IRAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam setelah pernyataan keras disampaikan oleh tokoh penting Dewan Penentu Kebijakan Iran, Mohsen Rezaei. Dalam pernyataannya, Rezaei memperingatkan bahwa Washington akan menghadapi konsekuensi serius apabila terus meningkatkan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, (24/3/2026).
Ia bahkan melontarkan ancaman tegas bahwa Amerika Serikat bisa “tenggelam di Teluk” jika langkah-langkah provokatif terus dilakukan. Pernyataan tersebut merujuk pada meningkatnya aktivitas militer dan tekanan politik yang dinilai Teheran sebagai bentuk agresi langsung terhadap kedaulatan Iran.
Rezaei juga menanggapi pernyataan Presiden Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan menargetkan infrastruktur listrik Iran. Ia menegaskan bahwa ancaman tersebut tidak akan dibiarkan tanpa balasan. Bahkan, ia menyebut respons Iran akan bersifat keras dan setimpal—diibaratkan sebagai “kepala ganti mata,” sebuah ungkapan yang menandakan pembalasan lebih dari sekadar seimbang.
Lebih lanjut, Rezaei menyatakan bahwa konflik tidak akan berhenti kecuali tiga syarat utama dipenuhi oleh pihak Amerika Serikat, yakni pembayaran ganti rugi penuh atas kerugian yang ditimbulkan, pencabutan seluruh sanksi ekonomi terhadap Iran, serta adanya jaminan hukum internasional yang mengikat untuk mencegah intervensi AS di masa depan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya menuntut penghentian konflik, tetapi juga perubahan mendasar dalam hubungan bilateral kedua negara.
Di sisi lain, ketegangan juga meningkat menyusul serangan terhadap ladang gas strategis Pars. Menariknya, baik Presiden Trump maupun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah keterlibatan dalam insiden tersebut. Rezaei menilai bantahan itu membuka kemungkinan adanya perbedaan kepentingan antara Amerika Serikat dan Israel, yang berpotensi memicu keretakan hubungan di antara kedua sekutu tersebut.
Sebelumnya, pernyataan penting juga disampaikan oleh Mayor Jenderal Ali Abdollahi dari Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya. Ia mengungkapkan bahwa angkatan bersenjata Iran kini telah beralih dari strategi defensif ke pendekatan ofensif. Pergeseran doktrin ini menandai fase baru dalam strategi militer Iran, di mana negara tersebut siap mengambil inisiatif dalam menghadapi ancaman eksternal.
Abdollahi menambahkan bahwa Iran telah mengembangkan berbagai taktik dan sistem persenjataan baru secara mandiri. Teknologi militer dalam negeri tersebut diyakini mampu mengubah keseimbangan kekuatan di medan perang. Ia juga menekankan bahwa kekuatan Iran tidak hanya terletak pada militernya, tetapi juga pada solidaritas antara negara dan rakyatnya, yang disebut sebagai faktor kunci dalam menghadapi tekanan asing.
Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah masih jauh dari kata mereda. Ancaman pembalasan langsung dari Iran semakin memperbesar potensi terjadinya konfrontasi terbuka yang dapat berdampak luas, tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga stabilitas global, khususnya di sektor energi dan keamanan internasional.
Dengan retorika yang semakin tajam dari kedua belah pihak, dunia kini menanti apakah jalur diplomasi masih dapat menjadi solusi, atau justru konflik akan terus berlanjut menuju eskalasi yang lebih berbahaya.(**)










