SIGLI – Suasana Hari Raya Idul Fitri yang identik dengan kebahagiaan, kebersamaan, dan silaturahmi, diharapkan menjadi momentum yang membawa ketenangan bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun di sejumlah titik pusat kuliner di Sigli, suasana hangat tersebut justru sedikit terusik oleh keluhan warga terkait lonjakan harga makanan dan minuman di beberapa warung kopi (warkop) dan tempat jajanan.
Fenomena ini menjadi sorotan publik setelah banyak warga mengungkapkan ketidaknyamanan mereka atas harga yang dinilai naik drastis dibandingkan hari-hari biasa sebelum Lebaran. Tidak hanya masyarakat lokal, para perantau yang pulang kampung pun ikut merasakan hal serupa saat menikmati suasana lebaran di kampung halaman.
Menanggapi kondisi tersebut, pemerhati sosial dan kebijakan publik Aceh, Drs. M. Isa Alima, menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai bahwa momen Lebaran seharusnya dimaknai sebagai waktu untuk berbagi kebahagiaan, bukan justru dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan secara berlebihan.
“Lebaran memang membawa berkah bagi pelaku usaha. Warung ramai, pengunjung meningkat tajam. Tapi jangan sampai berkah itu berubah menjadi beban bagi masyarakat. Jangan gunakan istilah ‘aji mumpung’ dalam mencari keuntungan,” ujarnya dengan tegas.
Menurut Isa Alima, lonjakan pengunjung saat Lebaran adalah hal yang wajar. Banyak warga yang memanfaatkan momen libur panjang untuk berkumpul bersama keluarga dan sahabat, termasuk menghabiskan waktu di warung kopi yang menjadi bagian dari budaya sosial masyarakat Aceh. Namun, kondisi ini tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menaikkan harga secara sepihak tanpa pertimbangan yang adil dan transparan.
Ia mengingatkan bahwa pelanggan warung kopi tidak hanya terdiri dari pengunjung baru atau perantau, tetapi juga pelanggan setia dari masyarakat sekitar yang selama ini menjadi penopang utama keberlangsungan usaha tersebut.
“Jangan sampai pelanggan lama yang selama ini setia justru merasa dikhianati karena harga tiba-tiba melonjak tanpa penjelasan yang jelas. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal kepercayaan,” katanya.
Keluhan warga yang bermunculan umumnya berkaitan dengan harga menu yang melonjak tajam serta minimnya transparansi dari pihak usaha. Beberapa konsumen bahkan mengaku tidak mendapatkan rincian harga atau struk pembayaran, sehingga menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak nyaman.
Isa Alima menegaskan bahwa praktik semacam ini berpotensi mencederai nilai-nilai keadilan sosial dan rasa kemanusiaan, terutama di momen sakral seperti Idul Fitri yang sarat dengan pesan moral dan spiritual.
“Kalau memang ada penyesuaian harga, silakan saja. Tapi harus wajar, masuk akal, dan transparan. Jangan sampai terkesan zalim. Keuntungan yang diperoleh dengan cara tidak adil justru akan merusak kepercayaan konsumen dalam jangka panjang,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia juga mendorong pemerintah daerah serta instansi terkait untuk tidak tinggal diam. Pengawasan terhadap praktik usaha selama momen Lebaran dinilai penting agar tidak terjadi penyimpangan yang merugikan masyarakat luas.
“Kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa aktivitas ekonomi tetap berjalan sehat. Jangan sampai masyarakat merasa dirugikan di tengah momen yang seharusnya membawa kebahagiaan,” ujarnya.
Di tengah riuhnya percakapan, denting cangkir kopi, dan tawa yang memenuhi warung-warung di Sigli, ada harapan sederhana yang menggema di hati masyarakat: agar harga tetap bersahabat, pelayanan tetap tulus, dan kepercayaan tetap terjaga.
Lebaran, pada akhirnya, bukan hanya tentang perayaan. Ia adalah cermin nilai—tentang kejujuran, keadilan, dan kepedulian antarsesama. Ketika semua itu dijaga, maka berkah Lebaran benar-benar akan dirasakan oleh semua pihak, baik pelaku usaha maupun masyarakat sebagai konsumen.(**)






