ACEH – Aceh belum benar-benar bangkit dari bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayahnya. Hingga hari ini, pemulihan baru menyentuh sekitar lima persen, sementara 95 persen lainnya masih berkutat dengan kehancuran, kehilangan, dan trauma yang mendalam. Di balik angka-angka itu, ada ribuan kisah pilu warga yang hidupnya terhenti sejak bencana datang tanpa ampun.
Banjir bandang yang menerjang Aceh beberapa waktu lalu bukan sekadar peristiwa alam biasa. Air bah datang seperti mimpi buruk yang menjadi nyata—menghantam rumah-rumah warga, menghanyutkan harta benda, merusak fasilitas umum, dan memaksa banyak keluarga kehilangan tempat tinggal dalam sekejap. Rumah yang dibangun puluhan tahun lenyap, kenangan keluarga terkubur bersama lumpur dan puing-puing.
Kini, yang tersisa di banyak lokasi terdampak hanyalah tanah berlumpur, sisa-sisa bangunan, dan tatapan kosong para penyintas. Banyak warga tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Tidak ada pintu yang bisa diketuk, tidak ada atap untuk berlindung dari hujan dan panas. Sebagian terpaksa mengungsi ke tenda darurat, menumpang di rumah kerabat, atau bertahan di bangunan seadanya dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Kondisi paling memprihatinkan dirasakan oleh anak-anak dan lansia. Anak-anak harus tidur dalam ketakutan, terbangun oleh hujan atau suara air yang mengalir deras, seolah trauma bencana masih terus menghantui. Sementara itu, para orang tua menjalani hari dengan kecemasan—memikirkan keselamatan keluarga, masa depan anak-anak, serta ketidakpastian kapan kehidupan mereka bisa kembali normal.
Bencana ini tidak hanya merenggut rumah dan harta benda, tetapi juga rasa aman dan harapan. Banyak warga kehilangan mata pencaharian karena lahan pertanian rusak, peralatan usaha hilang, dan akses ekonomi terputus. Di tengah kondisi tersebut, mereka masih harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan pendidikan bagi anak-anak mereka.
Saat sebagian masyarakat di luar daerah bencana telah kembali menjalani aktivitas seperti biasa, Aceh masih terjebak di hari kelam itu. Warga terdampak masih bergelut dengan sisa-sisa kehancuran, mencoba menyusun kembali hidup dari nol. Setiap hari adalah perjuangan—mencari bantuan, membersihkan puing, dan menumbuhkan kembali harapan di tengah keputusasaan.
Proses pemulihan memang telah berjalan, namun tantangannya masih sangat besar. Keterbatasan sarana, cuaca yang belum bersahabat, serta kebutuhan logistik dan hunian yang belum sepenuhnya terpenuhi membuat langkah pemulihan terasa lambat. Banyak warga berharap perhatian dan bantuan dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, serta masyarakat luas terus mengalir hingga Aceh benar-benar bangkit.
Aceh belum pulih. Aceh masih menangis. Suara tangisan itu mungkin tak selalu terdengar, tetapi nyata dalam kehidupan ribuan warga yang berjuang bertahan. Mereka tidak meminta belas kasihan, hanya uluran tangan dan kepedulian agar bisa kembali berdiri.
Jangan lupakan Aceh.
Jangan biarkan mereka berjuang sendirian.(**)






