Lhoksukon – Solidaritas lintas negara ditunjukkan Persatuan Ulama Malaysia (PUM) dengan mengunjungi Dayah Tinggi Islam Samudera Pase atau Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah (STIES) yang berada di Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara. Kunjungan tersebut dilakukan pada Jumat (9/1/2026) sebagai bentuk kepedulian terhadap lembaga pendidikan Islam yang terdampak banjir dan longsor.
Rombongan PUM dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal PUM, Prof. Dr. Mohd Roslan Mohd. Nor. Mereka datang untuk melihat secara langsung kondisi dayah pascabencana sekaligus menyampaikan dukungan moral kepada pimpinan, dosen, santri, serta seluruh civitas akademika Dayah Samudera Pase.
Kehadiran ulama dari Malaysia tersebut disambut hangat oleh pimpinan dayah. Bagi pengelola Dayah Samudera Pase, kunjungan ini menjadi suntikan semangat untuk bangkit kembali setelah musibah banjir dan longsor yang sempat mengganggu aktivitas pendidikan dan kehidupan para santri.
Pimpinan Dayah Samudera Pase, Dr. Tgk. H. Ajidar Matsyah, Lc., MA, menyampaikan bahwa perhatian dan empati yang diberikan PUM sangat berarti, terutama di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung. Menurutnya, kunjungan tersebut menunjukkan kuatnya ikatan ukhuwah Islamiyah antara Aceh dan Malaysia, khususnya di bidang pendidikan dan dakwah.
Dalam rombongan PUM turut hadir Ust. Mohd. Azmi Bin Walang serta Ust. Syahir Husaini Bin Mohd. Roslan. Mereka juga didampingi sejumlah akademisi dari Aceh, yakni dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof. Dr. Inayatillah, M.Ag, Dr. Merduati, MA, serta Dr. Hamdani, M.Ag dari Lhokseumawe.
Selain meninjau langsung dampak banjir dan longsor yang melanda kawasan dayah, rombongan PUM juga menyampaikan pesan penguatan spiritual. Mereka mengajak pimpinan dayah, para santri, dan tenaga pendidik untuk tetap menjaga semangat, bersabar, dan optimistis dalam menjalani proses pemulihan pascabencana.
“Musibah adalah ujian, namun juga menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan kebersamaan. Kami yakin Dayah Samudera Pase akan bangkit dan kembali menjalankan peran strategisnya dalam mencetak generasi Islam yang unggul,” disampaikan dalam pertemuan tersebut.
Sementara itu, Tgk. Ajidar, yang juga menjabat sebagai Presiden Keluarga Alumni Universiti Malaya (KAUM) Aceh, mengaku sangat terharu atas kunjungan rombongan ulama dari Malaysia tersebut. Ia menilai kehadiran PUM bukan sekadar kunjungan formal, melainkan bentuk kepedulian yang tulus terhadap dunia pendidikan Islam di Aceh.
“Kunjungan ini sangat berarti bagi kami. Apalagi rombongan datang langsung dari Malaysia. Sebagai alumni Universiti Malaya, saya merasa sangat terharu dan bersyukur. Semoga Allah SWT membalas seluruh kebaikan dan perhatian yang telah diberikan,” ungkapnya.
Kunjungan PUM ini diharapkan dapat memperkuat hubungan keilmuan dan persaudaraan antara ulama Aceh dan Malaysia, sekaligus menjadi motivasi bagi Dayah Samudera Pase untuk terus bangkit dan melanjutkan perannya sebagai pusat pendidikan Islam pascabencana.(**)






