BANDA ACEH – Semangat memperkuat pendidikan Islam di Aceh kembali mengemuka dalam sebuah pertemuan penuh keakraban antara pemerhati kebijakan publik Aceh, Drs. M. Isa Alima, dengan Pelaksana Harian Kepala Badan Pendidikan Dayah Aceh, Abi Muksin, Kamis (5/3/2026) di Banda Aceh.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna tersebut menjadi ruang dialog yang membahas masa depan pendidikan dayah di Aceh. Di tengah tumpukan dokumen program dan berbagai bahan kebijakan di ruang kerja Badan Pendidikan Dayah, keduanya berbincang panjang mengenai berbagai upaya strategis untuk memperkuat peran dayah sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah lama menjadi bagian penting dalam sejarah dan kehidupan masyarakat Aceh.
Sebagai pemerhati kebijakan publik sekaligus mantan anggota DPRK Pidie, Isa Alima menilai bahwa pendidikan dayah memiliki posisi yang sangat vital dalam menjaga identitas Aceh sebagai daerah yang kuat dengan nilai-nilai keislaman, budaya, dan kearifan lokal.
Menurutnya, dayah tidak hanya berfungsi sebagai tempat mempelajari ilmu agama, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter dan akhlak generasi muda.
“Dayah bukan sekadar tempat belajar kitab atau ilmu agama. Dayah adalah tempat lahirnya karakter, tempat ditempanya akhlak, dan tempat tumbuhnya generasi yang memahami ilmu sekaligus tanggung jawab sosial dalam kehidupan masyarakat,” ujar Isa Alima.
Ia menambahkan, di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, pendidikan dayah justru semakin penting sebagai benteng moral bagi masyarakat. Dayah dinilai mampu menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, keimanan, serta nilai-nilai adab yang menjadi fondasi utama kehidupan sosial.
Isa Alima juga menekankan bahwa penguatan sistem pendidikan dayah perlu terus dilakukan agar lembaga tersebut mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
“Perubahan zaman tidak bisa dihindari. Karena itu, dayah harus terus berkembang dengan tetap mempertahankan nilai-nilai klasik yang menjadi kekuatannya. Justru dari perpaduan antara tradisi keilmuan dan inovasi pendidikan, dayah akan semakin kuat menghadapi masa depan,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Badan Pendidikan Dayah Aceh, Abi Muksin, menyambut baik silaturahmi tersebut. Ia menilai dialog dengan berbagai kalangan, termasuk pemerhati kebijakan publik, sangat penting untuk memperkaya perspektif dalam merumuskan kebijakan yang lebih baik bagi perkembangan pendidikan dayah.
Menurut Abi Muksin, Pemerintah Aceh melalui Badan Pendidikan Dayah terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dayah melalui berbagai program strategis. Program tersebut meliputi peningkatan kualitas tenaga pengajar, penguatan kurikulum pendidikan, hingga pengembangan sarana dan prasarana dayah di berbagai daerah di Aceh.
“Dayah memiliki peran yang sangat besar dalam sejarah Aceh. Dari dayah lahir banyak ulama, pemimpin, dan tokoh masyarakat yang membimbing umat dengan ilmu dan kebijaksanaan,” ujar Abi Muksin.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah Aceh untuk terus mendukung kemajuan pendidikan dayah agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang menjadi ciri khasnya.
Dalam diskusi tersebut, keduanya juga menyinggung pentingnya sinergi antara pemerintah, ulama, akademisi, serta masyarakat dalam memajukan pendidikan dayah. Kolaborasi berbagai pihak dinilai menjadi kunci utama agar pembangunan pendidikan di Aceh dapat berjalan secara berkelanjutan.
Isa Alima menilai bahwa keberhasilan pembangunan pendidikan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah semata, tetapi juga memerlukan dukungan aktif dari seluruh elemen masyarakat.
“Ketika dayah kuat, masyarakat juga akan kuat. Pendidikan yang menanamkan akhlak sekaligus ilmu pengetahuan akan menjadi fondasi utama bagi masa depan Aceh,” katanya.
Pertemuan tersebut juga menjadi momentum refleksi bersama bahwa pendidikan dayah harus terus berkembang mengikuti kebutuhan generasi muda, namun tetap menjaga ruh keilmuan yang telah diwariskan oleh para ulama sejak berabad-abad lalu.
Di tengah proses modernisasi pendidikan, dayah diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai klasik dengan pendekatan pendidikan yang lebih adaptif, sehingga tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Menutup pertemuan tersebut, Isa Alima menegaskan bahwa Aceh memiliki sejarah panjang dalam tradisi pendidikan dayah yang tidak dimiliki oleh banyak daerah lain.
“Dayah adalah cahaya yang sejak lama menerangi Aceh. Ia tidak boleh redup oleh perubahan zaman, tetapi justru harus semakin terang agar generasi Aceh tetap memiliki arah dalam perjalanan sejarahnya,” ujarnya.
Silaturahmi tersebut diakhiri dengan harapan bersama agar pendidikan dayah di Aceh terus berkembang dan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam nilai moral dan spiritual.
Di tengah dinamika perubahan zaman, dayah tetap dipandang sebagai pilar penting dalam menjaga identitas Aceh. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga rumah nilai-nilai, tempat lahirnya ulama, serta sumber kebijaksanaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Selama dayah tetap hidup dan berkembang, harapan akan masa depan Aceh yang berlandaskan ilmu, adab, dan kebijaksanaan diyakini akan terus menyala.(**)






