Aceh Besar – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keislaman. Salah satu langkah strategis yang kini menjadi perhatian adalah program Beut Kitab Bak Sikula, sebuah inisiatif yang mengintegrasikan pembelajaran kitab-kitab klasik ke dalam aktivitas pendidikan di sekolah.
Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh Besar, Rusdi S.Sos., M.Si, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan tambahan di lingkungan sekolah, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. Menurutnya, pendidikan agama yang kuat sejak dini akan membentuk karakter generasi muda yang berakhlak mulia dan memiliki landasan moral yang kokoh.
Program ini merupakan gagasan dari Bupati Aceh Besar, Muharram Idris yang akrab disapa Syech Muharram, bersama Wakil Bupati Syukri A. Jalil. Keduanya dinilai memiliki visi besar dalam membangun sumber daya manusia berbasis nilai-nilai keislaman yang kuat, sejalan dengan penerapan syariat Islam di Aceh.
Rusdi menjelaskan, melalui program Beut Kitab Bak Sikula, para siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang ajaran Islam, tidak hanya dari sisi teori, tetapi juga praktik dalam kehidupan sehari-hari. Kitab-kitab klasik yang diajarkan menjadi sarana untuk menggali nilai-nilai moral, etika, serta pemahaman keagamaan yang komprehensif.
“Ini bukan hanya tentang belajar membaca kitab, tetapi bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bisa membentuk kepribadian siswa,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai bahwa integrasi pendidikan agama dalam sistem sekolah formal merupakan langkah tepat di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Di era modern, generasi muda tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki filter moral yang kuat agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam memperkuat implementasi syariat Islam di sektor pendidikan. Dengan menghadirkan kegiatan beut kitab secara terstruktur di sekolah, diharapkan terjadi keseimbangan antara pendidikan umum dan pendidikan agama.
Rusdi turut mengapresiasi kepemimpinan daerah yang dinilainya berani mengambil langkah konkret dalam membangun generasi unggul yang berdaya saing, tanpa meninggalkan identitas keislaman. Ia menyebut, kebijakan ini menjadi bukti nyata bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berfokus pada aspek duniawi, tetapi juga spiritual.
Untuk memastikan program berjalan optimal, DSI Aceh Besar akan terus melakukan pembinaan serta pengawasan di seluruh satuan pendidikan. Pendampingan ini penting agar implementasi program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi siswa.
Dengan adanya program ini, harapan besar disematkan kepada generasi muda Aceh Besar agar tumbuh menjadi pribadi yang seimbang—cerdas, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.(**)






