Bireuen – Hari pertama masuk sekolah pascabanjir di Aceh diwarnai kisah perjuangan dan semangat luar biasa dari para siswa, orang tua, serta guru di Desa Balee Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Senin (5/1/2026). Meski infrastruktur utama berupa jembatan penghubung belum dapat dilalui akibat dampak banjir, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Sejak pagi hari, puluhan siswa terlihat berbondong-bondong menuju sekolah dengan penuh kehati-hatian. Mereka harus menyeberangi sungai yang membelah desa sebagai satu-satunya akses menuju sekolah. Dalam kondisi tersebut, peran orang tua sangat terasa. Mereka dengan sabar mendampingi anak-anaknya, memastikan keselamatan selama menyeberang sungai demi menuntut ilmu.
Kondisi ini mencerminkan tekad kuat masyarakat setempat untuk tidak membiarkan bencana menghambat masa depan pendidikan anak-anak mereka. Meski sarana dan prasarana masih terbatas pascabanjir, semangat belajar para siswa tetap menyala. Wajah-wajah polos penuh harap tampak jelas, seolah menegaskan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Para guru pun menunjukkan dedikasi yang sama. Mereka tetap hadir di sekolah, siap menyambut siswa dan melanjutkan proses pembelajaran meskipun kondisi belum sepenuhnya pulih. Bagi mereka, kehadiran di sekolah bukan hanya kewajiban, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan.
Warga setempat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat segera mempercepat perbaikan jembatan yang rusak akibat banjir. Infrastruktur yang memadai dinilai sangat penting untuk menjamin keselamatan dan kelancaran aktivitas pendidikan maupun ekonomi masyarakat.
Kisah dari Desa Balee Panah ini menjadi potret nyata ketangguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Di tengah keterbatasan dan tantangan, semangat anak-anak hebat, orang tua, dan guru yang sama hebatnya menjadi inspirasi bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama, apa pun rintangannya.(**)






