Banjir Bandang Sitaro Tewaskan 9 Orang, Akses Listrik dan Telekomunikasi Lumpuh

Breakingnews17 Dilihat

JAKARTA – Bencana banjir bandang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Provinsi Sulawesi Utara, pada Senin (5/1) dini hari sekitar pukul 02.30 Wita. Peristiwa tersebut menimbulkan duka mendalam setelah dilaporkan sedikitnya sembilan orang meninggal dunia, puluhan warga luka-luka, serta ratusan lainnya terpaksa mengungsi akibat terjangan air bercampur lumpur dan bebatuan.

Banjir bandang dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut dalam durasi cukup lama. Tiga kecamatan dilaporkan terdampak cukup parah, masing-masing Kecamatan Siau Timur, Siau Timur Selatan, dan Siau Barat. Luapan air membawa material batu-batuan besar dan lumpur yang menyapu permukiman warga serta menutupi badan jalan.

Berdasarkan visual dan laporan yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kondisi di lokasi terdampak menunjukkan jalanan dipenuhi material longsoran yang meluber hingga ke dalam rumah-rumah warga. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan berat, bahkan ada rumah yang dilaporkan hilang atau hanyut terbawa arus banjir bandang.

Data sementara yang dihimpun oleh Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro mencatat korban jiwa mencapai sembilan orang meninggal dunia. Selain itu, lima warga masih dalam proses pencarian, 17 orang mengalami luka-luka, dan sedikitnya 102 jiwa mengungsi ke Gedung GMIST Bethbara untuk mendapatkan perlindungan dan bantuan darurat.

“Sebanyak lima unit rumah dilaporkan hilang atau hanyut akibat kuatnya arus banjir bandang. Sementara kerugian material lainnya masih terus didata oleh petugas di lapangan,” demikian keterangan BNPB berdasarkan laporan BPBD setempat.

Pada Senin siang, kondisi banjir dilaporkan telah berangsur surut. Namun, dampak bencana masih dirasakan masyarakat, terutama terputusnya jaringan listrik dan telekomunikasi di sejumlah wilayah terdampak. Kondisi ini menyulitkan koordinasi dan memperlambat penyampaian informasi dari lokasi kejadian.

Hingga kini, tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, serta relawan setempat masih terus melakukan upaya evakuasi dan pencarian terhadap lima warga yang dilaporkan hilang. Fokus utama saat ini adalah penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, serta pembersihan material banjir yang menutupi akses jalan.

Dalam proses penanganan darurat, petugas menghadapi sejumlah kendala, salah satunya terkait mobilisasi personel dan logistik. Letak geografis Kabupaten Kepulauan Sitaro yang harus ditempuh melalui jalur laut membuat penyesuaian jadwal penyeberangan kapal menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat distribusi bantuan dan peralatan ke lokasi bencana.

Pemerintah daerah bersama BNPB terus berkoordinasi untuk mempercepat penanganan pascabencana, sekaligus mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi. Warga di daerah rawan banjir dan longsor diminta untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melaporkan kepada pihak berwenang jika terjadi kondisi darurat.

Banjir bandang ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah kepulauan yang memiliki kerentanan tinggi terhadap curah hujan ekstrem.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *