Aceh Tamiang – Hampir dua bulan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi di lapangan masih jauh dari kata pulih. Hingga kini, warga setempat mengeluhkan minimnya penanganan lanjutan, terutama terkait tumpukan kayu gelondongan dan material sisa bencana yang masih menghambat aktivitas masyarakat.
Kayu-kayu berukuran besar yang terbawa arus banjir masih menumpuk di sejumlah titik permukiman dan lahan warga. Kondisi tersebut bukan hanya mengganggu akses, tetapi juga menghambat upaya pemulihan ekonomi masyarakat. Warga mengaku tidak mampu menangani material kayu tersebut secara mandiri karena ukurannya yang besar dan berat, sehingga tidak mungkin dipindahkan hanya dengan tenaga manusia.
“Sudah mau masuk dua bulan, tapi sampai sekarang masih nihil. Kayu-kayu ini tidak bisa kami angkat sendiri. Kami benar-benar butuh alat berat dan bantuan nyata,” keluh salah seorang warga Tanjung Karang.
Masyarakat menyebut, sejak bencana terjadi, kehidupan sehari-hari mereka sangat terdampak. Banyak rumah yang rusak, lahan pertanian tidak dapat digarap, serta akses jalan lingkungan yang tertutup material kayu dan lumpur. Akibatnya, aktivitas ekonomi warga lumpuh dan penghasilan menurun drastis.
Kekecewaan pun mulai dirasakan warga karena penanganan yang dinilai berjalan lambat. Mereka berharap adanya langkah cepat dan konkret dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk membersihkan sisa material bencana dan mempercepat proses rehabilitasi.
“Sampai kapan musibah ini harus kami rasakan? Sudah hampir dua bulan kami menderita. Kami hanya ingin kehidupan kami kembali normal,” ungkap warga lainnya dengan nada penuh harap.
Selain persoalan material kayu, warga juga mengkhawatirkan dampak lanjutan jika kondisi ini terus dibiarkan. Tumpukan kayu dan sisa banjir berpotensi menimbulkan masalah lingkungan, menjadi sarang penyakit, serta meningkatkan risiko bencana susulan jika hujan kembali turun.
Masyarakat Desa Tanjung Karang berharap pemerintah segera turun tangan secara maksimal, baik melalui pengerahan alat berat, pendampingan teknis, maupun percepatan program rehabilitasi dan rekonstruksi. Warga juga meminta adanya kejelasan jadwal penanganan agar mereka tidak terus berada dalam ketidakpastian.
Di tengah keterbatasan dan penderitaan yang masih dirasakan, warga Aceh Tamiang hanya bisa berharap agar proses pemulihan segera dipercepat. “Cepat pulih Tamiang,” menjadi harapan yang terus disuarakan, agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan layak setelah musibah panjang yang mereka alami.(**)






