20 Tahun Damai, Banyak Eks Kombatan GAM di Bireuen Masih Hidup Memprihatinkan: “Seakan Terombang-Ambing di Tengah Laut”

Breakingnews157 Dilihat

Bireuen – Dua dekade setelah perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia, masih banyak mantan kombatan GAM di Kabupaten Bireuen yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Tidak sedikit di antara mereka yang bekerja serabutan, bahkan menjadi pemulung, demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan sebagian kecil eks kombatan yang kini telah hidup berkecukupan. M. Yusuf atau yang akrab disapa Pang Sagop, Panglima Sagoe Cut Manyak, mengungkapkan bahwa banyak rekan seperjuangannya merasa tidak memiliki arah yang jelas pasca-perdamaian.

“Banyak rekan-rekan kita yang setelah pemilu seperti terombang-ambing di tengah laut, sulit menemukan daratan,” ujarnya saat ditemui di Kecamatan Kuta Blang, Bireuen, Sabtu (15/11/2025).

Pang Sagop sendiri kini menggantungkan hidup dengan memetik boh cirih (buah teratai) di rawa Paya Ni. Dari pekerjaan itu ia hanya mampu mengumpulkan sekitar Rp50 ribu per hari jika hasil panen sedang bagus. Ia berharap pemerintah Aceh dan mantan Panglima GAM, H. Muzakkir Manaf (Muallem), dapat merealisasikan dana hibah Rp2 triliun yang telah dijanjikan bagi para eks kombatan.

Nasib serupa dialami Agani Umar atau Toke Gapeuh, mantan kombatan GAM dari kawasan Batee Iliek yang kini menjadi pemulung. Menurutnya, sudah seharusnya para eks kombatan hidup sejahtera setelah 20 tahun menikmati masa damai.

Ia juga menyayangkan adanya sebagian eks kombatan yang “berbelok” setelah masuk ke arena politik sehingga mengabaikan rekan-rekan seperjuangan yang masih berada dalam garis kemiskinan.

Agani menilai, jika seluruh eks kombatan kembali bersatu memberikan dukungan terhadap pasangan Muzakkir Manaf (Muallem) dan Fadhlullah (Dek Fadh) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2025–2030, maka Aceh berpeluang keluar dari status sebagai daerah termiskin di Sumatera.

Selain itu, ia juga menaruh harapan besar terhadap penambahan anggaran untuk Aceh sebesar Rp8 triliun pada tahun depan, yang mana Rp2 triliun direncanakan dialokasikan khusus sebagai dana hibah bagi para eks kombatan GAM. Dukungan ini mencuat setelah Muallem mengumumkan hasil pertemuannya dengan Presiden RI, Prabowo Subianto.

“Semoga program Muallem–Dek Fadh mengenai dana hibah untuk eks kombatan GAM segera dapat direalisasikan. Kami ingin masyarakat Aceh dan seluruh eks kombatan benar-benar merasakan makna dari perdamaian,” pungkas Agani. (adi saleum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *