Timteng – Isu upaya memecah belah umat Islam melalui perbedaan mazhab kembali menjadi sorotan di tengah dinamika geopolitik global. Narasi yang menyebut adanya campur tangan kekuatan asing, termasuk Amerika Serikat dan kepentingan Israel, dalam memperuncing perbedaan antara Sunni dan Syiah ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial.
Sejumlah kalangan menilai bahwa konflik berbasis identitas keagamaan kerap dimanfaatkan sebagai alat politik untuk melemahkan persatuan negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Isu ini bukan hal baru, mengingat sejarah panjang konflik di beberapa kawasan Timur Tengah yang seringkali melibatkan sentimen sektarian.
Pengamat hubungan internasional menyebutkan bahwa dalam banyak kasus, konflik yang tampak sebagai pertentangan internal agama sebenarnya memiliki dimensi politik dan kepentingan strategis yang lebih luas. Polarisasi antara kelompok Sunni dan Syiah, misalnya, pernah menjadi faktor dalam konflik di beberapa negara seperti Irak dan Suriah, yang kemudian menarik campur tangan berbagai kekuatan global.
Namun demikian, para tokoh agama dan cendekiawan Muslim menekankan pentingnya sikap kritis dan bijak dalam menyikapi informasi yang beredar. Mereka mengingatkan bahwa tidak semua narasi yang berkembang memiliki dasar fakta yang kuat, dan sebagian bisa jadi merupakan disinformasi yang justru memperkeruh suasana.
“Perbedaan mazhab adalah bagian dari khazanah keilmuan Islam yang sudah ada sejak lama. Yang berbahaya adalah ketika perbedaan itu dipolitisasi dan digunakan untuk memecah belah,” ujar salah satu akademisi.
Di Indonesia sendiri, yang dikenal dengan keberagaman dan toleransi antarumat beragama, pemerintah dan tokoh masyarakat terus mengimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu sensitif. Persatuan dan stabilitas sosial dinilai sebagai kunci utama dalam menjaga ketahanan nasional.
Media sosial menjadi salah satu kanal utama penyebaran narasi provokatif. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi, serta mengedepankan prinsip tabayyun atau verifikasi sebelum mempercayai suatu kabar.
Di tengah situasi global yang terus berubah, menjaga persatuan umat menjadi tanggung jawab bersama. Perbedaan yang ada seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan justru dijadikan celah untuk konflik.(**)








