ACEH – Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Bagi generasi yang tumbuh pada era 1970-an hingga 1990-an, kenangan tentang salat tarawih di surau kecil, meunasah, atau masjid sederhana menjadi bagian yang sulit dilupakan. Bangunan yang mungkin hanya berdinding papan, berlantai semen kasar, atau bahkan masih beralaskan tikar pandan, justru menyimpan cerita kebersamaan yang begitu kuat.
Pada masa itu, fasilitas belum semewah sekarang. Pengeras suara seringkali terbatas, lampu penerangan tidak terlalu terang, dan kipas angin pun tidak selalu tersedia. Namun, semangat masyarakat untuk memakmurkan tempat ibadah sangat luar biasa. Anak-anak berjalan kaki berkelompok selepas berbuka, membawa sarung dan peci, sementara para orang tua datang lebih awal untuk menyiapkan saf dan memastikan lampu-lampu tetap menyala.
Tarawih bukan sekadar ibadah rutin, tetapi juga menjadi ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Setelah salat, anak-anak biasanya berkumpul di halaman meunasah, bercengkerama, atau menikmati kue sederhana yang dibawa jamaah secara bergiliran. Tradisi membawa hidangan berbuka atau makanan ringan setelah tarawih menjadi simbol kebersamaan yang lahir dari ketulusan.
Imam tarawih pada masa itu juga memiliki ciri khas tersendiri. Bacaan yang panjang membuat jamaah benar-benar merasakan kekhusyukan Ramadan. Meski sebagian anak-anak terkadang mengantuk, suasana religius tetap melekat dalam ingatan hingga kini. Tidak jarang, suara lantunan ayat suci yang menggema di malam hari menjadi pengingat kuat tentang kedamaian kampung halaman.
Kini, waktu telah berjalan puluhan tahun. Banyak dari mereka yang dahulu masih anak-anak sudah memasuki usia 40, 50, bahkan 60 tahun. Sebagian mungkin telah merantau, sebagian lainnya tetap tinggal di kampung halaman, dan ada pula yang telah lebih dahulu berpulang. Namun, kenangan tarawih di tempat sederhana itu tetap hidup sebagai bagian dari perjalanan spiritual dan sosial yang membentuk karakter generasi tersebut.
Perubahan zaman membawa kemajuan fasilitas tempat ibadah. Masjid kini lebih megah, nyaman, dan dilengkapi teknologi modern. Meski demikian, nilai kebersamaan yang dulu terasa begitu hangat menjadi refleksi penting agar semangat Ramadan tidak hanya berhenti pada kemegahan fisik, tetapi juga pada kedekatan antarjamaah.
Kenangan tarawih tempo dulu mengajarkan bahwa kekuatan ibadah bukan terletak pada fasilitas semata, melainkan pada niat, kebersamaan, dan keikhlasan. Semoga generasi yang pernah merasakan suasana Ramadan pada era 70-an, 80-an, hingga 90-an senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang, serta dapat terus menularkan nilai kebersamaan itu kepada generasi masa kini.(**)






