ACEH TAMIANG — Komitmen Pemerintah Aceh dalam memastikan pendidikan tetap berjalan pascabencana kembali ditunjukkan melalui Program Disdik Aceh Seumeugleh Tahap II. Kali ini, aksi gotong royong dipusatkan di SMKS Misra, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan melibatkan jajaran Dinas Pendidikan Aceh, tenaga pendidik, siswa, serta masyarakat setempat.
Yang membedakan kegiatan Seumeugleh Tahap II ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, turun langsung ke lapangan bersama para ASN Disdik Aceh. Kehadiran orang nomor satu di Disdik Aceh tersebut menjadi suntikan semangat tersendiri bagi guru, siswa, dan seluruh peserta gotong royong.
Sejak pagi, lingkungan sekolah tampak dipenuhi aktivitas pembersihan. Ruang kelas, bengkel praktik, halaman sekolah, hingga fasilitas penunjang pendidikan dibersihkan dari sisa lumpur dan material pascabanjir. Murthalamuddin terlihat ikut memantau langsung kondisi sekolah, berdialog dengan pihak sekolah, serta memberi arahan kepada ASN Disdik Aceh yang terlibat dalam kegiatan kemanusiaan tersebut.
Murthalamuddin menegaskan, bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena bencana. Menurutnya, Seumeugleh Sikula bukan sekadar kegiatan gotong royong, tetapi merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat, khususnya dalam memastikan hak anak-anak Aceh untuk tetap mendapatkan pendidikan yang layak.
“Kami hadir langsung untuk memastikan sekolah-sekolah terdampak bisa segera pulih. Anak-anak kita harus kembali ke sekolah dengan aman dan nyaman. Ini tanggung jawab bersama,” ujarnya di sela kegiatan.
SMKS Misra dipilih sebagai lokasi Seumeugleh Tahap II karena perannya yang strategis sebagai sekolah vokasi dalam mencetak sumber daya manusia siap kerja. Kerusakan fasilitas praktik akibat banjir dikhawatirkan dapat mengganggu proses pembelajaran jika tidak segera ditangani.
Kepala SMKS Misra Aceh Tamiang mengapresiasi kehadiran langsung Plt Kadisdik Aceh dan jajaran ASN Disdik Aceh. Ia menyebut dukungan tersebut menjadi motivasi besar bagi pihak sekolah untuk segera bangkit dan menata kembali kegiatan belajar mengajar.
Selain pembersihan, kegiatan Seumeugleh juga diisi dengan pengecekan kondisi sarana prasarana, pendataan kebutuhan sekolah, serta koordinasi untuk langkah pemulihan lanjutan. Disdik Aceh memastikan bahwa pendampingan terhadap sekolah terdampak akan terus dilakukan, tidak hanya secara fisik tetapi juga dari sisi kebijakan dan dukungan pembelajaran.
Melalui momentum ini, Disdik Aceh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendoakan dan mendukung kebangkitan pendidikan Aceh. Dengan semangat gotong royong dan kepedulian bersama, pendidikan Aceh diharapkan bangkit lebih kuat dan berdaya saing.
Program Seumeugleh Sikula menjadi simbol bahwa di tengah keterbatasan, harapan tetap tumbuh. Pendidikan Aceh harus kembali berdiri tegak—demi masa depan generasi yang hebat dan bermartabat.(**)






