tahun ini pun menjadi pengingat bahwa di balik gema takbir yang akan berkumandang, masih ada keluarga-keluarga yang merayakan hari besar keagamaan dalam keterbatasan, sembari memendam harapan sederhana: pulang ke rumah, atau setidaknya memiliki tempat berteduh yang layak.(**)








