Trump Ejek Kapal Induk Inggris, Hubungan AS–Inggris Memanas

Internasional4 Dilihat

London – Hubungan dua sekutu tradisional, Amerika Serikat dan Inggris, kembali diuji setelah pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump. Dalam sebuah komentar yang memicu reaksi keras, Trump menyebut kapal induk kebanggaan Inggris, HMS Queen Elizabeth, sebagai “mainan” yang dinilai tidak efektif dalam menghadapi ancaman militer modern.

Pernyataan tersebut muncul saat Trump membahas kesiapan koalisi Barat dalam merespons potensi ancaman rudal dari Iran di kawasan Teluk. Ia menilai bahwa kapal induk milik Inggris tersebut terlalu rentan dan tidak memiliki daya gempur yang memadai untuk menghadapi konflik berskala besar. Trump bahkan secara tersirat membandingkannya dengan kapal induk Amerika yang lebih besar dan bertenaga nuklir, seperti Gerald R. Ford-class aircraft carrier, yang menurutnya jauh lebih unggul dalam proyeksi kekuatan militer.

Komentar ini langsung memicu reaksi keras dari pemerintah Inggris. Melalui Kementerian Pertahanan, London menegaskan bahwa HMS Queen Elizabeth merupakan salah satu aset strategis paling canggih yang dimiliki negara tersebut. Kapal induk ini dirancang untuk menjalankan operasi udara global dengan dukungan pesawat tempur modern serta sistem pertahanan berlapis.

Sejumlah pejabat senior Inggris menyebut pernyataan Trump sebagai “tidak berdasar” dan berpotensi merusak hubungan erat antara kedua negara, khususnya dalam kerangka NATO. Mereka menilai bahwa solidaritas dan kepercayaan antar sekutu merupakan fondasi utama dalam menghadapi tantangan keamanan global yang semakin kompleks.

Ketegangan ini juga mencerminkan adanya perbedaan pandangan strategis di antara sekutu Barat. Jika Amerika Serikat cenderung mengedepankan dominasi teknologi dan kekuatan militer berskala besar, Inggris justru mengandalkan fleksibilitas dan kemampuan proyeksi kekuatan yang lebih adaptif.

Para pengamat militer menilai, polemik ini tidak sekadar soal pernyataan personal, melainkan bisa berdampak lebih luas terhadap kerja sama pertahanan di masa depan. Terutama dalam konteks penempatan armada Inggris di kawasan Timur Tengah, di mana koordinasi dengan AS menjadi kunci stabilitas kawasan.

Di sisi lain, reaksi publik di Inggris juga menunjukkan gelombang kekecewaan. Banyak pihak menilai bahwa sikap Trump mencerminkan arogansi Washington terhadap sekutunya sendiri. Kritik terbuka terhadap simbol kekuatan militer Inggris dianggap sebagai bentuk ketidakhormatan yang dapat mengganggu hubungan diplomatik jangka panjang.

Dalam situasi global yang semakin tidak menentu, perselisihan semacam ini dinilai berpotensi melemahkan posisi tawar Barat di hadapan kekuatan besar lain seperti Rusia dan China. Ketika persatuan dibutuhkan untuk menghadapi tantangan geopolitik, retorika yang memicu perpecahan justru dapat menjadi bumerang bagi stabilitas aliansi itu sendiri.

Meski demikian, sejumlah analis optimistis bahwa hubungan historis antara Amerika Serikat dan Inggris yang telah terjalin selama puluhan tahun tidak akan runtuh hanya karena satu pernyataan kontroversial. Namun, insiden ini menjadi pengingat bahwa komunikasi dan saling menghormati tetap menjadi kunci utama dalam menjaga soliditas antar sekutu.(**)