PBM SMA di Aceh Utara Tetap Jalan Meski Pascabanjir, Siswa Belajar di Lantai dan Tenda Darurat

Pendidikan14 Dilihat

LHOKSUKON — Aktivitas proses belajar mengajar (PBM) di jenjang SMA dan sederajat di Kabupaten Aceh Utara dipastikan tetap berjalan mulai Senin, 5 Januari 2026, meskipun kondisi sekolah belum sepenuhnya pulih pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025 lalu.

Keputusan ini diambil sebagai bentuk komitmen dunia pendidikan agar hak belajar siswa tidak terhenti terlalu lama, meski harus dihadapkan pada berbagai keterbatasan sarana dan prasarana akibat dampak bencana.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Utara, Muhammad Johan, MPd, mengatakan bahwa dari total 87 SMA dan sekolah sederajat yang ada di Aceh Utara, sebanyak 67 sekolah terdampak langsung banjir. Seluruh sekolah terdampak tersebut akan kembali menggelar PBM pada awal pekan depan, meski dengan kondisi yang jauh dari ideal.

“Dari 67 sekolah yang terdampak, 55 sekolah sudah bisa menggunakan ruang kelas, namun perabot seperti kursi dan meja belum tersedia. Akibatnya, siswa terpaksa mengikuti pembelajaran dengan duduk di lantai,” ujar Muhammad Johan kepada wartawan, Sabtu (3/1/2026).

Ia menjelaskan, banjir bandang yang terjadi sebelumnya tidak hanya merendam ruang kelas, tetapi juga merusak dan menghanyutkan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Banyak perabot sekolah mengalami kerusakan berat sehingga belum dapat digunakan kembali.

Sementara itu, 12 sekolah lainnya masih dalam tahap pembersihan lumpur yang menumpuk di ruang kelas. Untuk memastikan PBM tetap berlangsung, pihak sekolah bersama pemerintah setempat menyiapkan tenda-tenda darurat sebagai ruang belajar sementara bagi para siswa.

“Kami menyadari kondisi ini sangat tidak nyaman, baik bagi siswa maupun guru. Namun demi keberlangsungan pendidikan, pembelajaran tetap kami laksanakan sembari menunggu proses pemulihan sekolah selesai,” tambahnya.

Muhammad Johan juga mengapresiasi berbagai pihak yang telah terlibat dalam upaya pemulihan, mulai dari tenaga pendidik, relawan, hingga instansi pemerintah yang bahu-membahu membersihkan sekolah-sekolah terdampak banjir.

Ia berharap, ke depan akan ada dukungan lebih lanjut, baik berupa bantuan perabot sekolah maupun percepatan rehabilitasi gedung, agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara normal.

“Anak-anak kita memiliki semangat luar biasa untuk tetap belajar meski dalam keterbatasan. Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan mereka mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak secepat mungkin,” pungkasnya.

Dengan dimulainya kembali PBM ini, dunia pendidikan di Aceh Utara perlahan bangkit dari dampak bencana, sekaligus menjadi bukti keteguhan semangat belajar di tengah situasi sulit.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *