Arus Balik Lebaran di Aceh Memuncak, DPR Minta Antisipasi Serius

Parlementaria19 Dilihat

Banda Aceh – Pasca berakhirnya masa libur Hari Raya Idul Fitri, pergerakan arus balik di berbagai wilayah Aceh justru menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Kondisi ini terlihat jelas di sejumlah jalur utama penghubung antar kabupaten/kota, yang mulai dipadati kendaraan dari berbagai arah, terutama menuju ibu kota provinsi, Banda Aceh.

Salah satu titik yang mengalami kepadatan cukup tinggi adalah jalur lintas Banda Aceh–Meulaboh. Hingga Jumat (27/03/2026) selepas waktu magrib, arus kendaraan di kawasan tersebut terpantau padat merayap. Kepadatan didominasi oleh kendaraan pribadi yang datang dari arah Lamno, yang diketahui menjadi salah satu jalur favorit bagi wisatawan dan pemudik yang sebelumnya menghabiskan waktu libur lebaran di kawasan pesisir barat Aceh.

Mayoritas kendaraan yang melintas merupakan wisatawan yang kembali dari destinasi populer di wilayah Aceh Jaya dan Aceh Besar. Lonjakan ini menjadi indikasi bahwa arus balik belum sepenuhnya mereda, bahkan masih berpotensi meningkat menjelang dimulainya kembali aktivitas kerja dan perkantoran.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Anggota DPR Aceh, Irpanusir. Ia menilai pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah antisipatif yang konkret, cepat, dan terukur guna menghindari dampak yang lebih luas, seperti kemacetan parah hingga meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas.

Menurutnya, momen arus balik merupakan fase krusial yang membutuhkan kesiapsiagaan maksimal dari seluruh pihak terkait. Ia secara khusus meminta Dinas Perhubungan Aceh untuk berada dalam kondisi siaga penuh, tidak hanya secara administratif, tetapi juga secara teknis di lapangan.

“Arus balik jelang masuk kerja selalu menjadi titik paling rawan. Tanpa antisipasi yang matang, dampaknya bisa meluas, mulai dari kemacetan hingga potensi kecelakaan yang meningkat,” ujar Irpanusir.

Ia menegaskan bahwa kehadiran petugas di lapangan harus ditingkatkan, terutama di titik-titik rawan kepadatan. Selain itu, pengaturan lalu lintas yang responsif dan berbasis kondisi real-time sangat diperlukan, termasuk pemetaan akurat terhadap jalur-jalur yang berpotensi mengalami lonjakan kendaraan.

Lebih lanjut, politisi dari Partai Amanat Nasional tersebut juga mendorong diterapkannya rekayasa lalu lintas pada ruas-ruas tertentu jika terjadi lonjakan signifikan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kelancaran arus kendaraan sekaligus meminimalisir potensi kemacetan panjang.

Tak kalah penting, Irpanusir menekankan perlunya koordinasi lintas instansi, mulai dari kepolisian, Dinas Perhubungan, hingga pemerintah kabupaten/kota. Ia mengingatkan bahwa tanpa sinergi yang kuat, penanganan di lapangan berisiko tidak optimal dan justru memperburuk situasi yang ada.

Selain aspek kelancaran, ia juga menyoroti pentingnya keselamatan pengguna jalan. Tingginya volume kendaraan selama arus balik dinilai sangat rentan terhadap pelanggaran lalu lintas yang dapat berujung pada kecelakaan.

“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Pengawasan terhadap kecepatan kendaraan, kelayakan transportasi, hingga kepatuhan pengendara harus diperketat. Jangan sampai kelalaian berujung pada korban jiwa,” tegasnya.

Di sisi lain, Irpanusir juga memberikan apresiasi terhadap kinerja aparat kepolisian, khususnya polisi lalu lintas yang selama ini dinilai telah bekerja maksimal dalam mengatur arus kendaraan di lapangan. Kehadiran mereka, terutama di titik-titik rawan macet, terbukti mampu membantu mengurai kepadatan secara situasional.

Dengan meningkatnya intensitas arus balik ini, masyarakat juga diimbau untuk tetap berhati-hati selama perjalanan, mematuhi aturan lalu lintas, serta memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima. Kesadaran bersama menjadi kunci utama dalam menciptakan perjalanan yang aman dan lancar bagi seluruh pengguna jalan.(**)