Sinabang – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah tenggara Kota Sinabang, Kabupaten Kepulauan Simeulue, Aceh, pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 13.05 WIB. Getaran gempa sempat dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah sekitar, meskipun hingga saat ini belum dilaporkan adanya kerusakan bangunan maupun korban jiwa.
Berdasarkan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut terjadi pada koordinat 1,90 derajat Lintang Utara dan 96,40 derajat Bujur Timur. Pusat gempa berada di laut dengan jarak sekitar 63 kilometer di tenggara Kota Sinabang, ibu kota Kabupaten Kepulauan Simeulue.
BMKG juga menyebutkan bahwa gempa terjadi pada kedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut. Kedalaman yang relatif dangkal ini membuat getaran gempa dapat dirasakan di beberapa wilayah sekitar pusat gempa, terutama di daerah pesisir dan permukiman warga di Pulau Simeulue.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan belum ada laporan resmi mengenai dampak kerusakan maupun korban akibat peristiwa tersebut. Aparat pemerintah daerah bersama instansi terkait masih terus melakukan pemantauan serta mengumpulkan informasi dari masyarakat di berbagai wilayah di Kabupaten Kepulauan Simeulue.
Sejumlah warga di Kota Sinabang mengaku sempat merasakan getaran gempa selama beberapa detik. Getaran tersebut membuat sebagian masyarakat keluar dari rumah untuk memastikan kondisi lingkungan sekitar tetap aman. Namun situasi secara umum dilaporkan tetap kondusif dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal setelah gempa mereda.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Masyarakat juga diminta untuk selalu mengikuti perkembangan informasi resmi yang disampaikan melalui kanal komunikasi resmi BMKG maupun pemerintah daerah setempat.
Selain itu, masyarakat diingatkan agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi yang beredar di media sosial. Informasi awal mengenai gempa bumi biasanya bersifat sementara dan dapat berubah setelah dilakukan analisis lebih lanjut oleh BMKG.
Wilayah Aceh sendiri dikenal sebagai daerah yang memiliki aktivitas kegempaan cukup tinggi karena berada di zona pertemuan lempeng tektonik besar dunia. Kondisi ini membuat wilayah tersebut rentan terhadap gempa bumi, baik yang terjadi di darat maupun di laut.
Karena itu, edukasi mengenai kesiapsiagaan bencana terus digalakkan oleh pemerintah dan berbagai lembaga terkait agar masyarakat dapat memahami langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi, sehingga potensi risiko dapat diminimalkan.
Hingga saat ini, BMKG memastikan gempa yang terjadi di tenggara Sinabang tersebut tidak berpotensi tsunami. Namun pemantauan terhadap aktivitas seismik di wilayah tersebut tetap dilakukan secara intensif guna memastikan perkembangan kondisi di lapangan.(**)










