Teheran — Iran kembali mengirim sinyal keras kepada dunia internasional dengan mengumumkan bahwa pasukannya telah mempertahankan “kendali penuh” atas daratan, perairan, dan wilayah udara Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat (AS), yang disebut-sebut berada di ambang konflik terbuka.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Wilayah ini menjadi pintu utama distribusi minyak global, di mana jutaan barel minyak mentah dari negara-negara Teluk melintasi jalur sempit tersebut setiap harinya. Karena posisinya yang vital, setiap perkembangan keamanan di kawasan ini selalu menjadi perhatian besar dunia internasional.
Pengumuman Iran tersebut disampaikan oleh Brigadir Jenderal Mohammad Akbarzadeh, salah satu komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam keterangannya yang dikutip kantor berita Fars News pada Kamis (29/1/2026), Akbarzadeh menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, namun siap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.
“Iran tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap,” ujar Akbarzadeh.
Ia menambahkan bahwa jika konflik benar-benar pecah, Iran tidak akan mundur sedikit pun. Menurutnya, Iran akan terus melangkah maju dalam mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya.
“Jika perang pecah, tidak akan ada mundur, bahkan satu milimeter pun, dan Iran akan terus maju,” tegasnya.
Pernyataan keras ini dinilai sebagai respons atas meningkatnya tekanan dan ancaman dari Amerika Serikat, yang dalam beberapa pekan terakhir memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut memperburuk hubungan kedua negara yang selama bertahun-tahun sudah diwarnai ketegangan terkait isu nuklir, sanksi ekonomi, serta konflik kepentingan di wilayah Teluk.
Para pengamat internasional menilai klaim Iran tentang “kendali penuh” atas Selat Hormuz bukan hanya pesan militer, tetapi juga strategi politik untuk memperkuat posisi tawar Iran dalam menghadapi Washington dan sekutunya.
Selat Hormuz sendiri kerap menjadi titik panas dalam rivalitas Iran-AS. Setiap ancaman gangguan di jalur ini berpotensi mengguncang pasar energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak secara global.
Meski demikian, Iran bersikeras bahwa langkah-langkah militernya bersifat defensif dan ditujukan untuk menjaga stabilitas kawasan dari intervensi asing.
Dengan situasi yang semakin memanas, dunia kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan di Selat Hormuz. Banyak pihak berharap diplomasi masih dapat menjadi jalan keluar untuk mencegah pecahnya perang yang dikhawatirkan dapat membawa dampak luas bagi keamanan dan perekonomian global.(**)






