ACEH – Hujan deras yang tak kunjung berhenti selama beberapa hari terakhir memicu banjir besar dan tanah longsor di sejumlah wilayah Aceh. Selain merendam permukiman dan memutus akses jalan, bencana ini juga melumpuhkan jaringan komunikasi dan aliran listrik, membuat ribuan warga di perantauan tak bisa terhubung dengan keluarga mereka di kampung halaman.
Bagi banyak warga, ketidakpastian ini menjadi beban psikologis yang begitu berat. Mereka hanya bisa menunggu kabar sambil berharap sanak saudara tetap selamat di tengah kondisi yang belum stabil.
Seperti dilansir detikcom, Salah satunya adalah Putri, warga asal Bener Meriah yang kini berdomisili di luar daerah. Ia mengaku sudah tiga hari tak bisa menghubungi kedua orang tuanya sejak banjir dan longsor menghantam desanya.
“Sudah berulang kali saya mencoba menghubungi keluarga di kampung, tapi semuanya tidak tersambung. Jaringan di sana lumpuh karena listrik padam. Kami sangat cemas memikirkan keadaan orang tua,” ujar Putri, Jumat (28/11/2025).
Putri bercerita bahwa ia sudah mencoba menghubungi kerabat yang tinggal di desa berbeda, namun hasilnya tetap sama. Tidak ada satupun panggilan atau pesan yang berhasil terkirim.
Kondisi serupa juga dialami Dedi, warga asal Lhoksukon, Aceh Utara. Ia terakhir berkomunikasi dengan keluarganya pada Selasa (25/11), ketika banjir baru mulai menggenangi beberapa desa. Namun setelah air semakin meluas dan arus listrik terputus, seluruh jalur komunikasi ikut terhenti.
“Sampai hari ini belum ada kabar. Saya benar-benar tidak tenang memikirkan kondisi orang tua dan keluarga di sana,” kata Dedi dengan nada penuh harap.
Pemadaman listrik terjadi akibat sejumlah tower transmisi PLN roboh diterjang longsor dan banjir. Dampaknya, jaringan seluler di berbagai wilayah ikut kolaps. Banyak desa kini terisolasi tanpa listrik, tanpa sinyal, dan dalam beberapa kasus juga tanpa akses jalan karena jalur utama putus.
Hingga Jumat (28/11/2025), sejumlah daerah masih terendam banjir. Berdasarkan data sementara, sedikitnya 33 orang meninggal dunia akibat bencana ini, sementara belasan lainnya masih dalam proses pencarian. Korban tersebar di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, hingga Aceh Tenggara—dengan jumlah terbanyak berasal dari kawasan dataran tinggi Gayo yang mengalami longsor cukup parah.
Tim SAR, TNI-Polri, relawan, dan pemerintah daerah terus berjibaku melakukan evakuasi serta penyaluran bantuan. Namun akses yang sulit, cuaca yang belum stabil, serta jaringan komunikasi yang lumpuh menjadi tantangan besar dalam proses penanganan bencana.
Harapan masyarakat kini tertuju pada percepatan perbaikan infrastruktur listrik dan telekomunikasi agar kabar dari keluarga di daerah terdampak dapat segera diketahui.(**)






