Banda Aceh – Menjelang memasuki Masa Persiapan Pensiun (MPP), Kapolda Aceh Marzuki Alibasyah dinilai berhasil menorehkan jejak pengabdian yang kuat melalui kepemimpinan yang humanis, responsif, dan dekat dengan masyarakat. Selama hampir enam bulan memimpin Polda Aceh, berbagai langkah nyata dilakukan terutama dalam penanganan bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Sejak dilantik pada Agustus 2025, Marzuki menunjukkan gaya kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada administrasi, tetapi juga aksi langsung di lapangan. Hal tersebut terlihat saat bencana banjir dan longsor melanda beberapa daerah pada akhir November 2025. Dalam situasi darurat tersebut, ia turun langsung memastikan kehadiran polisi benar-benar dirasakan masyarakat.
Salah satu program yang mendapat apresiasi luas adalah inisiatif pemanfaatan lahan pascabencana di Pidie Jaya. Bersama jajaran, Marzuki mendorong penanaman tanaman produktif di lahan berlumpur akibat banjir. Program ini tidak hanya bertujuan memulihkan kondisi lingkungan, tetapi juga membantu menggerakkan kembali perekonomian warga terdampak.
Selain fokus pada pemulihan ekonomi masyarakat, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan juga menjadi perhatian. Penanaman mangrove digalakkan di kawasan pesisir Aceh Besar, khususnya di wilayah Krueng Raya, sebagai langkah mitigasi abrasi sekaligus perlindungan ekosistem pantai.
Aksi kepemimpinan yang paling menyita perhatian publik terjadi saat banjir besar mengisolasi sejumlah wilayah di Aceh Tamiang. Dalam kondisi akses darat yang terputus, Marzuki menempuh perjalanan panjang menggunakan perahu dan berjalan kaki hampir sehari penuh melintasi Aceh Utara, Aceh Timur, hingga Langsa untuk memastikan langsung kondisi personel dan masyarakat.
Di lokasi terdampak, ia meninjau kantor kepolisian yang rusak berat akibat terjangan air bercampur lumpur. Dalam situasi serba terbatas, distribusi bantuan darurat seperti beras, minyak goreng, mi instan, dan air mineral dilakukan melalui jalur udara menggunakan helikopter.
Dalam berbagai kesempatan, Marzuki menyebut kondisi Aceh Tamiang sebagai wilayah dengan dampak paling berat dibandingkan daerah lain yang terdampak bencana saat itu. Respons cepat tersebut memperlihatkan komitmennya dalam memastikan kehadiran negara melalui institusi kepolisian di tengah masyarakat.
Putra kelahiran Tangse ini merupakan lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1991. Kariernya dikenal matang di bidang sumber daya manusia dan pengawasan internal. Sebelum menjabat Kapolda Aceh, ia pernah dipercaya mengemban tugas strategis di Bareskrim Polri serta memimpin Badan Narkotika Nasional di tingkat provinsi.
Marzuki resmi menyandang pangkat Inspektur Jenderal Polisi pada September 2025. Di internal kepolisian, ia dikenal sebagai sosok yang tegas namun mengedepankan pendekatan humanis dalam membangun komunikasi dengan masyarakat dan ulama.
Meski masa tugasnya sebagai Kapolda Aceh dikabarkan segera berakhir karena memasuki MPP, banyak kalangan menilai ia telah meninggalkan citra positif bagi institusi kepolisian di Tanah Rencong. Program “Polda Aceh Meusyuhu” atau bersinar yang digaungkan selama kepemimpinannya dianggap bukan sekadar slogan, tetapi tercermin dari kerja nyata di lapangan serta kepedulian sosial terhadap masyarakat.
Pergantian kepemimpinan di Polda Aceh nantinya sepenuhnya menjadi kewenangan pimpinan Polri. Namun, dedikasi Marzuki selama bertugas dinilai telah memberi warna tersendiri dalam perjalanan pengabdian kepolisian di Aceh.(**)






