Banda Aceh Perkuat Pengendalian Inflasi dan Digitalisasi Pembayaran Di Bulan Ramadhan

Ekonomi4 Dilihat

Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mendorong percepatan digitalisasi transaksi keuangan menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Kamis, 26 Februari 20126.

Pertemuan strategis ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dan dihadiri unsur Forkopimda, instansi pemerintah, serta mitra strategis lainnya.

Dalam arahannya, Illiza menegaskan bahwa stabilitas harga pangan merupakan salah satu faktor utama dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri.

“Penguatan koordinasi lintas sektor menjadi langkah penting agar inflasi tetap terkendali. Di saat yang sama, digitalisasi transaksi juga harus terus diperluas untuk mendukung tata kelola pemerintahan yang transparan dan modern,” ujarnya.

Strategi 4K Kendalikan Inflasi

Dalam pertemuan tersebut, disepakati strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Pada aspek keterjangkauan harga, pemerintah akan mengoptimalkan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah, serta program stabilisasi pasokan dan harga pangan. Pengawasan stok dan harga komoditas strategis juga akan dilakukan secara berkala.

Untuk menjaga ketersediaan pasokan, Pemko Banda Aceh bersama instansi terkait akan memperkuat kerja sama antar daerah serta mendorong program urban farming, seperti penanaman cabai di pekarangan rumah.

Sementara itu, kelancaran distribusi pangan dilakukan melalui fasilitasi distribusi yang terukur dan tepat sasaran dengan melibatkan pelaku usaha. Sedangkan komunikasi efektif dilakukan melalui edukasi belanja bijak serta pemanfaatan sistem peringatan dini inflasi berbasis data.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia selama ini terbukti mampu menahan laju inflasi.

“Operasi pasar dan distribusi pangan yang tepat sasaran sangat membantu menjaga stabilitas harga. Kami juga mengimbau masyarakat agar berbelanja sesuai kebutuhan dan memanfaatkan alternatif bahan pangan yang lebih stabil,” jelasnya.

Edukasi Belanja Bijak dan Digitalisasi Transaksi

Bank Indonesia juga mendorong penerapan pola konsumsi bijak melalui empat langkah utama, yaitu membeli sesuai kebutuhan, memilih produk pangan lokal, mengurangi pemborosan makanan, serta memanfaatkan transaksi digital melalui QRIS.

Dalam konteks digitalisasi daerah, TP2DD Kota Banda Aceh terus mengoptimalkan pembayaran pajak dan retribusi secara non-tunai. Penggunaan QRIS untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta retribusi daerah dinilai mampu meningkatkan efisiensi layanan publik sekaligus mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Illiza menambahkan bahwa digitalisasi pembayaran bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagian dari reformasi sistem pelayanan publik.

“Transaksi non-tunai akan mempercepat pelayanan, meningkatkan transparansi, dan memperkuat akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah,” katanya.

Layanan Penukaran Uang Ramadan

Selain pengendalian inflasi dan digitalisasi pembayaran, Bank Indonesia Aceh juga menghadirkan program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026 untuk memenuhi kebutuhan uang tunai masyarakat.

Program penukaran uang ini dilaksanakan dalam dua periode di sejumlah titik layanan perbankan di Aceh. Khusus pada 9–13 Maret 2026, layanan penukaran akan dipusatkan di Taman Seni dan Budaya Aceh.

Masyarakat dapat melakukan pemesanan penukaran uang melalui sistem digital guna memastikan layanan berjalan tertib dan terjadwal.

Bank Indonesia juga mengingatkan masyarakat agar melakukan penukaran uang melalui jalur resmi untuk menghindari risiko peredaran uang palsu maupun praktik penipuan.

Dengan sinergi kuat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan, Kota Banda Aceh optimistis mampu menjaga stabilitas harga pangan sekaligus mempercepat transformasi digital di sektor transaksi keuangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *