Takbir Idulfitri di Al-Aqsa Sepi, Dunia Tersentak

Internasional19 Dilihat

Palestina – Suasana Idulfitri yang biasanya dipenuhi gema takbir dan lautan jamaah di Masjid Al-Aqsa tahun ini berubah drastis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, lantunan takbir di salah satu situs paling suci dalam Islam tersebut terdengar hampa, tanpa kehadiran jamaah dalam jumlah signifikan, Jum’at, 20/3/26.

Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya pembatasan akses yang diberlakukan oleh otoritas Israel di kawasan Yerusalem. Sejak beberapa waktu terakhir, kompleks Al-Aqsa dilaporkan terus berada dalam pengepungan ketat, dengan pembatasan masuk bagi warga Palestina, khususnya pada momentum penting keagamaan seperti bulan suci Ramadan hingga perayaan Idulfitri.

Masjid Al-Aqsa bukan sekadar tempat ibadah biasa. Ia merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Masjidil Haram, sekaligus situs suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Setiap tahunnya, jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berupaya mengunjunginya, terutama saat momen-momen besar keagamaan.

Namun tahun ini, suasana berbeda terasa. Pelataran yang biasanya dipenuhi saf-saf shalat Idulfitri tampak lengang. Takbir yang biasanya menggema kuat dari ribuan suara kini terdengar lirih, menggambarkan kesedihan mendalam umat Islam atas kondisi yang terjadi.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pembatasan ketat, penutupan akses, serta kehadiran aparat keamanan dalam jumlah besar menjadi faktor utama berkurangnya jamaah. Banyak warga Palestina tidak diizinkan memasuki kawasan Al-Aqsa, bahkan untuk melaksanakan ibadah di hari kemenangan tersebut.

Situasi ini memicu keprihatinan luas dari berbagai kalangan di dunia internasional. Banyak pihak menilai bahwa pembatasan terhadap kebebasan beribadah di situs suci merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan kebebasan beragama. Namun hingga kini, respons global dinilai belum cukup kuat untuk menghentikan kondisi tersebut.

Di tengah keterbatasan, sebagian kecil jamaah yang berhasil masuk tetap melaksanakan takbir dan salat Idulfitri dengan penuh kekhusyukan. Mereka menjadikan momen tersebut sebagai simbol keteguhan iman dan perlawanan damai, meskipun dalam kondisi yang serba terbatas.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik berkepanjangan di wilayah Palestina tidak hanya berdampak pada aspek politik dan kemanusiaan, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual umat Islam di seluruh dunia. Al-Aqsa, yang selama ini menjadi simbol persatuan dan harapan, kini menjadi saksi bisu dari keterbatasan dan penderitaan yang belum berakhir.

Bagi umat Muslim, Idulfitri adalah momen kemenangan, kebahagiaan, dan kebersamaan. Namun di Al-Aqsa tahun ini, hari raya justru diwarnai kesunyian, menghadirkan duka yang mendalam sekaligus seruan diam kepada dunia untuk tidak lagi menutup mata terhadap apa yang terjadi.(**)