Pelajar Sawang Pertaruhkan Nyawa Seberangi Sungai Demi Sekolah

Aceh Utara12 Dilihat

Aceh Utara – Akses pendidikan bagi pelajar di kawasan terpencil Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, kian memprihatinkan. Sejak jembatan penghubung antar-gampong putus akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun lalu, para siswa terpaksa mempertaruhkan keselamatan demi bisa tetap bersekolah.

Kondisi ini terlihat di sejumlah gampong seperti Lhok Cut, Kubu, Blang Cut, dan Gunci. Jalur utama yang sebelumnya menjadi akses vital menuju pusat kecamatan kini tidak lagi dapat dilalui. Bahkan, sebagian ruas jalan lintas provinsi yang menghubungkan Aceh Utara dan Bireuen berubah menjadi aliran sungai baru akibat terjangan arus banjir yang begitu deras.

Sebagai solusi darurat, warga setempat bersama aparat memanfaatkan rakit sederhana untuk penyeberangan. Rakit tersebut dibuat dari papan kayu yang disusun di atas perahu karet bantuan kepolisian. Meski jauh dari kata aman, alat seadanya itu menjadi satu-satunya harapan bagi masyarakat, terutama pelajar, untuk tetap menjalani aktivitas sehari-hari.

Setiap hari, para siswa harus menyeberangi Krueng Sawang dengan rakit tersebut. Risiko keselamatan menjadi ancaman nyata, terutama saat debit air meningkat dan arus sungai menjadi deras. Rakit kerap bergoyang dan sulit dikendalikan, membuat para penumpang diliputi rasa cemas.

Zuraini (19), salah satu pelajar yang bersekolah di SMA Negeri 1 Sawang, mengungkapkan ketakutannya setiap kali harus menyeberang. Namun, demi meraih pendidikan, ia tetap memaksakan diri.

“Setiap hari harus naik rakit, kadang takut juga apalagi kalau arus deras. Rakit sering goyang dan terasa tidak seimbang,” ujarnya, kepada AJNN Sabtu (11/4/2026).

Tak hanya itu, saat kondisi air mulai surut, Zuraini bersama teman-temannya terkadang memilih alternatif lain dengan berjalan kaki menyeberangi sungai menggunakan pelampung. Mereka saling berpegangan untuk menjaga keseimbangan agar tidak terbawa arus.

Perjuangan tersebut bukan tanpa pengorbanan. Selain menghadapi risiko keselamatan, para pelajar juga harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp10 ribu setiap hari untuk ongkos penyeberangan rakit pulang-pergi. Bagi sebagian keluarga, beban ini cukup memberatkan.

Di sisi lain, kondisi jalan yang rusak parah turut memperparah keadaan. Jalanan yang licin dan berlumpur saat hujan sering menyebabkan pengendara, termasuk pelajar, terjatuh. Risiko cedera pun menjadi ancaman yang tak terhindarkan.

“Kami sering jatuh kalau naik motor, apalagi kalau hujan. Jalannya sangat ekstrem,” tambah Zuraini yang merupakan warga Gampong Lhok Cut.

Sebelumnya, masyarakat sempat mendapatkan bantuan jembatan Bailey dari pihak kepolisian sebagai pengganti sementara jembatan gantung yang hanyut. Namun, kerusakan lanjutan pada akses jalan membuat keberadaan jembatan tersebut belum mampu sepenuhnya mengatasi persoalan.

Warga dan para pelajar kini berharap adanya perhatian serius dari pemerintah. Mereka mendambakan pembangunan infrastruktur yang layak, khususnya jembatan permanen dan perbaikan jalan, agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal dan aman.

“Kami sangat berharap pemerintah segera turun tangan. Pendidikan kami terganggu karena akses yang sulit ini,” harap Zuraini.

Kondisi ini menjadi potret nyata ketimpangan akses pendidikan di daerah terpencil. Di tengah semangat belajar yang tinggi, para pelajar di Sawang justru dihadapkan pada tantangan berat yang seharusnya tidak mereka tanggung sendiri.(**)