Banda Aceh — Suasana penuh haru, khidmat, dan sarat makna mewarnai prosesi adat Manoe Pucok yang digelar oleh Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, di kediaman pribadinya, Rabu, 14 Januari 2026.
Tradisi sakral masyarakat Aceh ini menjadi momen penting bagi keluarga besar Illiza sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus simbol keikhlasan orang tua dalam melepas putri tercinta, Ade Nazirah, menuju babak baru kehidupan rumah tangga.
Prosesi Manoe Pucok berlangsung dalam nuansa kekeluargaan yang hangat, diiringi doa-doa tulus, lantunan nasihat, serta kebersamaan sanak saudara dan kerabat dekat. Tradisi ini bukan sekadar ritual adat, melainkan sarat dengan nilai spiritual, moral, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Aceh.
Dalam suasana yang penuh emosi, Illiza Sa’aduddin Djamal mengungkapkan rasa syukur dan keharuan sebagai seorang ibu. Ia menyebut Manoe Pucok sebagai momen reflektif bagi orang tua untuk belajar mengikhlaskan, sekaligus menyerahkan masa depan anak kepada Allah SWT.
“Alhamdulillah, Manoe Pucok menjadi momen kami sebagai orang tua untuk belajar mengikhlaskan anak gadis tercinta melangkah ke kehidupan barunya. Diiringi doa, nasihat, dan kebersamaan keluarga, semoga ananda Ade Nazirah menapaki rumah tangga dengan hati yang bersih dan bahagia,” ungkap Illiza dengan suara bergetar penuh rasa syukur.
Prosesi Manoe Pucok sendiri melambangkan penyucian diri calon pengantin perempuan, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki kehidupan berumah tangga. Air yang digunakan dalam prosesi tersebut biasanya telah didoakan dan dicampur dengan berbagai bunga sebagai simbol kesucian, ketenangan, serta harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Para tetua adat dan keluarga yang hadir turut menyampaikan nasihat kehidupan, doa keselamatan, serta harapan agar Ade Nazirah kelak menjadi istri yang salihah, ibu yang penuh kasih, dan mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Kehadiran keluarga besar dan kerabat dekat menambah kekhidmatan acara, sekaligus mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dalam adat dan budaya Aceh. Manoe Pucok tidak hanya menjadi simbol peralihan fase kehidupan seorang anak, tetapi juga pengikat emosional antara orang tua, anak, dan keluarga besar.
Momen ini pun mendapat perhatian dan doa dari banyak pihak, yang turut merasakan ketulusan dan kehangatan dalam prosesi tersebut. Tradisi Manoe Pucok yang digelar oleh Illiza Sa’aduddin Djamal menjadi pengingat akan pentingnya menjaga adat, budaya, serta nilai-nilai luhur dalam setiap tahapan kehidupan, khususnya dalam membangun keluarga.
Dengan penuh doa dan harapan, keluarga besar Illiza Sa’aduddin Djamal melepas Ade Nazirah menuju kehidupan barunya, seraya memohon ridha Allah SWT agar setiap langkah yang ditempuh senantiasa dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan.(**)






